Menu

Guspardi Gaus; Modal Sejuta jadi 15 Outlet Swalayan

  Dibaca : 4532 kali
Guspardi Gaus; Modal Sejuta jadi 15 Outlet Swalayan
Bacawagub Sumbar Audy Joinaldi menemui Bupati Solok, Gusmal di rumah dinas Bupati Solok dikawasan Arosuka, Selasa (22/9) sore.
Guspardi Gaus - web

Guspardi Gaus

PADANG, METRO–Mungkin Citra Swalayan tak asing lagi terdengar di telinga masyarakat. Ya, swalayan ini menjadi pusat perbelanjaan kebutuhan harian terbanyak di Sumbar. Ada sebanyak 15 outlet yang tersebar di Sumbar dan Riau. Tentu, untuk membuat usaha bisa sebesar ini, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Butuh proses yang panjang bagi sang pemilik (owner), yakni Guspardi Gaus dalam mencapai kesuksesannya.

Mulanya, usahanya itu dimulai Guspardi dengan berjualan buku di Jalan Permindo nomor 54 Kota Padang pada Februari 1985. Di toko berukuran 4X10 meter itu, Guspardi memulai usaha dengan bermodal usaha hanya Rp1 juta. Uang itu didapatinya dari hasil menjadi pegawai musiman di Arab Saudi pada musim haji di tahun 1982-1984 ketika sedang melanjutkan pendidikannya di Mesir.

Di saat musim haji itu, selain bekerja sebagai pegawai musiman di Kedutaan Indonesia untuk Arab Saudi, Guspardi juga memanfaatkan peluang money changer (penukaran uang) dan menjadi pemandu wisata bagi orang Indonesia yang ingin berziarah, serta bekerja bisnis jual souvenir disana.

Alhasil, dia juga mendapat penghasilan sampingan di luar pendapatannya sebagai pegawai musiman haji. Saat itu, dari hasil sebagai money canger dan pemandu wisata, ia berhasil mengumpulkan uang Rp1 juta. Untuk memulai usahanya tersebut, dia juga belum memiliki tempat usaha. Maka dikontraknyalah salah satu toko di Jalan Permindo.

”Jadi kontrakan toko itu, Rp3 juta setahun. Saya kontrak langsung dua tahun. Sementara, uang saya baru terkumpul Rp2 juta. Maka, saya dibantulah sama keluarga 300 gram emas yang saat itu nilainya Rp3 juga. Alhasil, ada uang Rp5 juta. Saya cicil kontrakan Rp4 juta, dan Rp1 juta lagi saya jadikan untuk modal usaha,” ujar Guspardi menceritakan dalam merintis usahanya.

Rencananya, dia akan menjual buku di tokonya itu. Dia sudah memasang nama toko “Pustaka Citra” di depan tokonya itu. Memang, untuk berjualan buku, bukan hal baru baginya. Sebab pada saat kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, ia juga pernah mengadakan bursa buku. Dengan bekal itulah ia memberanikan untuk membuka usaha toko buku, sebab keuntungannya lumayan bisa sampai 20 hingga 30 persen.

Memang rencananya menjual buku itu akan bekerja sama dengan sejumlah penerbit buku. Tapi saat ia mengajukan tawaran kerja sama, semua penerbit buku menolak. “Saya sudah kirim surat permohonan kerja sama saya ke sejumlah penerbit. Jangankan dibalas, direspon saja tidak. Makanya, saya jual alat tulis saja lagi dengan modal Rp1 juta itu,” sebutnya.

Tentu, modal usaha yang hanya Rp1 juta, tidak akan membuat penuh tokonya. Karena, stok barang jualannya itu terbatas. Bayangkan saja, etalase di depan toko saja tidak penuh. Tapi, supaya tokonya tetap terlihat penuh, dia perkecil ukuran tokonya. Yang awalnya 4×10 menjadi 4×5 meter. Sudah diperkecil, dia juga memenuhkan tokonya itu dengan buku-buku bekas koleksinya.

Waktu terus berjalan. Usahanya pun hanya berjalan di tempat. Tidak ada perkembangan yang pesat. Walaupun demikian, dia tidak menyerah. Dia tetap bersemangat untuk mengembangkan usahanya. Yang paling penting baginya, kejujuran dalam melayani konsumen.

“Bahkan, sempat saya berfikiran untuk pindah toko ke sebelah toko saya sebelumnya yang ukurannya lebih kecil dan biaya kontrakannya juga lebih kecil. Tujuannya agar biaya sisa kontrakan itu dijadikan tambahan modal. Tapi rencana itu tidak jadi. Saya dan istri saya tetap bertahan di sana,” terang Guspardi.

Dengan kegigihannya itu, usahanya tersebut menunjukkan tren meningkat. Maka dia memberanikan diri untuk meminjam ke bank tahun 1988. Untuk agunannya, dia memimjam sertifikat tanah milik kakaknya. Hingga akhirnya pihak bank memberikan pinjaman sebesar Rp15 juta. Tapi, pinjaman ini hanya bisa ia gunakan sebesar Rp10 juta, dan sisanya dipakai untuk kakaknya. Tapi tetap, untuk angsurannya berdua.

”Nah, dari situ kami mulai mengembangkan usaha. Selain toko buku, kami juga buka usaha menjual kebutuhan harian,” jelas Wakil Ketua DPRD Sumbar ini.
Di tahun 1990, toko yang awalnya satu petak telah menjadi dua, kemudian ditahun 1993 meningkat menjadi tiga. Waktu itulah mulai adanya Citra Swalayan dengan menjadikan satu toko menjual barang-barang kebutuhan harian, dan lainnya tempat menjual buku.

”Di lantai satunya dijual buku, di tingkat atas swalayan. Namanya saat itu pustaka buku dan Swalayan Citra. Alhamdulillah terus berkembang, hingga saya memutuskan dengan memfokuskan Citra Swalayan ini,” ungkapnya.

Dari situlah, hingga saat ini Citra Swalayan telah menjadi leader swalayan yang ada di Sumbar. Keberadaannya juga ikut membantu pemerintah dalam menyiapkan lapangan pekerjaan  bagi masyarakat. Telah ada sekitar 250 orang pegawai yang terserap di 15 outlet Citra Swalayan. Di antaranya, 9 outlet di Padang, 3 di Sijunjung, 2 di Pasaman Barat, 1 di Solok dan 1 di Pekanbaru. Selain itu, 350 UMKM di Sumbar ikut menikmati keberadaannya untuk memasarkan produknya.

Saat ini pada setiap otletnya telah ada 15 ribu item barang kebutuhan harian, dan produk rumahan berupa makanan atau kuliner siap saji yang berasal dari UMKM binaan Citra Swalayan yang dapat ditemui. Selain terus menambah outlet, Redian Fikri Guspardi (anaknya-red) yang sejak Juli 2011 lalu dipercaya menjadi Direktur juga berniat untuk menjadikan Citra Swalayan yang kini terkenal dengan lengkap dan murahnya ini dapat menjadi bentuk perusahaan terbuka (Tbk).

Semua anaknya kini mengikuti jejaknya untuk membantu mengurus Citra Swalayan, dan menjadikannya makin berkembang. Untuk dapat membesarkan usahanya itu, modal utamanya adalah jujur. “Ini yang harus dimiliki generasi muda yang akan memulai usaha. Bagaimana menjaga kepercayaan dan menanamkan kejujuran. Jujur itu yang terpenting. Segala profesi harus jujur. Jujur itu kunci untuk sukses,” pesannya.

Ia yakin, dengan percaya diri, kerja keras, tak cepat puas, sabar dan tidak mudah putus asa, siapapun bisa sukses. Tinggal bagaimana melakukan inovasi, termasuk dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Dengan semakin banyak kompetitor yang akan masuk, tentunya persaingan juga semakin besar. Tapi sebagai masyarakat lokal, itu tak perlu dicemaskan. Sebab dibandingkan dengan mereka yang baru akan memulai usaha di daerah kita, tentunya kita lebih paham pangsa pasar yang ada untuk dapat terus bertahan,” paparnya.

Meskipun saat ini kondisi perekonomian Indonesia tengah melemah, namun itu tidak menjadi kendala yang besar baginya. Untuk mensiasati agar tidak menadi korban pelemahan ekonomi, dirinya berkomitmen untuk selalu meningkatkan omzet. Salah satunya, menambah outlet di sejumlah wialayah di Sumbar, Sumatera, bahkan nantinya Indonesia.

Selain sukses mengembangkan Citra Swalayan hingga berjumlah 15 outlet, Guspardi juga terbilang berhasil di dunia politik. Sebab ia beberapa kali menjadi anggota dewan, di antaranya menjadi wakil Ketua DPRD Sumbar priode 2014-2019.

Sebelum menggeluti dunia politik, Guspardi juga pernah menjadi dosen Syariah hingga menjadi ketua jurusan di IAIN Imam Bonjol Padang, dan Dosen di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB). ”Sejak tahun 1987 saya menjadi dosen di IAIN, kemudian pada tahun 1999 saya memutuskan masuk ke dunia politik,” katanya.

Meskipun berbagai profesi telah digelutinya, namun ia tidak pernah meninggalkan bisnis Citra Swalayan yang dimulainya sejak 30 tahun lalu itu. “Citra ini bukan begitu saja, tapi dimulai dari nol. Terpenting selalu optimis dalam hidup. Pada umumnya orang yang sukses itu adalah yang memulai usaha dari nol, bukan warisan keluarga. Kemudian, selalu memberikan pelayanan prima kepada konsumen,” ungkapnya. (da)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional