Menu

Jalan Hidup Pasutri Pencari Cacing; Berendam Lumpur demi Sesuap Nasi

  Dibaca : 1935 kali
Jalan Hidup Pasutri Pencari Cacing; Berendam Lumpur demi Sesuap Nasi
IMG_20151218_115435

Pasutri pencari cacing duduk di depan rumah sederhananya. Sudah 23 tahun lamanya pasangan ini hidup dari uang penjualan cacing yang dicari di selokan-selokan yang penuh kotoran di Kota Padang.

PADANG, METRO–Mira (56) dan sang suami Amris (59), warga Jati, Padang, harus merendamkan badan dengan air comberan dan selokan selama 23 tahun demi mencari cacing untuk menghidupi keluarga dari hari ke hari, “ Kok disabuik jijik? Baa ka indak. Kaduo tangan ko harus mangaruak banda untuk mamiliah caciang. Kok ndak bantuak tu, apo nan ka disuok beko,” ucap Amris Mengiba.

Ibu dan ayah dari lima orang anak ini mengais rezeki dengan cara yang bisa dibilang langka, mereka merupakan penambang cacing sutra yang berasal dari dalam comberan-comberan yang menjadi saluran air pembuangan di tengah kota Padang.

Becak sepeda, ringsek, berwarna merah, berkarat, terparkir tepat halaman rumah yang sangat sederhana, berwarna biru, dan bertuliskan Rumah Tangga Miskin berlambangkan rumah adat yang merupakan lambang dari kota Padang.
Beberapa meter dari pintu rumah, akan nampak bentangan-bentangan terpal plastik berwarna biru yang berisikan air setinggi 30 cm, serta beberapa potongan kayu sengaja di letakkan secara melintang diatas bentangan terpal, dan terlihat beberapa ekor bibit lele yang diberi makan cacing kecil seukuran benang jahit yang nyaris tak terlihat mata.

Keadaan rumah yang kurang dari kata layak, terlihat jelas dari jalan yang menghubungkan daerah Alai dan Jati tersebut, apabila hari hujan rumah tadi akan dipenuhi ember yang berfungsi sebagai tempat penampung tetesan demi tetesan air hujan yang mengalir dari atap-atap bocor rumah mereka.

Beberapa langkah hendak memasuki rumah, terlihat becak sepeda ringsek, berwarna merah kusam, terparkir di depan halaman, becak tersebut merupakan alat transportasi pasangan suami istri tersebut untuk menjelajahi dan memudahkan mereka mengakses selokan-selokan yang jauh dari rumah, dan juga sebagai alat untuk mengangkut cacing-cacing yang berhasil mereka kumpulkan.

Saat terparkir di halaman rumah, becak tua tersebut berisikan sejumlah bejana hitam yang penuh dengan gumpalan-gumpalan cacing sutra berwarna merah pucat, bercampur air comberan dan lumpur, yang mereka kumpulkan dari sejumlah selokan, nampak terletak didepan pintu rumah mereka di kawasan Jati, sebelah kanan setelah perempatan lampu merah Adabiyah.

Wajah kusam, rambut ikal yang terikat, dan kedua tangan yang masih pucat, serta pakaian basah masih melekat di tubuh wanita yang bernama Mira tersebut, itu merupakan sebuah penjelasan secara tidak langsung dari gambaran pekerjaan yang dilakoni ibu yang memiliki 3 orang Putri dan 2 orang Putra tersebut, jika ia berdiri, akan nampak seuntai tali yang terikat di pinggangnya, yang mana tali tersebut, tadinya berfungsi untuk mengikatkan wajan untuk menampung cacing yang sudah berhasil terkumpul, hal tersebut bertujuan agar memudahkan Mira untuk mendapatkan cacing yang banyak selama dalam selokan, yang mana setelah penuh, wajan akan diletakkan diatas becak, kemudian di gantikan dengan wajan lain yang masih kosong.

Saat di kunjungi, Mira terlihat sedang berbincang-bincang dengan suaminya, dan anak sulungnya yang lalu lalang di pintu rumah dan juga mencari cacing. Amris, sang kepala keluarga juga melakoni pekerjaan yang sama dengan Mira. Mereka duduk berdampingan di kursi hijau yang terletak di depan jendela rumah mereka yang menghadap jalan. Hal ini sebagai tanda bahwa mereka telah selesai mencari cacing sutra yang akan dijual pada hari ini.

”Kebetulan ko baru siap mancari bana, agak capek pulang dek kini hari musim pahujan, agak payah mancari caciang, soalnyo aia gadang, caciang banyak hanyuik di baok aia, kok hari biaso, sampai jam 6 sore gai pulang,” tutur Mira dengan wajah lelah.

Kedua orang tua ini mengatakan sudah sangat lama menjadi penambang cacing sutra, semenjak tahun 1993, kala itu cacing sutra masih seharga Rp.700, perak/kaleng, kemudian seiring berjalannya waktu dan bertambahnya peminat pembeli cacing untuk dijadikan makanan ikan, seperti Lele, belut, nila, patin dan jenis ikan lainnya, sehingga saat ini, harga cacing sutra sudah mencapai Rp.25 ribu/kaleng yang berukuran sebesar kaleng susu cair.

Dalam sehari, kadang mereka berhasil mengumpulkan 5 hingga 6 kg cacing per hari, yang mana, dalam 1 kg cacing bisa mencapai 2 buah kaleng, akan tetapi, itu tidak menetap, apabila musim penghujan, cacing akan mudah hanyut terbawa air, dan hal tersebut akan berdampak langsung terhadap jumlah pendapatan mereka yang menurun drastis, kadang mereka hanya berhasil mengumpulkan 1 atau 2 kg dalam sehari, dengan penghasilan dan keadaaan seperti itulah mereka memenuhi kehidupan sehari-hari.

Jika di hitung jumlah tahun, maka tak terhitung lagi kalinya mereka berendam dalam selokan di kota tercinta ini, begitu banyak hal yang mereka rasakan dan mereka alami saat berada di dalam selokan dan berendam di air comberan, seolah mata dan penciuman mereka menikmati akan bau busuknya air comberan.
”Bamacam-macam kotoran yang nampak dalam banda tu, kadang ado cirik gai di sabalah caciang tu, baa lai, bahalau saketek se nyo, tu bakaruak caciang lai,” ujar Mira dengan wajah pasrah.

Sang Suami, Amris, mengatakan bahwa mereka melakukan hal tersebut setiap hari, dan tempatnya pun berpindah pindah, “ Kami mancari caciang ko sampai ka banda-banda di batas kota, barangkek dari jam satangah anam, beko tibo dirumah lah sanjo,”.

Mereka menceritakan suka duka selama menajalani pekerjaan ini, tak sedikit kesulitan yang mereka hadapi, “ Caciang bakaruak se jo tangan dari dalam banda tu, kalau pakai saruang tangan, payah marasoan caciangnyo, kadang tangan kanai kaco, kawek, atau benda tajam lainnyo, tapi tu lah biaso,” tambah Mira.

Ia juga menceritakan bahwa tangannya pernah tertancap kawat yang masuk kedalam kuku jari jempolnya sewaktu hendak meremas lumpur yang berisi cacing di dalam selokan, sehingga membuat sang Ibu tidak dapat bekerja selama satu bulan. (cr1)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional