Menu

Hadapi Tantangan Industri 4.0, Tingkatkan Kualitas Kelembagaan dan Akses Modal Koperasi

  Dibaca : 306 kali
Hadapi Tantangan Industri 4.0, Tingkatkan Kualitas Kelembagaan dan Akses Modal Koperasi
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyerahkan piala kepada koperasi berprestasi di Sumbar, beberapa waktu lalu.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengingatkan pengurus koperasi di Provinsi Sumbar, agar meningkatkan kualitas kelembagaannya. Termasuk juga akses modal. Saat ini sudah ada BUMD yang membantu permodalan, seperti Jamkrida dan Bank Nagari. “BUMD ini akan membantu selama ikut prosedur. Jika semua dilakukan maka daya saing meningkat, penghasilan bertambah. Standar lisensi serta standarisasi produk juga harus ditingkatkan. Termasuk juga akses pasar dan lainnya,” ungkapnya.

Era industri 4.0 menjadi tantangan yang semakin rumit, dengan perubahan tekhnologi informasi yang cukup pesat. Di era ini pola gaya hidup generasi milenial berubah dengan menginginkan semua serba instans, yakni mudah cepat murah dan aman. Karena itu, koperasi harus mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan bertansformasi dengan lingkungan yang dinamis.

Untuk menghadapi era industry 4.0 ini, perlu dibangun insan koperasi yang memiliki karakter kreatif dan inovatif dan dapat beradaptasi.

“Kreativitas dan inovasi yang tinggi dalam menata koperasi dan strategi bisnisnya. Melakukan pengelolaan dan pembinaan kelembagaan koperasi. Memilih insan koperasi yang professional dengan memanfaatkan tekhnologi informasi dan memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan, dan menjalankan koperasi berdasarkan prinsip koperasi,” ujarnya.

Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit mengatakan, koperasi memiliki tantangan baru dengan mengubah cara berbisnis dengan memanfaatkan teknologi dan informasi semata, namun perlu pelatihan dalam sistem tata kelola.

“Kita harus mempersiapkan diri, dengan reformasi koperasi, kualitas dan manfaat koperasi semakin diperjelas yakni mensejahterakan rakyat. Koperasi di Sumbar harus lebih objektif,” kata Nasrul Abit.

“Agar masyarakat bisa lebih memanfaatkan keberadaan koperasi, karena Koperasi bukan hanya tempat simpan pinjam saja tapi sudah banyak lagi jasa yang ditawarkan kepada masyarakat,” sambungnya.

Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumbar selama ini telah melaksanakan program dan kegiatan pemberdayaan koperasi. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumbar, Zirma Yusri menyebutkan, pemberdayaan koperasi merupakan suatu upaya menumbuhkan iklim usaha yang kondusif dalam pengembangan usaha koperasi.

Saat ini, perkembangan koperasi baik yang memiliki usaha sektor riil dan non riil, maupun usaha simpan pinjam mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator kinerja koperasi. Seperti, peningkatan asset, volume usaha dan permodalan koperasi.

Data Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumbar menyebutkan, total jumlah koperasi di Sumbar hingga akhir tahun 2018 sebanyak 3.624 unit koperasi. Dari jumlah tersebut, koperasi aktif sebanyak 2.815 unit dan tidak aktif sebanyak 809 unit koperasi. Jumlah koperasi yang telah melaksanakan RAT sekitar 1.404 (50,78 persen) dari jumlah koperasi aktif.

Zirma Yusri menyebutkan, animo masyarakat untuk menjadi anggota koperasi paling banyak pada tahun 2018 lalu, yakni di Kota Padang, dengan jumlah mencapai 206.295 orang. Sedangkan yang paling sedikit di Kabupaten Kepulauan Mentawai (4.680 orang).

Volume usaha koperasi di Provinsi Sumbar pada tahun 2018 sekitar Rp5,75 triliun, yang berasal dari sektor usaha riil dan simpan pinjam koperasi. Volume usaha paling banyak terdapat pada Kota Padang, sebesar Rp2,7 triliun dan paling sedikit Kabupaten Kepulauan Mentawai (Rp4,7 miliar).

Koperasi di Sumbar cukup banyak memiliki asset di atas Rp2 miliar. Yaitu, berjumlah 468 koperasi. Paling banyak terdapat di Kota Padang, yakni 107 koperasi dan paling sedikit di Kabupaten Kepulauan Mentawai, sebanyak 1 koperasi.

Langkah-langkah yang dilakukan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumbar dalam pemberdayaan koperasi, dengan meningkatkan peran kelembagaan. Koperasi yang diarahkan pada peningkatan perannya dalam melakukan fasilitasi kegiatan organisasi dan perintisan pengembangan usaha, penciptaan pasar dan sumber pembiayaan.

Langkah lainnya, mengembangkan akses pembiayaan bagi koperasi ke sumber-sumber pembiayaan, untuk pengembangan usaha. Seperti, pengembangan kelembagaan dan layanan lembaga keunagan termasuk koperasi. Selain itu, lembaga keuangan dan pebankan serta lembaga pembiayaan lainnya, sebagai system yang terintegrasi.

Selanjutnya, mepeluas akses pasar dan meningkatkan daya saing koperasi dengan memberikan dukungan kemudahan untuk mengakses informasi pasar. Akses pasar juga dilakukan dengan melaksanakan promosi, pengembangan jaringan kerja, pencadangan lokasi usaha dan perlindungan dari persaingan usaha yang tidak sehat. Langkah pemberdayaan berikutnya dengan meningkatkan penguasaan tekhnologi bagi peningkatan dan kesinambungan produktivitas dan kualitas produk/jasa yang dihasilkan.(adv)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional