Menu

Instruksi Kemenkes untuk Daerah, Gencarkan Testing dan Tracing di Masa PPKM

  Dibaca : 221 kali
Instruksi Kemenkes untuk Daerah, Gencarkan Testing dan Tracing di Masa PPKM
POS PENYEKATAN—Suasana di Pos penyekatan Lubuk Buaya yang merupakan perbatasan Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman.

JAKARTA, METRO–Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menginstruksikan kepada Kepala Dinas Kesehatan baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia agar meningkatkan testing dan tracing di masa Pemberlakuan Pem­ba­tasan Kegiatan Mas­yarakat (PPKM).

Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor : H.K.02.02/II/1918 /2021 tentang Percepatan Peme­rik­saan dan Pelacakan Da­lam Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Ma­s­yarakat (PPKM) yang dite­tapkan pada tanggal 23 Juli 2021.

‘’Surat edaran ini di­mak­sudkan untuk pe­rce­patan penanggulangan pan­­demi pada masa PPKM me­lalui penguatan pilar de­teksi dengan pelaksanaan peningkatan jumlah peme­riksaan dan pelacakan kon­tak,’’ kata Plt Direktur Jen­deral Pencegahan dan Pe­ngen­dalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu.

Pihaknya menjelaskan langkah ini merupakan ba­gian dari percepatan pe­nemuan kasus terkonfir­masi maupun kontak erat kasus positif COVID-19, sehingga bisa dilakukan penanganan sedini mung­kin dengan harapan dapat menekan terjadinya kasus perburukan maupun kema­tian.

‘’Penguatan testing dan tracing ini, akan diutama­kan bagi wilayah-wilayah dengan mobilitas mas­yara­kat dan tingkat penu­laran kasusnya tinggi, se­hingga dengan menge­ta­hui kasus lebih cepat, ma­ka bisa segera dilakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi laju penularan virus,’’ tuturnya.

Dalam aturan tersebut me­rinci bahwa daerah yang masuk kategori PPKM level 3 dan 4 diperbolehkan meng­gunakan hasil pe­meriksaan test Rapid Antigen (RDT-Ag) sebagai diag­nosa untuk pelacakan kon­tak erat mau­pun suspek, dan bisa juga dipakai seba­gai data dukung dalam pengajuan klaim COVID-19.

Penggunaan RDT Antigen diutamakan bagi da­erah yang alat diag­nosis­nya terbatas, sehingga hasilnya bisa diketahui lebih cepat dan tes dapat dilakukan secara masif sehingga dapat mem­per­cepat tracing.

Seseorang yang teri­denti­fikasi sebagai kontak erat baik yang bergejala maupun tidak bergejala, diwajibkan mengikuti pe­meriksaan entry dan exit test. Apabila pemeriksaan RDT-Ag di hari pertama hasilnya negatif, dilan­jutkan dengan test swab PCR pada hari kelima (exit test). Bagi daerah yang tidak ada fasilitas lab PCR, pelak­sa­naan exit test bisa menggu­nakan RDT-Ag.

Disamping penguatan testing, Kementerian Kese­hatan juga akan memper­ke­tat penanganan kontak erat. Seluruh kontak erat dari kasus terkonfirmasi harus di karantina sampai hasil tes menyatakan ne­gatif agar tidak menjadi sum­ber penularan di te­ngah masyarakat.

‘’Untuk meningkatkan pelacakan kontak, seluruh orang yang tinggal seru­mah dan bekerja di rua­ngan yang sama dianggap kontak erat serta wajib dila­kukan pemeriksaan (entri tes) dan karantina,’’ kata Dirjen Maxi.

Selain mengidentifkasi seluruh orang yang me­miliki riwayat interaksi lang­sung dengan kasus positif, pelacakan kontak erat juga akan diidentifikasi dari orang-orang yang satu perja­lanan, satu kegiatan kea­ga­maan/sosial (seperti ta­k­ziah, pengajian, kebaktian, pernikahan), dan riwayat makan bersama.

Jika dalam proses pela­cakan ditemukan kasus ter­konfirmasi positif CO­VID-19, maka pasien de­ngan gejala ringan dan tidak bergejala akan lang­sung diisolasi di tempat isolasi terpusat yang telah disediakan. Sementara, pasien gejala sedang dan berat akan dibawa ke fa­syan­kes untuk mendapat­kan perawatan lebih lan­jut.(*/hsb)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional