Menu

Hadirkan Nuansa Tersendiri, Hewan Kurban Sebelum Disembelih Didandani, di Sila­yang, Jorong IV Parik Parik Panjang, Nagari Lubukbasung

  Dibaca : 91 kali
Hadirkan Nuansa Tersendiri, Hewan Kurban Sebelum Disembelih Didandani, di Sila­yang, Jorong IV Parik Parik Panjang, Nagari Lubukbasung
DIDANDANI—Hewan kurban sebelum disembelih terlebih dahuu didandani di Silayang, Jorong IV Parik Parik Panjang, Nagari Lubukbasung.

AGAM, METRO–Setiap daerah mempunyai cara masing-masing dan tradisi terendiri dalam penyelenggaraan penyem­belihan hewan kurban. Seperti tradisi yang dilakukan masyarakat di Sila­yang, Jorong IV Parik Parik Panjang, Nagari Lubukbasung, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam.

Hewan kurban sebelum disembelih, terlebih dahulu didandani lalu diarak masyarakat ke lokasi penyembelihan dengan menjujung jamba. Adapun yang menjadi isi jamba yang dibawa oleh peserta kurban antara lain, nasi kuning, lepat inti, bedak lengkap de­ngan cermin, sisir, kain dan wewangian.

Sampai di lokasi penyembelihan, hewan kurban seperti sapi dan kam­bing diberi makan, didandani dan dipasangkan kain putih sebagai pakai­an. Perlakuan yang demikian terhadap hewan kurban yang disembelih se­bagai pemaknaan dari bentuk kasih sayang Nabi Ibrahim kepada anaknya Nabi Ismail.

“Karena itu anak satu- satunya, tentu kasih sayang ibu dan bapak tercurah kepadanya. Untuk itulah diberi kasih sayang, dengan cara diberi pakaian, diberi bedak dan disisir,” ujar Anto Dt. Basa salah seorang tokoh masyarakat usai prosesi penyem­belihan, Selasa (20/7).

Anto Dt. Basa ninik mamak Silayang inimengatakan, tradisi tersebut sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam, yang hingga kini terus dipertahankan.

Dikatakan, hewan qurban seperti sapi dan kambing didandani langsung oleh peserta qurban. Hal tersebut bermaksud untuk menunjukan kesaba­ran, keikhlasan dan pengorbanan, agar hewan yang dikurbankan menjadi bersih. “Tradisi ini tetap diperta­hankan, untuk mengingat kasih sa­yang, kesabaran dan keikhlasan nabi,” tutur Anto Dt Basa.

Dikatakan, selesai pemotongan bagi yang berkurban disarankan me­lakukan sha­­lat sunat dua rakaat. “Hal demikian se­­bagai bentuk syukur kepa­da Allah S­WT yang telah memberikan rezeki se­pan­jang tahun,” jelas Anto Dt. Basa lagi.

Dalam tradisinya, setelah pemo­tongan hewan kurban kemudian dila­kukan prosesi makan bersama. “Ma­kan bersama menyiratkan bentuk kebersamaan yang terjalin di antara masyarakat,” ulasnya. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional