Menu

Ingat Nilai Kebudayaan Minangkabau, Pemko Malamang Massal di Rumah Tabuik

  Dibaca : 832 kali
Ingat Nilai Kebudayaan Minangkabau, Pemko Malamang Massal di Rumah Tabuik
MALAMANG—Terlihat kesibukan ibu-ibu malamang (efa nurza/posmetro)

PARIAMAN, METRO – Mengangkat nilai-nilai kebudayaan Minangkabau, kemarin, Pemko Pariaman melaksanakan kegiatan malamang masal di rumah tabuik subarang. Ini kegiatan pertama kalinya dilaksanakan Pemko Pariaman dibawah kepeminpinan Walikota Pariaman Genius Umar dan Wakilnya Mardison Mahyuddin.

“Malamang massal tahun 2019 ini kita laksanakan untuk kembali mengangkat nilai – nilai budaya dan kearifan lokal di Kota Pariaman. Sebab, kita melihat selama ini belum begitu naik kepermukaan meskipun sebenanrnya ada beberapa desa/kelurahan yang mengadakan malamang ini setiap tahun. Untuk lebih dikenal lagi makanya kami sengaja mengangkatnya menjadi suatu event budaya di Kota Pariaman, “ ungkap Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DMPD) Kota Pariaman Anwar, kemarin.

Malamang sekilas tak ada istimewanya, karena hanya berartikan memasak lamang (lemang). Lamang sendiri adalah alah satu penganan khas Piaman yang terbuat dari adonan beras ketan putih dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu. Bambu tersebut sebelumnya dialasi dengan daun pisang dan kemudian di panggang di atas bara api.Namun, bagi masyarakat Piaman, malamang merupakan suatu tradisi yang biasanya dilakukan di saat hari-hari tertentu, seperti hari Maulid Nabi dan acara selamatan.

“Tradisi Malamang Massal ini baru pertamakali digelar Kota Pariaman. Sebelumnya kegiatan “Marandang Massal” juga sudah kita gelar disini. Dan tradisi ini dilakukan, sekalian untuk menyambut kunjungan Walikota Taiping, Perak, Malaysia, Omor Bin Saad yang sekaligus menjadi Co President dari Tourism Promotion Organistion (TPO) dimana Walikota Pariaman, Genius Umar juga menjadi Co President dari organisasi bergengsi yang beranggotakan 15 Negara dengan 126 anggota Kota di seluruh dunia, dengan anggota Bupati dan Walikota dari negara Asia Pasifik, “ jelasnya.

Malamang massal 2019 dikemas mulai dari persiapan memasukkan pulut kedalam bambu sampai lamang tersebut masak dan dihidangkan untuk para tamu dan ini mencerminkan  simbol kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan dan kekompakan masyarakat sehingga jadilah lamang yang lezat dan nikmat.

“Semoga saja kegiatan seperti ini tetap berkesinambungan, sebab ini adalah ciri khas daerah kita yang harus dipertahankan, meskipun dilakukan secara bertahap sehingga tradisi ini tidak hilang ditengah masyarakat dan dengan adanya kegiatan ini nilai kearifan lokal di desa/kelurahan tetap terjaga dan bisa dipromosikan,” tandasnya mengakhiri.(efa)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional