Close

Harga Barang dan Logistik Mahal Sampai ke Konsumen, Wagub: Ada 30 Persen Biaya Siluman yang Dikeluarkan

PEMBUKAAN—Wagub Sumbar, Audy Joinaldy, bersama Ketua DPW ALFI/ILFA Sumbar, Isra Dharma Suryandra, Sekjen DPP ALFI/ILFA, Akbar Djohan dan Ketua Panitia, Max Octris Rivai membuka Muswil ke-III DPW ALFI/ ILFA Sumbar, Rabu (21/9) di Padang.

PADANG, METRO–Wakil Gubernur Suma­tera Barat (Wagub Sumbar) Audy Joinaldy meng­ung­kapkan, distribusi barang dan logistik di Indonesia paling ruwet dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara,  “Katanya ni ya, logistik di Indonesia itu pa­ling ruwet dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Katanya lagi, logistik di Indonesia cost (biaya-red)-nya paling tinggi. Sehingga barang sampai ke konsumen harganya mahal,” ungkap Audy, saat membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-III DPW Aso­siasi Logistik dan Forwar­der Indonesia (ALFI)/ Indonesian Logistics and Forwarders Association (ILFA) Sumbar, Rabu (21/9) di salah satu hotel di Pa­dang.

Di hadapan Pengurus ALFI/ILFA, Audy juga mem­pertanyakan, kenapa di Kuala Lumpur dan di Bangkok, membeli sayur-sayuran harganya lebih murah dibandingkan Jakarta? Padahal, menurutnya, harga di tingkat petani sudah lebih rendah. “Kenapa sayur-sayuran sudah sampai di konsumen menjadi mahal?” tanyanya. Termasuk juga harga makanan di mal-mal di Kuala Lumpur dan Bangkok. Juga lebih murah dibandingkan harga makanan di mal-mal di Jakarta.

Audy mengungkapkan, salah-satu faktor pe­nye­babnya karena ada 30 persen biaya siluman dari pengiriman logistik yang harus dikeluarkan. “Ada 30 persen biaya logistik biaya siluman. Ini tugas kita bersama (ALFI/ILFA). Yang terkorbankan itu konsu­men,” tegasnya.

Tidak dipungkiri Audy, komoditi pertanian yang dihasilkan dari petani untuk sampai ke tangan konsumen, mata rantai distribusinya cukup panjang. Bahkan, Audy menceritakan pengalamannya sebagai pengusaha,  saat dirinya mengirim pakan ternak dari Makasar ke Kupang harus mengeluarkan biaya sampai Rp14 juta melalui door to door.  “Pa­dahal, kalau melalui kargo pesawat mengirimnya biayanya tidak sampai Rp14 juta. Dampak mahalnya biaya pengiriman, membuat harga pakan ternak jadi­nya lebih tinggi,” terangnya.

Dengan kondisi seperti ini, menurut Audy, wajar saja barang dan logistik dari Tiongkok gampang masuk ke Indonesia. Ka­rena biaya pengiriman ba­rang dan logistik dari Tiong­kok justru lebih murah.

Salah satu solusi mengatasi masalah biaya ba­rang dan logistik ini menurutnya, dibutuhkan tek­nologi. Di mana teknologi tersebut mampu mengatasi pengeluaran biaya siluman yang sebesar 30 persen tadi. “Butuh ranca­ngan teknologi 4.0 untuk atasi biaya siluman tersebut,” tegasnya.

Secara geografis, me­nurut Audy, letak dan posisi Provinsi Sumbar sedikit kurang beruntung. Karena jika harus mengekspor barang ke Tiongkok dan negara asia lainnya dari Pelabuhan Teluk Bayur, harus memutar dulu de­ngan jarak yang jauh dan transit dulu ke Pelabuhan Tanjung Priok menuju Tiong­kok.

Namun, dengan posisi geografis ini, Provinsi Sum­bar juga bisa me­ng­i­rim logistik dan barang ke daerah India dan sekitar­nya yang jaraknya lebih dekat. Dengan kondisi ini, menurut Audy mestinya biaya kirim barang dan logistik ke India lebih murah dibandingkan ke Tiongkok. Meski demikian, menurut Audy, Sumbar juga pernah berhasil mengekspor mang­gis ke Tiongkok beberapa waktu lalu. “Manggis yang dikirim ke Tiong­kok didirect langsung melalui pesawat Citilink. Meski akhirnya pengiriman berdampak kerugian yang jumlahnya mencapai Rp50 juta sampai Rp100 juta akibat besarnya biaya pengiriman. Masalah ini harus dipikirkan bersama sama,” ajaknya.

Termasuk juga biaya pengiriman sapi dari Australia ke Jakarta. Justru le­bih murah dibandingkan dari Lombok ke Jakarta. “Ini kenapa terjadi? ung­kapnya lagi. Audy berharap, melalui Muswil ke-III DPW ALFI/ILFA Sumbar ini dapat melahirkan kepengurusan baru yang dapat berkordinasi dengan Pemprov Sumbar untuk memperbaiki kondisi ba­rang dan logistik saat ini. “Silahkan koordinasikan, apa yang perlu benahi. Banyak hasil bumi dari Sumbar yang bisa diekspor ke luar negeri. Semuanya akan berdampak manfaat cukup besar untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” harapnya.

Ketua DPW ALFI/ILFA Sumbar,  Isra Dharma Su­ryandra mengatakan, komoditi perkebunan dan pertanian yang diekspor dari Sumbar cukup beragam. Seperti, kasiavera, pinang, kopi dan rempah rempah lainnya. Tujuan negara ekspornya bera­gam. Ada yang ke Tiong­kok, Jepang, India, Banglades, Pakistan dan Negara-negara Eropa serta A­merika Serikat.

Melalui Muswil ke-III DPW ALFI/ILFA Sumbar ini diharapkan hasilnya dapat menemukan solusi, agar distribusi barang dan logistik dapat lebih efektif dan efisien. Isra juga berharap, dengan dukungan pemerintah daerah, agar ekspor komoditi Sumbar tidak melalui daerah lain, tetapi dapat efektif dan efisien melalui Pelabuhan Teluk Bayur.

Kantor Kesahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Teluk Bayur Pa­dang, Wigyo berharap fung­si ALFI/ILFA me­ny­a­lurkan barang dan logistik disupport oleh mitra lainnya seperti Organda Sumbar dan asosiasi lainnya. Sehingga, peran ALFI/ILFA jadi instrument untuk meningkatkan daya saing produk dan pengemba­ngan wilayah di Sumbar dapat berjalan dengan baik. “Sebuah negara akan maju kalau logistiknya kuat. Peran ALFI/ILFA ini luar biasa. Akhir-akhir ini lebih banyak mengekplorusif, sehingga aliran kargo lancar. Itulah fungsi logistik sebenarnya. Ini tanggung jawab ALFI/ILFA,” harapnya.

Sekjend DPP ALFI/IL­FA, Akbar Djohan mengatakan, ALFI/ILFA saat ini berusia 33 tahun dan sudah hadir di 33 provinsi di Indonesia. Jumlah anggotanya hampir 6 ribu perusahaan. Khusus DPW ALFI/ILFA Sumbar jumlah anggota­nya sekarang baru 35 perusahaan.

Akbar mengungkapkan, pembangunan jalur Trans Sumatera hampir menyatukan Sumatera Selatan hingga sampai ke Aceh. Isu biaya logistik yang tinggi akan terus bergulir kalau ALFI/ILFA tidak berbenah diri. “ALFI/ILFA sekarang agregator pertumbuhan perdagangan logistik dan internasional,” terangnya. Akbar me­ng­ungkapkan, Covid-19 sudah berlalu karena pemerintah bisa memanage-nya. Namun kewaspadaan tetap harus ada. Namun, tanta­ngan global lainnya yang dihadapi ketidakpastian yang ditimbulkan akibat dampak global. Salah sa­tunya dampak perang Rusia-Ukraina.  “Ini tantangan dan juga jadi oportunity. Optimalisasi peran ALFI/ILFA untuk meningkatkan daya saing produk dan pertumbuhan ekonomi jadi janji bagi kita. Semuanya tidak akan bisa bergerak kalau SDM terbatas dan tidak terdistribusi dengan baik,” ungkapnya.  “Karena itu, semuanya dapat dimulai dari Sumbar de­ngan mendorong pemerintah daerah menghadirkan regulasi yang meminima­lisir menghambat arus ba­rang,” harapnya.(fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top