Close

Harga Beras tak Bersahabat, Tembus Rp27.000/Gantang, Pedagang Mengeluh, Emak-emak Pusing

TERUS MERANGKAK NAIK— Komoditi beras saat ini terus mengalami kenaikan yang membuat pedagang ikut mengeluh karena mengalami penurunan omzet. Pedagang mengaku kenaikan harga beras disebabkan masa panen yang tidak baik.

PASAR RAYA, METRO–Harga beras pada awal tahun 2023 masih terus mengalami kenaikan. Komoditi pokok tersebut terpantau masih merangkak naik di awal tahun ini, di atas Rp24.000 hingga Rp27.000 per gantang untuk beras kualitas super.

Sementara untuk harga telur ayam yang sebelumnya mengalami kenaikan, saat ini sudah kembali stabil. Kenaikan sejumlah kebutuhan pokok tersebut ternyata tidak hanya dikeluh­kan para ibu rumah tangga, namun pedagang juga ikut kewalahan, karena berpengaruh kepada omzet penda­patan mereka setiap harinya.

Putra, salah seorang pedagang beras mengungkapkan, harga beras saat ini terus mengalami kenaikan. Bahkan, kenaikan ini sudah terjadi semenjak pertengahan tahun 2022 lalu sampai sekarang.

“Harga tersebut tidak serta-merta naik, melainkan merangkak Rp.1000. Kemudian naik lagi hingga saat ini rata-rata sudah naik antara kisaran Rp3.000 hingga Rp4.000 untuak semua jenis beras,” kata Putra kepada POSMETRO, Rabu (25/1).

Menurut Putra, untuk beras Bukittinggi naik dari Rp23.000 menjadi 24.000 s/d 27.000 per gantang. Kemudian, beras anak daro naik dari Rp22.000 menjadi Rp26.000 per gantang.

Harga yang sama juga terjadi untuk beras Solok atau Sokan Super. Beras ini untuk ukuran karung 10 kilogram dijual antara Rp160.­000 hingga Rp170.­000. Harga ini jauh lebih mahal di­banding sebelumnya yang hanya dijual Rp135.­000.

“Sekarang, karena beras sangat mahal dan tidak turun, pembeli lebih banyak beli per gantang saja. Biasanya kan banyak yang beli ukuran karung 10 kg. Tapi, sejak beras mahal lebih banyak yang belanja beras per gantang saja,” sebut Putra.

Selanjutnya, untuk beras IR pesisir naik dari Rp20.000 menjadi Rp22.000 per gantang, beras IR 42 Jambi naik dari Rp18.000 menjadi Rp21.000. Harga-harga ini adalah per gantang, jadi harga per gantang naik rata-rata Rp2.000 sampai Rp3000,” terangnya.

Dengan kondisi saat ini, menurut pedagang, peminat pembeli sangat menurun. Pengurangan ini dirasa cukup signifikan oleh pedagang, karena sebagian pembeli juga perlu me­nye­imbangi uang dapur untuk membeli beras dengan membeli kebutuhan sembako yang lain, seperti cabai, minyak goreng, ikan dan lain-lain.

Pedagang beras lainnya, Eri  juga mengaku, pembeli sekarang akan menyeimbangi beli beras dengan membeli kebutuhan lain. Jika biasanya membeli perkarung 30 kg mungkin menjadi 10 kg, untuk menyeimbangi yang lain. Dan, biasanya yang membeli 10 kg menjadi 5 kg.

Menurut Eri, kenaikan harga beras disebabkan panen yang buruk yang dialami petani. “Kalau hal ini (panen yang buruk) terjadi karena pupuk, atau karena yang lain, pemerintah semoga cepat mengantisipasi,” imbuhnya.

Berbeda dengan beras, harga telur saat ini di Pasar Raya Padang saat ini justru mengalami penurunan. Telur ayam beras turun dari Rp55.000 menjadi 50.000 per lapiak. Dengan se­lisih harga mencapai 5000-an, ini pun dirasa ma­sih tinggi oleh pedagang.

Hal itu diungkap oleh Depi, pedagang telur di Pasar Raya padang, “Kalau bisa harganya turun lagi, dulu itu biasanya harga 45.000 – 40.000-an. Harga 45.000 itu masih tinggi bagi masyarakat, apalagi di atas 45.000,” ujarnya.

Senada dengan yang dijelaskan Depi, Ratna, salah seorang ibu rumah tangga embeli juga mengungkapkan hal serupa. Menurutnya dengan harga pangan tersebut dirasa masih tinggi. Sebagai seorang ibu, ia pun pusing me­mi­kirkan harga kebutuhan pokok yang tak turun-turun.

“Menurut saya masih mahal juga sih, semoga harga bisa standar jangan naik turun-naik turun. Sa­ma-sama kita ketahui jugalah keadaan ekonomi saat ini seperti apa. Agak ter­­bebani iya, soalnya apa-apa semuanya naik, seperti cabai, beras. Apalagi mau mengahadapi momen puasa dan lebaran,” ungkap Ratna.

Semuanya berharap agar pemerintah dapat menelisik permasalahan harga ini dan mencarikan solusi terbaik, oleh karena harga yang tinggi ini ka­dang juga mempengaruhi kualitas produk, adanya indikasi perbedaan kualitas antara karung 1 dengan karung 2.

“Semoga pemerintah bergerak cepat dan mela­kukan tinjauan ke pasar untuk dapat menstabilkan harga,” pungkasnya. (cr2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top