Menu

Jalan Diblokade, Bypass Padang Membara

  Dibaca : 2313 kali
Jalan Diblokade, Bypass Padang Membara
M Ali Ramdhani
Bypass Diblokade

Ratusan petugas gabungan menjadi pengusir warga dalam eksekusi bangunan di atas lahan yang akan dijadikan jalan jalur dua di Simpang Pisang, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Senin (16/11/2015).

PADANG, METRO–Bypass Padang membara. Ratusan warga yang diamuk amarah tumpah ruah ke jalan raya, Senin (16/11). Mereka memblokade jalan. Membakar ban dan meneriaki ratusan polisi bertameng nan menghadang pemberontakan atas pembongkaran bangunan yang terkena dampak pembangunan jalur dua, di Kilometer 17 Bypass, persisnya di Simpang Bypass Pisang, hingga ke Simpang Ketaping itu.

”Majulah, den ladiang,” teriak warga dengan tangan-tangan terkepal. Sejumlah TNI yang juga ikut melakukan pengamanan, tampak sendu melihat kejadian itu.
Kedatangan ratusan polisi begitu memantik emosi, yang sebenarnya sudah bertahun-tahun dipendam. Ketika dua alat berat datang, mesin mobil water canon meraung, dan derap sepatu para polisi dan Pol PP terdengar, emosi itu pecah.

”Antahlah. Sudahlah tanah indak dibayia. Warga diadu pulo jo polisi dek pamerintah. Karajo apo lah nan dikakok Pemko Padang koh. Bahadapan jo warga, saketek-saketek baok polisi. Model indak ado jalan musyawarah. Atau emang batua, menghadapi warga ko jo polisi? Tu manga seh karajo Wako tu? Mahanyak sajo di kuresi?” teriak Mai (51), perempuan parohbaya yang kepayahan menahan emosinya.

Saking emosinya, Mai mengambil batu dan mengayunkannya ke arah gerombolan polisi. Namun, sebelum batu lepas dari genggaman, tangannya dipegang petugas Pol PP perempuan. Seorang rekannya yang sama-sama kena penggusuran, juga menghalangi. Merentangkan tangannya, untuk menahan Mai agar tidak berlari ke arah aparat. Merasa ditahan, Mai yang memang sudah silap mata menggigit tangan rekannya itu sekuat tenaga. ”Aduh, sakik,” teriak perempuan yang tangannya digigit. Tapi, Mai tidak melepaskannya. Lama, baru dia melonggarkan gigitan.

Menyaksikan ratusan petugas berjalan ke arahnya, warga mulai membentangkan ban di tengah jalan. Seketika api disulut. Ban terbakar dan menimbulkan asap pekat. Api membara, Bypass panas seketika. Jalan macet, sebab blokade api tak bisa dilewati. Teriakan-teriakan emosi warga, yang kadang diselingi kata-kata kasar membahana. Beriringan dengan histeris kaum ibu yang tak rela, rumah dan warungnya diratakan dengan tanah.

Polisi yang mulai merasakan suasana tak kondusif meringsek maju. Mobil water canon di depan. Blokade api warga disiram. Hanya beberapa kali siraman, api padam. Warga yang berada di seberang blokade, sudah bersiap pula melawan. Namun, terlihat keengganan, antara cemas dan takut menyaksikan petugas bertameng dan berhelm berjalan ke arah mereka.

”Jangan coba-coba menghalangi petugas. Nanti ditangkap. Pelaksanaan eksekusi sesuai aturan dan Undang-Undang. Tidak usah melawan. Nanti ditangkap,” ucap polisi lewat pengeras suara.

Gertakan itu membuat warga kecut. Keberanian orang yang jumlahnya seratusan hilang seketika. Mereka akhirnya memilih menepi dan membiarkan saja petugas kepolisian lewat. Perlawanan warga hanya sampai di sana. Tak ada bentrok, seperti yang ditakutkan. Ketika dua alat berat masuk dan mulai meruntuhkan dinding-dinding warung, juga tak ada perlawanan. Cuma beberapa kaum ibu yang terisak.

Ada yang memekik, berteriak dengan nada suara yang tak bisa diartikan. Braaakkk.. satu rumah runtuh. Sang ibu yang tadinya histeris, kian kencang berteriak. Tangisnya menjadi-jadi, sebab bangunan yang bertahun ditempati, dan menyimpan kenangan hidup, rata dengan tanah. ”Dima kami ka tingga lai pak, salasaian dulu persoalan ko baru kito pindah,” ujarnya sambil menitikan air mata.

Pantauan POSMETRO, eksekusi pembingkaran mulai dilaksanakan setelah seluruh petugas gabungan melakukan apel bersama, sekitar pukul 10.00 WIB. Dimulai dari Simpang Pisang hingga Simpang Ketaping Unand. Kata Kakan Pol PP Padang Firdaus Ilyas, sebelum dibongkar, sebenarnya warga sudah diperingati lewat surat.

Seorang warga Jarman Datuk Rajo Ibrahim memprotes eksekusi karena dahulu kesepakatan, dia menyerahkan kepada pemerintah 30 persen lahan, dan dikembalikan kepada warga 70 persen. ”Sebanyak 30 persen luas tanah kami itu untuk jalur pelebaran jalan, dan 70 persen dikembalikan kepada warga dengan poin perjanjian yakni sertifikat gratis, IMB gratis, Izin Bangunan gratis. Kami memiliki sertifikat. Tapi, kenapa digusur juga sebelum ganti rugi diselesaikan. Dulu tidak ada jual beli,” katanya.

Eksekusi tanah untuk pembuatan jalur dua Bypass terus dilanjutkan sampai habis shalat dzuhur. Setidaknya, ada 116 bangunan yang dibongkar menggunakan alat berat. Di pertengahan pembongkaran, suasana mulai kondusif. Tidak terlihat lagi warga yang melakukan perlawanan sampai eksekusi berakhir.
Kasat Pol PP Kota Padang Firdaus Ilyas yang berada di lokasi eksekusi tersebut mengatakan, dalam eksekusi ini, pihaknya melibatkan kepolisian, TNI AD, AU, AL, yang jumlahnya hingga 500 lebih.

”Semua sudah harus dibersihkan karena sudah tidak ada waktu lagi untuk menunggu, kita meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan perlawanan. Untuk masalah ganti rugi itu bukan urusan kita, kita hanyalah sebagai eksekutor,” ungkap Firdaus.

Firdaus menambahkan, eksekusi ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab dan menyelesaikan persoalan jalur dua Bypass. ”Terpaksa kita melakukan eksekusi gabungan disebabkan warga masih ngotot bertahan. Satpol PP sebagai penegak Perda harus membongkar bangunan liar karena tidak memiliki izin. Untuk bangunan yang masih berperkara ada di beberapa titik, tetapi tidak kita bongkar,” katanya.

Lanjutnya, bangunan yang dibongkar sebanyak 166 titik, dan masih tersisa 116 titik, dan dalam waktu dekat itu akan segera dibongkar. ”Hari ini kita sudah 50 titik, dan berlangsung lancar. Target kita untuk eksekusi ini seminggu sampai 10 hari, namun dikarenakan kondisi sudah terihat kondusif bisa sekira 3-5 hari sudah selesai. Besok kita akan melanjutkan lagi pembongkaran,” kata Firdaus.

Pemko Padang tetap akan merobohkan bangunan sepanjang Bypass yang berdiri di lahan untuk jalur dua, apa pun risikonya. Warga yang tinggal, mesti bersiap untuk hengkang. Meninggalkan tempat yang mereka huni berbelas-belas tahun, dan menjadi topangan dalam menjalani hidup. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional