Menu

Ilmul Khaer hanya Dituntut 20 Tahun

  Dibaca : 774 kali
Ilmul Khaer hanya Dituntut 20 Tahun
LPM beserta pemerintahan kelurahan rawang mengadakan syukuran bersama suksesnya acara manunggal BBGRM tahun 2021 dengan makan bajambah bersama.
Exif_JPEG_420

DITUNTUT 20 TAHUN— Ilmul Khaer dikawal aparat kepolisian keluar dari ruang sidang PN Padang, usai menjalani sidang tuntutan, Senin (15/2)

PADANG, METRO –Setelah ditunda selama dua kali jadwal tuntutan, akhirnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan tuntutan terhadap terdakwa Ilmul Khaer, terdakwa pembunuhan terhadap mantan istrinya, Dewi Yulia Sartika—karyawati Bank BRI, pada pertengahan tahun 2015. Keluarga korban merasa kecewa terhadap tuntutan yang diberikan JPU yang hanya menuntut hukuman 20 tahun penjara.

”Saya merasa tidak senang dengan tuntutan yang diberikan JPU yang hanya 20 tahun penjara saja, sementara fakta persidangan sudah menjelaskan terdakwa melakukan pembunuhan berencana yang sesuai dengan pasal 340.

Seharusnya yang diberikan hukuman mati untuk dia,” ujar ayah korban, Asril yang saat itu sudah naik pitam, Senin (15/2) di Pengadilan Negeri Padang.

Ayah kandung Dewi terlihat kecewa saat mendengar tuntutan yang dibacakan JPU terhadap pembunuh putrinya itu. Asril nampak tak menerima, karena oknum dosen Fakultas Hukum Unand itu, hanya diancam 20 tahun minimal. Bukannya diberi hukuman mati.

Ia sangat menyayangkan tuntutan yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum yang memberikan hukuman minimal dalam Pasal 340. “Kalau keinginan kami dari keluarga dia harus dihukum mati agar keadilan benar-benar dapat dirasakan,” sambungya.

”Ma keadilan untuak anak ambo. Ma nyo. Baa kok mode iko jadinyo.” Begitu kalimat yang dilontarkan keluarga dari almarhumah Dewi Yulia, yang ikut hadir dalam persidangan itu. Mereka terus menunjuk ke arah JPU, yang membacakan tuntutan kepada Ilmul Khaer.

Sementara dalam persidangan tersebut, saat JPU menuntut selama 20 tahun penjara, keluarga korban langsung bersorak kepada JPU yang dirasa tidak adil oleh keluarga korban. ”Ini pasti ada apa-apanya, saya tidak terima dengan tuntutan yang diberikan oleh JPU itu,” lanjutnya.

Selama persidangan, terdakwa tetap seperti biasa, dengan wajah datar terdakwa mengikuti persidangan hingga ia digiring oleh puluhan anggota kepolisian dari Mapolresta Padang. Hampir tidak terlihat mimik wajah terdakwa yang dituntut oleh JPU selama 20 tahun penjara itu.

Sementara JPU Sudarmanto tidak membacakan hal yang meringankan terdakwa saat membacakan tuntutan. Dengan tidak adanya hal yang meringankan dan memberikan hukuman minimum, keluarga korban semakin naik pitam dan bersorak tentang ketidakadilan yang dialami putri mereka yang dibunuh secara sadis.

Disebutkan, hal yang memberatkan adalah terdakwa melanggar Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana, dengan ancaman maksimal hukuman mati. JPU juga menjelaskan barang bukti yang memberatkan terdakwa seperti alat yang digunakan untuk menghilangkan nyawa seseorang dan video permohonan maaf yang dibuat sendiri oleh terdakwa sebelum melakukan aksinya.

Di sisi lain, seorang ahli hukum pidana, Dr Adi Wibowo mengatakan bahwa hal tersebut bisa saja terjadi karena kemungkinan ada beberapa hal yang meringankan terdakwa seperti berperilaku baik dalam persidangan, sopan dalam persidangan dan mengakui kesalahannya.

”Menurut saya dengan hukuman minimal dari Pasal 340 yang diberikan itu, sudah sesuai prosedur persidangan dan telah dilakukan beberapa kali persidangan. Meskipun JPU menuntut dengan hukuman minimal, kan yang menentukan hasilnya nanti majelis hakim,” ujarnya.

Dengan adanya ketidak senangan pihak keluarga korban dengan tuntutan tersebut, ia menanggapi bahwa keadilan yang dikatakan oleh pihak keluarga korban merupakan sesuatu hal fleksibel. “Kalau keadilan itu kan fleksibel, jadi kalau misalnya keluarga korban merasa itu tidak adil wajar saja, dan kalau JPU menganggap tuntutannya itu sudah adil juga wajar, karena keadilan itu milik Allah yang maha adil,” sambungnya.

Sidang yang dipimpin hakim ketua Badrun Zaini, Yose Ana Roslinda dan Srihartati berjalan 30 menit dan sidang akan ditunda Senin (22/2), dengan agenda pledoi yang akan disampaikan Penasehat Hukum terdakwa. ”Ya majelis, kami akan mengajukan pledoi pada agenda sidang berikutnya,” ujar Penasehat Hukum terdakwa, Wilson Saputra.

Dalam agenda pledoi nantinya, akan dilakukan pembelaan terhadap terdakwa yang telah nyata-nyata melakukan pembunuhan berencana terhadap mantan istrinya. (h)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional