Menu

Hasil Jajak Pendapat Revolt Institute, Mulyadi Muslim Calon Wakil Wali Kota Padang paling Dikenal

  Dibaca : 705 kali
Hasil Jajak Pendapat Revolt Institute, Mulyadi Muslim Calon Wakil Wali Kota Padang paling Dikenal
Eka Vidya Putra Direktur Revolt Institute.

JATI, METRO–Meski pemilihan Wakil Wali Kota (Wawako) Padang pengganti Hendri Septa yang telah dilantik menjadi Wali Kota belum dimulai prosesnya di DPRD, namun se­jumlah nama sudah mengapung di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, empat nama sudah di­ungkapkan oleh dua partai, PKS dan PAN yang secara aturan bisa mengusung calon Wawako ke DPRD.

PAN disebut telah mem­­berikan dua nama yang bisa diproses menjadi Cawawako, yaitu pengurus DPP PAN yang juga pengu­saha nasional Ekos Albar dan Wakil Ketua DPRD Pa­dang Amril Amin. Semen­tara PKS mengusung Ketua DPD PKS Padang yang juga anggota DPRD Padang Mu­harlion dan Sekretaris Ma­jelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang Mulyadi Mus­lim.

H Mulyadi Muslim Lc M A, Sekretaris Umum MUI Padang

Revolt Institute, mela­lui kanal YouTube “REVOLT Official Channel” mela­kukan jajak pendapat yang lang­sung diung­kap­kan Direktur Revolt Institute Eka Vidya Putra, 24 Juni 2021 lalu. Melalui video berdurasi sekitar 25 menit itu, Eka menyebut, jajak pendapat mereka digelar satu hari melalui sam­bu­ngan telepon pukul 10.00 sam­pai 20.00 WIB. Se­ba­nyak 50 orang dija­dikan sampel yang diwa­wan­carai.

“Kami ingin terus mem­bincangkan dinamika poli­tik Kota Padang tentang pemilihan Wakil Wali Kota. Kami menilai, hampir se­tiap proses politik, ber­langsung secara elitis. Se­perti Cawawako, diusulkan partai politik, lalu dipilih DPRD Padang. Kita tidak menemukan di mana posisi warga dalam me­milih Ca­wawako. Semesti­nya war­ga punya hak ber­partisi­pasi. Itulah inti de­mokrasi,” kata pengajar Universitas Negeri Padang (UNP) ini.

Mencermati itulah, kata Eka, mereka melihat bagai­mana posisi rakyat dalam Pilwawako dengan jajak pendapat melalui tele­pon.­”Ada empat pertanyaan yang kami sampaikan, bisa juga memastikan, apakah calon-calon yang kemung­kinan diusulkan PAN dan PKS itu dikenal masyarakat atau tidak. Hasilnya, cukup mengejutkan,” kata Eka Vidya.

Revolt Institut, sebut Eka, memberikan perta­nyaan sejauh mana res­pon­den mengenal calon yang akan dimajukan par­tai politik. Hasilnya, Mulya­di Muslim menjadi calon teratas dibandingkan tiga nama lainnya. Karena, kader PKS itu dikenal 36 persen dan 64 persen me­nga­ku tidak mengenal. “Cu­kup banyak dibanding­kan calon lain,” katanya.

Sementara anggota DPRD  Murharlion hanya dikenal 16 persen dan seba­nyak 84 persen tidak me­ngenal. Disusul Ekos Albar yang dikenal 14 persen, tidak mengenal 86 persen dan  Amril Amindikenal 14 persen, tidak mengenal 86 persen.

“Jika benar salah satu dari keempat orang ini akan jadi Wawako, dapat dipastikan lebih dari se­paroh warga Kota Padang tidak mengenal. Bukankah dalam semangat demo­krasi, yang menjadi kepala daerah adalah yang me­nge­nal dan dikenal oleh rakyat. Karena itu ada Pilkada langsung digelar, supaya pejabat dimenal atau mengenal warga,” katanya.

Eka menyebut, angka yang dihasilkan dari jajak pendapat ini baru sekadar popularitas atau tingkat keterkenalan, bukan elek­tabilitas atau tingkat ke­terpilihan. “Tentunya elek­tabilitas bisa jadi turun.­Karena biasanya ang­ka elektabilitas lebih ren­dah dari popularitas. “Jejak pendapat kita ini seperti membenarkan, ma­sya­ra­kat, warga kota peme­gang hak demokrasi itu terping­girkan,” kata­nya.

Pertanyaan lainnya, kata Eka, siapa nama yang layak menggantikan Hen­dri Septa dalam perta­nya­an terbuka. Orang yang ikut jajak pendapat, boleh mengusulkan siapa saja. “Hasilnya, 82 persen me­nya­takan tidak tahu dan yang paling tinggi seba­nyak 4 persen Mulyadi Mus­lim. Sementara calon-calon yang muncul lainnya hanya di kisaran 2 persen saja,” kata Eka.

Nama-nama yang mun­­cul berikutnya setelah Mulyadi Muslim adalah  Hendrizal (Pejabat Pemko Padang) 2 persen, 2 persen Maigus Nasir (anggota DPRD Sumbar), 2 persen Desri Ayunda (Cawako 2013 dan Cawawako 2018), 2 persen M Ichlas El Qudsi (mantan anggota DPR RI dan Cawako 2013), 2 persen Indra Catri (Bupati Agam dan Cawagub Sumbar 2020). “Ada yang menyebut usulan Pemko Padang dan belum bisa memastikan siapa yang dicalonkan,” kata Eka.

Artinya, sebut Eka, ha­nya Mulyadi Muslim yang mendapatkan angka 4 per­sen. Dari data ini, penge­ta­huan masyarakat Kota Pa­dang terhadap elite politik masih rendah. Bahkan 82 persen dia tak punya refe­rensi, siapa yang menjadi tokoh di Kota Padang. Kota yang ada banyak pergu­ruan tinggi, kantor partai politik, tapi kurang melekat di warga kita.

“Meski ada 5 nama yang muncul, ini menun­juk­kan, banyak tokoh yang ti­dak terbicarakan di parpol, tapi di masyarakat dibica­ra­kan. Ini seharusnya men­­jadi pertimbangan dari par­pol, ketika menjadi pem­­­bi­caraan pencarian ca­­lon wakil wali Kota Pa­dang,” kata Eka.

Eka menyebut, Revolt Institute juga menanyakan ting­kat pengetahuan res­ponden terhadap informasi siapa yang berhak mengu­sul­kan Cawawako meng­gan­ti­kan Hendri Septa. Ada empat opsi yang disam­paikan, pertama partai pe­ngu­sung Mahen (Mah­yel­di-Hendri Septa), semua pa­rpol yang ada kursi DPRD Padang, usulan dari masyarakat kota dan tidak tahu. “Hasilnya  36 persen menyebut partai pengu­sung, 12 persen semua parpol, 42 persen usulan masyarakat, 10 persen tidak tahu,” katanya.

Menariknya, sebut Eka, ada 36 persen yang jawa­ban­nya betul, yaitu di­usung parpol Mahen. Tapi 42 per­sen mengatakan, yang me­ngu­sul, usulan warga kota. “Ada penge­ta­huan masya­rakat yang­diusul­kan adalah yang me­reka usulkan. Bisa jadi masyarakat menunggu, siapa yang akan diusulkan calon. Artinya, parpol ha­rus­nya meminta aspi­rasi war­ga,” katanya.

Pertanyaan yang agak serupa, siapa yang akan memilih Wawako Padang mengantikan Hendri Septa. Pertama partai pengusung Ma­hen, semua parpol DPRD Padang melalui si­dang paripurna, masya­rakat Kota Padang yang punya hak pilih, tidak tahu. “Hasilnya 24 persen me­nye­but partai pengu­sung Mahen, 24 persen semua parpol di DPRD Padang, 44 oleh masyarakat Kota Pa­dang, 6 persen tidak tahu,” katanya.

Artinya, sebut Eka, ma­sih 24 persen warga yang tahu bagaimana cara pe­milihan Wawako. Artinya, cukup sedikit yang tahu warga dengan cara ini. Ada kekurangan pengetahuan warga kota terkait masalah politik ini. “Akhir kata,  kita akan memilih, siapa yang akan mendampingi Hendri Septa memimpin Padang, Demokrasi akan hadir jika ada aktor-aktor demokrasi. Jadilah aktor demokrasi yang mengedepankan hak konstitusional warganya. Yang ada di depan adalah dorongan untuk menge­de­pankan partisipasi politik rakyat,” katanya. (rom)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional