Menu

Ikut Proses Sertifikasi CHSE, Padangpanjang Usulkan 3 Rumah Makan dan 3 Destinasi Wisata

  Dibaca : 258 kali
Ikut Proses Sertifikasi CHSE, Padangpanjang Usulkan 3 Rumah Makan dan 3 Destinasi Wisata
Reynold Oktavian,

PADANG, METRO
Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Padangpanjang mengusulkan sejumlah rumah makan untuk ikut proses sertifikasi standar Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan) Safety (keamanan) dan Environment Sustainability (kelestarian lingkungan) (CHSE), yang telah ditetapkan oleh Kemenparekraf.

Kabid Disporapar Padangpanjang, Reynold Oktavian mengatakan, usulan ini merujuk arahan kementerian penerapan CHSE. Menurutnya, di Kota Padangpanjang, beberapa rumah makan belum mendapatkan sertifikasi CHSE.

Sekarang ini pihaknya baru sebatas melakukan peninjauan berkala ke rumah makan yang menerapkan protokol kesehatan. “Tapi protokol kesehatan yang diterapkan masih di bawah standar CHSE. Kita mengajak usaha rumah makan ikut CHSE,” ajaknya.

Reynold menyebutkan, untuk tahap awal ada tiga rumah makan yang rencanya diusulkan mengikuti sertifikasi CHSE. Yakni, Rumah Makan Pak Datuk, Sate Mak Syukur dan Rumah Makan Gumarang.

Selain rumah makan, Disporapar Kota Padangpanjang menyebutkan juga ada beberapa objek wisata yang juga diusulkan untuk proses sertifikasi CHSE. Yakni, Pusat Data Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDKM), Lubuk Mati Kuciang dan Minang Fantasi (Mifan). “Kalau PDKM dan Lubuk Mato Kuciang itu di bawah pemda. Sedangkan Mifan yang dikelola investor, karena itu perlu kordinasi,” ungkapnya.

Diakuinya, Pemko Padangpanjang belum mengambil langkah-langkah pasti untuk proses sertifikasi CHSE ini. Namun, dalam bulan ini akan ditindaklanjuti prosesnya. “Kita akan kordinasikan terkait CHSE ini bulan ini. Protap CHSE standarnya agak tinggi dan detail. Untuk restoran saja proses surveinya sampai ke dapur masak,” ujarnya.

Seperti diketahui, sektor yang paling terdampak dari pandemi Covid-19 ini ini adalah sektor usaha UMKM dan sektor pariwisata. Seperti yang dialami Rumah Makan Pak Datuk Cabang Dumai, di Jalan Sutan Syahrir Kota Padangpanjang. Rumah makan yang selalu ramai itu kini terlihat sepi.

Padahal, rumah makan tersebut menerapkan protokol kesehatan terhadap tamu dan pengunjung yang datang. Owner Rumah Makan Pak Datuk, Ardamili (61) menyebutkan, usaha rumah makannya selama pandemi Covid-19 jauh merosot. Penurunan konsumennya mencapai 30 persen. “Dalam sehari seperti sekarang ini, hanya 50 orang yang datang makan ke sini. Sebelum pandemi rumah makan ini penuh,” keluhnya.

Ardamili menyebutkan, di awal pandemi Covid-19 masuk Sumbar, Maret 2020 lalu, rumah makan miliknya harus tutup tiga bulan. “Kemudian, ada kelonggaran dari pemerintah yang memboleh masyarakat membuka usaha lagi. Tetapi ada aturan. Kita diminta menyediakan tempat cuci tangan, pakai masker, ukur suhu dan jaga jarak tempat duduk. Termasuk orang masak di dapur pakai masker dan pakai sarung tangan. Tapi kondisinya sekarang masih sama di awal Covid-19, masih sepi,” terangnya.

Ardamili mengakui, dirinya tidak tahu kenapa kondisi ini terjadi. Apa benar-benar karena pandemi Covid-19 atau tidak. Ardamili menyebutkan, sebelum pandemi Covid-19, rata-rata omsetnya mencapai Rp8 juta per hari. Sekarang satu hari hanya memperoleh omset Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. “Bahkan paling rendah Rp 1,3 juta dan paling tinggi hanya Rp 3 juta. Kalau dihitung rugi. Bahkan saya sudah mengistirahatkan karyawan saya. Sudah empat4 orang diminta istirahat, enam orang mundur, karena ketidakpastian nasib rumah makan ini,” ungkapnya.

Kondisi yang dialami sekarang cukup berbeda saat sebelum pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, Rumah Makan Pak Datuk ini cukup diminati. Bahkan, pengunjung banyak dari Negara Malaysia. “Sekarang tidak ada lagi datang dari Malaysia. Jakarta juga hanya sekali-sekali. Sekarang banyak yang datang pengunjung dari daerah sekitar, seperti Bukittinggi dan Payakumbuh,” ujarnya. (fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional