Close

Jadi Narasumber Kuliah Umum Sosiologi UNP, Mulyadi Muslim: Pesantren Menyiapkan Generasi Terampil

NARASUMBER— Ketua Dikti STEI Ar Risalah Sumbar H Mulyadi Muslim LC MA menjadi narasumber dalam Webinar Kuliah Umum Pendidikan Pesantren Abad 21, Rabu (29/9) melalui Zoom Meeting yang diadakan Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNP.

HAMKA, METRO–Ketua Pendidikan Ting­gi Sekolah Tingi Ekonomi Islam (Dikti STEI) Ar Risa­lah Sumbar H Mulyadi Mus­lim LC MA menjadi narasumber dalam Webi­nar Kuliah Umum Pendi­dikan Pesantren Abad 21, Rabu (29/9) melalui Zoom Meeting yang diadakan Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang (UNP). Ba­nyak hal yang disampaikan ulama muda ini di hadapan para peserta.

“Anggapan pesantren kolot, tradisional, tertinggal dan bahkan sarang teroris atau pemikiran trans­nasio­nal adalah stigma negatif yang dilabelkan ke pesan­tren. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Pa­dahal pesantren menyiap­kan generasi terampil.” kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang ini dalam ku­liah umum yang diikuti 150 orang mahasiswa dan do­sen yang dimoderatori oleh Eka Asih Febriani.

Menurut Mulyadi, pe­santren hari ini sudah ber­transformasi sedemikian rupa. Sehingga menjadi alternatif pendidikan formal dalam menyiapkan generasi muda mengha­dapi era digital 4.0 (revolusi industri keempat). “Kebu­tuhan era 4.0 adalah skill, softskill dan karakter de­ngan semua dimensinya. Modal itu semua bisa dida­patkan di sekolah berbasis asrama seperti pesan­tren,” kata Ketua Pengurus Masjid Agung Nurul Iman Padang ini.

Kata Mulyadi Muslim, proses seleksi masuk pe­santren yang ketat, pem­be­lajaran yang menye­nangkan, pembiasaan pe­rilaku hidup dan motivasi berprestasi untuk menjadi pemimpin bangsa. Akan menjadikan santri betah belajar dan menjadikan pesantren sebagai rumah keduanya.

“Penanaman nilai-nilai kepemimpinan sangat me­nonjol dalam aktivitas pe­santren  mulai dari konsep kepengasuhan, keman­di­rian siswa atau entrepreneur,” kata Mulyadi Muslim.

Mulyadi Muslim me­nyebut, eksistensi pesan­tren di Indonesia dan juga Sumatra Barat (Sumbar) sangat diakui oleh masya­rakat dan pemerintah. Ke­si­bukan orang tua dan ke­khawatiran pengaruh bu­daya asing menjadi pemicu pesantren sebagai alter­natif pendidikan formal.

“Sebaran alumni pe­santren yang kuliah di luar negri atau bekerja di posisi strategis pemerintahan juga menjadi motivasi bagi siswa,” kata jebolah LIPIA (Lembaga Ilmu Penge­ta­huan Islam dan Arab) Ja­karta ini. (r)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top