Close

Jujur dalam Iman

Duski Samad (Dosen UIN Imam Bonjol)

Bohong, pembohongan dan kebohongan yang dianggap oleh sebahagian pihak mudah dan sepertinya sudah masif terjadi di medsos dan kehidupan nyata itu semua adalah pertanda sudah matinya iman. Kabar bohong (hoaks) yang bersileweran, apakah buah rekayasa kekuasaan, tujuan jahat pembohong atau sekedar kebodohan adalah alarm sudah sakratul mautnya iman mereka.

Prihatin dan sedih melihat orang-orang, bergelar dan berjabatan penting di negeri ini di waktu mulia, tengah sedang menjalani puasa, sepertinya tidak ada kejujuran dalam iman mereka. Sulit logika sehat menerima kerusuhan 21-22 Mei 2019 terjadi jika jujur dalam iman umat dan pemegang kendali kuasa berfungsi. Kecuali, ini menjadi berkepanjangan dan menimbulkan ekses yang sulit diprediksi akibat lanjutannya, karena bangkrutnya jujur dalam iman.

Puasa kewajiban umat Islam yang juga sudah dilakukan umat masa lalu, hanya berbeda waktu dan lamanya. Tujuan puasa disebut di ujung ayat perintahnya , (QS.2:183) agar menjadi orang bertaqwa. Taqwa esensinya adalah menjadi hamba yang patuh, loyal pada syariat Islam dan memiliki karakter muslim yang sesungguhnya. Satu di antara karakter yang sulit mendidik, menerapkan memprilakukanya adalah jujur. Jujur adalah watak diri yang menjadikan orang dapat disebutkan mukmin sejati.

Jujur itu lazimnya berhubungan dengan sikap dan perilaku yang bersifat lurus, benar dan apa adanya sesuai antara yang dilakukan dengan semestinya. Jujur menjadi efektif sebagai prilaku bila ia didasarkan pada iman. Jujur dalam iman artinya sikap dan prilaku yang terjadi karena effeknya iman. Jujur karakter yang menjadikan orang mudah melakukan kebaikan dan juga mengantarkan hamba ke sorga, begitu sabda Rasul.

Rasul Muhammad SAW sejak masa kecil sudah diakui dan digelari oleh penduduk Mekah orang yang paling jujur (al amin). Legitimasi moral terhadap kejujuran Nabi membuat keputusannya mudah diterima oleh pembesar Makkah dalam memutus peletakkan hajar aswad selesai renovasi Ka’bah.

Sikap jujur menjadikan orang mudah diterima oleh orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Nabi Musa as, saat pelariannya dari Mesir, mendapat perlindungan dan bahkan dinikahkan oleh Syuib dengan anaknya, itu terjadi karena pengakuan anak perempuannya bahwa laki-laki asing itu kuat dan jujur.

”Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguh nya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat, dan dapat dipercaya.”(QS. Al-Qasas 28:26).

Langkah paling awal yang menjadikan pribadi bisa jujur adalah bila iman kepada Allah sebagai pengawas kehidupan kuat, teguh, dan istiqamah. Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”(QS. Qaf 50: 18)

Indikasi kedua bahwa jujur dalam iman berfungsi bila mukmin yang berpuasa dapat merealisasikan saripati puasa, yakni mampu merasakan penderitaan orang lain dan kemudian dilakukan kegiatan membantunya. Memberikan manfaat pada orang yang tak mampu dan siapa saja yang membutuhkan adalah pertanda jujur dalam imannya bergerak dan menghidupkannya. Rasul, menegaskan, artinya; manusia terbaik adalah orang yang dapat memberi manfaat untuk orang lain (al hadits).

Jujur dalam iman berkaitan memberi manfaat pada orang lain adalah kekayaan mental yang dapat membentuk pribadi dermawan, peduli dan tentunya akan dengan mudah mengatasi krisis sosial dan kemiskinan.

Wujud jujur dalam iman juga bisa dideteksi bila shaim dapat dengan ringan merasakan, mengucapkan dan merealisasikam terima kasih dan syukur dalam setiap denyut hidup yang jalani. Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”(QS. Ibrahim 14:7).

Sungguh indah dan mulia hidayah Allah, mereka yang jujur dalam imannya, istiqamah, memberi manfaat bagi sesama, dan bersyukur dalam hidup adalah orang terbaik yang pantas dinobatkan penerima penghargaan taqwa, amin. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top