Menu

Hujan Lebat, Galodo Terjang Pasaman

  Dibaca : 1490 kali
Hujan Lebat, Galodo Terjang Pasaman
Direktur Registrasi dan Identifikasi Korlantas Polri Brigjen Yusuf.
poto-poto bencana banjir bandang menghantam Lambak, Nagari Panti Timur, Kecamatan Panti, Pasaman.

Endapan lumpur dan tumpukan kayu di Lambak, Nagari Panti Timur, Kecamatan Panti, Pasaman.

PASAMAN, METRO–Tidak hanya di Solsel dan Limapuluh Kota, banjir bandang atau galodo kembali menghantam Pasaman. Kali ini, banjir disertai lumpur merendam kampung Lambak, Nagari Panti Timur, Kecamatan Panti, Minggu (7/2) malam.

Puluhan rumah warga direndam air bercampur lumpur. Ratusan kubik material kayu juga hanyut disapu air luapan Batang Lambak. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Pasaman Elvi Wardi, bahwa banjir bandang menghantam perkampungan tersebut, pada Minggu malam, seusai diguyur hujan lebat.

”Galodo akibat luapan batang Lambak, habis diguyur hujan selama dua hari tanpa henti. Tidak ada korban jiwa,” kata Elvi Wardi, Senin (8/2).
Sejumlah alat berat seperti, ekskavator sudah diterjunkan untuk membuka akses jalan dan membersihkan puing-puing material kayu.

“Dinas Pekerjaan Umum (PU) sudah mengerahkan alat beratnya untuk membersihkan sisa-sisa banjir bandang. Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Sosial untuk mendistribusikan sembako bagi warga korban galodo. Ratusan warga mengungsi,” jelasnya.

Meski ketinggian air sudah surut, namun pihaknya tetap mengimbau agar warga tetap waspada. Sebab, kata Elvi, kondisi cuaca masih tak menentu. ”Kita minta warga tetap waspada, jangan dekat dengan sungai atau bukit. Cuaca masih belum menentu,” tuturnya.

Terpisah, salah seorang warga, Akmal (36) mengatakan, tempat tinggal mereka kerap dilanda banjir. Namun, musibah Minggu malam yang terparah dan terbesar melanda daerah mereka. “Ini yang terbesar dan terparah. Kami diliputi ketakutan. Beruntung masih bisa menyelematkan diri di malam mencekam itu,” ungkap Akmal.

Tidak ingin jadi korban, ia dan warga lain di tengah malam buta terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang kondisinya lebih aman. Sebagian lagi, kata dia, memilih tanah lapang sebagai tempat berlindung. ”Kami mengungsi ke rumah saudara di kampung sebelah. Ada yang bertahan, ada juga yang memilih berjaga-jaga di tanah lapang,” sebutnya. (y)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional