Close

Jelang Peringatan Hari Bela Negara (3), Gubernur Sumbar: Peristiwa 207 Hari PDRI harus Dieksplorasi

PIMPIN RAPAT—Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah saat memimpin Rapat Evaluasi Peringatan Hari Bela Negara ke-73 tahun 2021 di Ruang Rapat Istana Gubernuran, Selasa (7/12).

PADANG, METRO–Peringatan Hari Bela Negara ke-73, pada 19 Desember 2021 nanti harus menjadi momentum bagi masyarakat Sumatera Ba­rat (Sumbar) mengenang kembali peristiwa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di daerah ini. PDRI berlangsung pada periode 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949, yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara. Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansha­rullah mengatakan, jelang peringatan Hari Bela Negara nanti, perlu diungkap dan dieksplorasi jalur yang dilalui PDRI.

Eksplorasi tersebut me­nurutnya, saat ini mendapat dukungan masyarakat Sumbar. Karena PDRI men­­jadi bagian peristiwa penting dalam perjalanan keberlangsungan bangsa dan negara ini. Di mana, tampuk kekuasaan dise­rahkan dengan baik oleh Syafruddin Prawiranegara kepada Soekarno saat itu.  “Padahal kesempatan untuk mengambil kekuasaan ada. Tapi diserahkan dan dikembalikan dengan legowo kepada Soekarno. Ini perlu dibedah apa yang melatarbelakangi. Kalau tidak diserahkan waktu itu, habislah Presiden Soekarno,” ungkap Mahyeldi saat memimpin Rapat Evaluasi Peringatan Hari Bela Negara ke-73 tahun 2021 di Ruang Rapat Istana Gubernuran, Selasa (7/12).

Rapat evaluasi dihadiri Bupati Pasaman, Benny Utama, Bupati Pasaman Barat, Hamsuardi, perwa­kilan bupati dan wali kota serta seluruh OPD di ling­kup Pemprov Sumbar Pada kesempatan itu Mahyeldi menyampaikan, agar pe­ristiwa-peristiwa yang terjadi selama 207 hari PDRI dapat dituliskan. “Apapun peristiwa di seluruh tempat di Sumbar ini selama PDRI, harus ada tulisannya. Ba­nyak hal yang perlu diekplorasi,” harapnya.

Mahyeldi juga mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Peringatan Hari Bela Negara, dapat mensinergikan, mengkordinasikan dan optimalkan kegiatan pen­ting ini. Beberapa kegiatan yang telah disusun di antaranya, olahraga, napak tilas, story telling, bela negara, kemah bahkti pramuka, pagelaran seni budaya, atraksi anak nagari, pasar murah, penanaman pohon, FGD perjuangan PDRI, se­minar dan ORARI. “Kita berharap semua agenda berjalan lancar dan terlaksana secara baik pada 12-19 Desember 2021,” kata­nya.

Pada peringatan Hari Bela Negara nanti, Mahyeldi mengaku sudah meminta Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) hadir. “Namun, Dirjend bertanya, apa jalan bagus di sana? Mohon dibantu agar jalan sepanjang dua kilometer menuju pusat peringatan Hari Bela Negara di Monumen Nasional PDRI di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota dapat diperbaiki,” harap Mahyeldi.

Melalui rapat koordinasi tersebut, Mahyeldi juga berharap, agar agenda peringatan Hari Bela Negara untuk tahun 2022 nanti, dapat dilaksanakan 24 hari mulai 19 Desember 2022 hingga 15 Januari 2023. Hal ini juga bertepatan dengan peristiwa sejarah Situjuah pada 15 Januari yang menjadi bagian dari peristiwa PDRI.

“Dengan dilaksanakan selama 24 hari, menjadi sebuah kegiatan yang ber­kesinambungan di akhir tahun 2022 hingga awal tahun 2023. Untuk melaksanakan kegiatan yang hampir sebulan penuh ter­sebut, tentu dibutuhkan persiapan yang matang jauh-jauh hari. Salah satu persiapannya membuka akses jalur PDRI,” terangnya.

Buka Akses Jalur PDRI

Mahyeldi juga ingin, akses jalur PDRI dapat dibuka semuanya. Seperti jalur turun dari Situjuah Kota Payakumbuh hingga ke Batusangkar Kabupaten Tanah Datar, sepanjang 8 kilometer yang harus dibuka. “Bahkan, antara Batusangkar ke Situjuah juga ada tempat Rajo Paga­ruyuang. Yakni di Batu Rajo. Ini perlu juga dieksplorasi. Semua akses jalur PDRI tersebut harus dibuka,” harapnya.

Bupati Pasaman, Benny Utama mengatakan, Pem­kab Pasaman telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pem­kab Limapuluh Kota, untuk membuka jalur PDRI jalan Bonjol menuju Suliki. Me­nindaklanjuti MoU itu, Pem­kab Pasaman telah menganggarkan melalui APBD sebesar Rp4,5 miliar. “Untuk tahun ini sudah anggarkan. Konsep pembukaan jalannya, juga melalui pe­laksanaan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD), de­ngan bekerjasama dengan Pemkab Limapuluh Kota. Panjang jalannya 16 kilometer dan sudah dilaksa­nakan napak tilas,” terangnya.

Persoalan lain untuk membuka akses jalan ter­sebut, ada beberapa titik jalan yang akan dilewati masuki kawasan hutan lindung dan suaka alam. “Butuh keterpaduan dan tin tekhnis untuk mengatasi secara administrasi persoalan ini,” harapnya. De­ngan dibukanya akses jalan Bonjol-Suliki ini, Benny berharap berdampak terha­dap ekonomi daerah. Pa­salnya, penghasilan ikan air tawar dari Pasaman melalui jalur ini dapat dipasarkan menembus Riau.  “Selama ini lewat Bukittinggi. Jika akses jalan ini dibuka akan bernilai ekonomis cukup besar. Saya berharap Pemkab Limapuluh Kota bisa juga menyambut ini. Ini baru kita laksanakan kalau kedua daerah komitmen untuk melaksanakan MoU yang disepakati,” ha­rapnya.

Kepala Badan Kes­bang­pol Provinsi Sumbar, Jefrinal Arifin mengatakan, melalui jalur PDRI ini, Pemprov Sumbar akan membuat jalur segitiga  emas, yakni Gunung Omeh-Bonjol-Palupuah. Jadi untuk pembukaan jalur ini, juga melibatkan Kabupaten A­gam yang akan MoU nan­tinya. Untuk mewujudkan jalur segitiga emas ini, napak tilas sudah dilakukan di Bonjol, Suliki dan Koto Tinggi.

Peringati Hari Bela Ne­gara dengan Bersepeda

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumbar, Novrial mengatakan, tujuan dilaksanakannya acara Hari Bela Negara untuk mengangkat titik-titik lokasi perjuangan PD­RI.  Kegiatannya dilaksa­nakan dengan bersepeda jarak jauh selama enam hari enam malam. “Ada 25 kilometer pada titik tertentu dan berakhir dengan upacara di lokasi di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota,” terang­nya.

Tim sepeda jarak jauh ini melibatkan Forkopimda dengan peserta 10 orang dan ASN dan komunitas sepeda sebanyak 60 orang. Peserta ini nantinya bersepeda marathon dan diinapkan pada titik-titik jalur PDRI.

Kegiatan sepeda jarak jauh ini merupakan pe­ngalaman pertama. Hasil survey rute sepeda sudah difinalkan. Di mana, start di Gedung Joeang di Kota Padang, yang dikenal de­ngan Etape Padang Lop sepanjang 33 kilometer. Dari titik star dilepas tanggal 13 Desember 2021 pagi mengitari jalur-jalur utama di Kota Padang dan menghabiskan waktu 1,5 sampai 2 jam.

Peserta pesepeda kemudian ditransfer ke Pa­dang Aro, Kabupaten Solok Selatan dan finish di Bidar Alam. Untuk jalur Padang Aro menuju ke Bidar Alam ini menempuh jalur sejauh 25 kilometer dengan waktu dua jam. Di Padang Aro menginap di RTH Padang Aro dalam tenda. Pada malam hari ada pergelaran seni budaya.

Hari kedua, transfer dari Bidar Alam ke Kabupaten Dharmasraya akan lewati jalur perkebunan di Pulau Punjung. Saat  me­nginap di dalam tenda ma­lam harinya di lokasi Kantor Camat Pulau Punjung, ada pergelaran seni dan budaya malam hari.

Kemudian menuju ke Etape 4 di Sumpur Kudus, dengan start dimulai di Nagari Silantai sampai Kantor Camat Kumanih Kabupaten Sijunjung sepanjang 27 kilometer. Etape 5, transfer ke Lintau Buo Ta­nah Datar. Jalur yang di­tempuh sepanjang 26 kilo ke momumen Avro  Anson. Kemudian lanjut ke Etape 6, yakni dari start di Limbanang finish di Museum PDRI di Koto Tinggi sejauh 29,8 kilometer.

Novrial berharap, di lokasi penginapan peserta pesepeda nanti, menerapkan gaya heroik tempo dulu. Yakni menggunakan tenda besar dan lainnya.

Novrial juga ingin ada­nya dukungan kegiatan pada malam hari oleh pemerintah kabupaten kota. “Di mana pemerintah ka­bupaten kota agar siapkan pertunjukan seni dan budaya. Sehingga ada kemeriahan pada star dan finish. Kita ingin mengangkat nilai heroik PDRI dan sekaligus promosi pariwisata,” ujar­nya.(fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top