Menu

Jamin Produk Hewan yang Asuh, Dinas Lakukan Pengawasan Setiap Pemotongan di Tengah Masyarakat

  Dibaca : 360 kali
Jamin Produk Hewan yang Asuh, Dinas Lakukan Pengawasan Setiap Pemotongan di Tengah Masyarakat
KEPALA Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Drh. Ade Meliala, M. Si melakukan pemeriksaan daging hewan ternak yang dijual masyarakat.

PEMERINTAH Daerah Kabupaten Sijunjung melalui Dinas Pertanian terus melakukan pengawasan pemotongan hewan ternak (sapi dan kerbau) yang akan dikonsumsi oleh masyarakat. Selain untuk kesejahteraan hewan itu sendiri, kegiatan pengawasan yang meliputi pendataan, pengawasan higienis atau sanitasi, pemeriksaan ante/post mortem dalam rangka penerapan kesrawan pada pemotongan hewan ternak, serta memastikan bahwa daging dari hewan ternak yang dipotong tersebut sehat dan layak di konsumsi, terjamin kebersihannya serta proses pemotongan pun sesuai dengan ketentuan.

Pengawasan yang dilakukan oleh Bidang Kesehatan Hewan yang diketuai, Drh. Ade Meliala, M. Si dengan cara turun langsung kepada masyarakat dan menyaksikan tata cara pemotongan dan kondisi hewan ternak.

“Kegiatan ini dalam rangka penerapan penjaminan produk hewan yang ASUH (Aman, sehat, utuh dan halal). Kita menyaksikan dan memeriksa kondisi hewan yang akan dipotong tersebut,” tutur Drh. Ade Meliala, M. Si, selaku Kabid kesehatan hewan didampingi Kepala Dinas Pertanian, Kabupaten Sijunjung, Ir. Ronaldi.

Dalam upaya penjaminan keamanan daging hasil pemotongan hewan pada “Hari Rayo Mogang” yang merupakan salah satu tradisi masyarakat di Kabupaten Sijunjung dalam menyambut bulan puasa, diperlukan pengawasan teknis yang lebih intensif terkait kesehatan hewan dan tatacara penyembelihannya. “Penyembelihan hewan yang dilakukan mengikuti syariat Islam dan memenuhi standar teknis yang baik, serta dapat menghasilkan daging yang memenuhi kriteria Aush tadi yaitu, aman, sehat, utuh dan halal,” jelas Kabid, Ade Meliala.

“Seperti halnya kemarin pada waktu memasuki bulan Ramadhan banyak masyarakat yang melakukan pemotongan hewan seperti sapi dan kerbau. Kami menyaksikan langsung dan melakukan pemeriksaan kesehatan hewan itu sendiri. Baik itu dagingnya dan organ-organ hewan tersebut harus dalam kondisi sehat dan layak dikonsumsi manusia,” ujarnya.

Untuk itu pihaknya telah menurunkan tim dari Dinas Pertanian lingkup Bidang Keswan dan UPTD Puskeswan se Kabupaten Sijunjung. Proses kegiatan sudah di mulai sejak tanggal 2 s/d 5 Mei 2019, sesuai dengan jadwal pemotongan di setiap nagari se-Kabupaten Sijunjung.

“Tugas tim adalah melaksanakan pengawasan pemotongan, pendataan, pengawasan higiene/sanitasi, pemeriksaan Ante/Post Mortem Serta Penerapan Kesrawan,” sebutnya.

Hasil pelaksanaan kegiatan tersebut, sebanyak 204 ekor hewan yang dipotong di Kabupaten Sijunjung. Dengan uraian, sapi berjumlah 22 ekor dan kerbau sebanyak 182 ekor yang terdiri dari betina dan jantan. Kalau diasumsikan 1 ekor sapi/kerbau minimal senilai Rp. 15.000.000,-/ekor, maka nilai perputaran uang di pemotongan hewan sebelum Bulan Suci Ramdhan 1440 H adalah minimal sebesar =Rp. 3.060.000.000,-  (Tiga Miliar Enam Puluh Juta Rupiah).

Pada pemeriksaan ante mortem, semua hewan yang diperiksa secara umum sehat dan tidak cacat. Pada pemeriksaan post mortem, masih banyak ditemukan cacing pada organ hati dan jeroan (organ dalam).

“Pemeriksaan higiene dan sanitasi, masih perlu dilakukan perbaikan di masa yang akan datang, karena pemotongan masih banyak dilakukan di persawahan, tanah lapang dan lain-lain,” terangnya.

Untuk higienis personal dan peralatan masih perlu dilakukan pembinaan lebih lanjut karena masih banyak ditemukan kekurangan yang berakibat masih kurang higienisnya daging yang akan dikonsumsi oleh masyarakat.

“Sebelumnya sosialisasi terkait kesejahteraan hewan juga telah kita lakukan. Begitu juga dengan materi pemotongan hewan ternak, namun kebiasaan dan budaya dari masyarakat perlu diberikan pemahaman lebih lanjut,” tutur Kepala Dinas, Ir. Ronaldi.

Ditambahkannya, pengawasan yang dilakukan itu sebagai antisipasi adanya hewan pemotongan dan konsumsi hewan yang tidak sehat, dan membahayakan apabila di konsumsi oleh manusia.

“Itu di cek semua, kalau ada organ yang tidak sehat dan tidak layak untuk di konsumsi, kita berhak untuk melarangnya dan harus dibuang. Alhamdulillah, berkat adanya pengawasan tersebut dan pemahaman yang terus kita berikan kepada masyarakat, hingga kini belum ada temuan atau kasus terkait hal tersebut,” tambah Kepala Dinas, Ronaldi. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional