Menu

Hanya 1 Gol Havertz…Chelsea Juara

  Dibaca : 72 kali
Hanya 1 Gol Havertz…Chelsea Juara
Chelsea berhasil menjadi juara Liga Champions musim ini, usai memenangkan laga final kontra Manchester City.

Chelsea berhasil menjadi juara Liga Champions musim ini, usai memenangkan laga final kontra Manchester City. The Blues menang tipis 1-0 atas The Citizens.

Final Liga Champions 2020/2021 mempertemu­kan dua wakil Premier League, Man City vs Chelsea. Pertandingan digelar di Stadion do Dragao, Portugal, Minggu (30/5) dinihari.

Kedua kesebelasan ber­main menekan sejak awal pertandingan. Meski begitu, Chelsea menjadi tim yang mampu meme­cah kebuntuan lebih dulu di babak pertama.

Kai Havertz sukses mem­bobol gawang Man­chester City pada menit ke-42 lewat bola sepakannya ke ga­wang kosong, usai memperdaya kiper Eder­son Moraes. Chelsea ung­gul 1-0 hingga turun mi­num.

Man City meng­gempur di awal ba­bak kedua guna me­ngejar ke­tertinggalan. Rapatnya barisan per­ta­ha­nan Chel­sea masih sulit ditembus Phil Foden dkk.

Chelsea mampu me­n­ja­ga konsentrasi dan mem­pertahankan ke­unggulan mereka hing­ga wasit me­niup pluit akhir pertan­dingan. Laga tuntas untuk ke­menangan skuad asu­han Tho­mas Tuchel itu 1-0.

Dengan hasil ini, Chel­sea keluar sebagai jawara Liga Champions 2020/2021. Klub asal London itu me­ngulangi pres­tasi mereka di tahun 2012 kala mereka me­me­nangkan trofi Si Ku­ping Besar un­tuk pertama kali­nya.

Ini juga menjadi trofi Liga Champions kedua Chelsea sepanjang sejarah klub. The Blues menyamai jumlah perolehan titel Liga Champions milik tim Ing­gris lainnya, Nottingham Forest, serta menjadi klub London dengan gelar ter­tinggi Eropa terbanyak.

Untung Ada Gol Havertz

Kai Havertz menjadi pahlawan Chelsea di laga final Liga Champions kon­tra Manchester City. Gol semata wayangnya me­ngantarkan The Blues ke tangga juara.

Havertz bermain seba­gai starter dalam partai final pada dinihari WIB itu. Pemain asal Jerman itu cukup kesulitan menembus pertahanan The Citizens.

Opta mencatat, Ha­vertz membukukan 28 pas­sing dan hanya sekali me­lepaskan tembakan selama berada di lapangan. Satu-satunya tendangan da­rinya itu dilakukan pada menit ke-43.

Menerima umpan Mason Mount, Kai Havertz berhasil mengontrol bola dan mengelabui kiper Eder­­­son Moraes. Pemain 21 tahun itu kemudian me­nembak bola masuk ke gawang yang kosong me­lompong.

Havertz melampiaskan kebahagiaannya selepas pertandingan. Mantan pe­main Bayer Leverkusen itu sampai tak bisa berkata-kata usai mencatatkan na­manya di buku sejarah Chel­sea, yakni se­bagai pencetak gol kemenangan timnya di final Liga Champions.

“Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya benar-benar bingung mesti bilang apa. Saya sudah me­nung­gu ini lama se­kali,” kata Havertz, dikutip dari BBC.

“Sekarang sa­ya ingin berte­ri­ma kasih kepada ke­luarga sa­ya, orang tua saya, nenek dan pacar sa­ya. Saya tak tahu lagi harus berkata apa,” dia me­nam­bahkan.

“Saya telah me­nunggu 15 tahun un­tuk saat ini dan se­karang saya su­dah di sini,” demikian kata Kai Havertz se­lepas mengan­tarkan Chel­sea menjadi jawara Liga Champions.

Pertahanan Chelsea Dapat Pujian

Tidak heran apa­bila Chel­sea menda­patkan ba­nyak pujian dari berbagai kala­ngan. Pasalnya, klub besutan Thomas Tuchel itu menjuarai Liga Champions.

Satu hal yang membuat publik terpukau adalah bagaimana pertahanan Chelsea mampu me­net­ralisir bomber Manchester City yang beranggotakan Riyad Mahrez, Kevin De Bruyne dan Raheem Sterling. Me­reka benar-benar tidak buat berdaya.

Sampai peluit panjang dibunyikan, Manchester City hanya mampu meng­hasilkan satu tembakan tepat sasaran meski me­miliki penguasaan bola sebesar 61 persen. Alhasil, the Citizens harus rela melihat trofi jatuh ke pe­lukan Chelsea.

Publik pun memberikan apresiasi setinggi langit kepada Chelsea yang mam­pu bertahan dengan sangat apik di tengah gem­puran Manchester City. Taktik yang diterapkan Thomas Tuchel selaku pela­tih sampai diguyur banyak pujian.

Salah satu pujian da­tang dari mantan arsitek Arsenal, Arsene Wenger, yang sekarang menjabat salah satu posisi penting di FIFA. Ia takjub melihat Tuchel mengoperasikan dua pemainnya, Mason Mount dan Kai Havertz.

“Saya harus bilang apa yang dilakukan Tuchel itu bagus, dia memainkan Mount dan Havertz lebih ke dalam ketika bertahan. Sehingga Man City tak bisa menemukan jalan lewat tengah dan harus melebar. Chelsea cukup kuat malam ini,” ujarnya kepada beIN Sports.

“Man City menga­lami masalah taktik besar yang tak bisa diselesaikan pada malam ini. Mereka tidak seimbang, tidak me­ne­mu­kan permainan untuk me­mainkan strategi yang ta­jam, dan Chelsea meng­hentikan mereka dengan baik,” lanjutnya.

Secara permainan, Man City lebih do­mi­nan dalam pengua­saan bola. Namun Chelsea bermain rapat dan gigih untuk me­netralkan ancaman-anca­man lawan.

Mantan manajer Arsenal Arsene Wenger menilai dalam kadar tertentu, cata­tan pertemuan kedua tim berpengaruh secara mental. Manchester City seper­ti diketahui selalu kalah dalam dua pertemuan se­be­lumnya kontra Chelsea polesan Thomas Tuchel.

Ia percaya aspek mental itu memperkuat per­ta­rungan di lapangan. Chel­sea yang bermain solid dan disiplin membuat Man City kesulitan menemukan celah untuk menyerang.

“Final itu sebuah laga satu kali, dan di sanalah Anda harus muncul dan bermain di level terbaik. Hari ini saya harus bilang itu tidak terjadi. Tapi Anda bilang mereka kalah dua pertemuan lawan Chel­sea,” ungkap Arsene We­nger kepada beIN Sports dikutip Metro.

Guardiola Masih yang Terbaik

Terlepas dari itu, We­nger tetap menjagokan Josep Guardiola sebagai pelatih terbaik tahun ini di Inggris. Bagaimanapun juga, Guardiola berja­sa membawa Man­chester Ci­ty juara Premier League.

“Saya masih akan me­ngatakan kalau Guardiola baru saja terpilih sebagai pelatih terbaik di Inggris, sebab dia men­juarai Premier Lea­gue dan men­do­minasi,” tam­bahnya.

“Final hanya­lah stu per­tan­di­ngan, dan itulah saat anda harus tam­pil dan me­main­kan kemampuan ter­baik. Hari ini saya ha­rus berkata untuk Man City, masalahnya tidak di situ,” pungkasnya.

Laga Perpisahan yang Pahit untuk Aguero

Mimpi apa Sergio Ague­ro, di penampilan ter­akhir­nya bersama Man­chester City dia jus­tru mendapat pe­nga­laman buruk.

Diketahui pe­main asal Argentina ini tidak di­per­pan­jang kontraknya untuk musim depan. Apes bagi eks pe­main At­letico Mad­rid, Man­City akhirn­ya kalah dengan skor 0-1.

Hal yang makin me­nyedihkan adalah Aguero hanya turun selama 13 menit di pertandingan ter­se­but. Dia baru masuk di menit ke-77 menggantikan peran Reheem Sterling.

Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Aguero dia pun tidak sekalipun mele­paskan sepakan ke gawang The Blues.

Dilansir BT Sport, usai pertandingan, Aguero me­luapkan perasaannya. Dia tertangkap kamera berse­dih hati, ma­tanya berli­nang air mata tanda ke­cewa.

Itu adalah ungkapan kesedihannya karena ga­gal memberikan kado ma­nis di laga perpisahan ber­sama ManCity. Sejumlah rekan di ManCity dan Chel­sea menghampirinya un­tuk menghibur.(*/rgr)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional