Menu

Gunakan POC Kefir, Petani Cabai Raup Keuntungan

  Dibaca : 109 kali
Gunakan POC Kefir, Petani Cabai Raup Keuntungan
POC Kefir

Oleh: Ferawati S.Pt, MP
Bertani cabai bukan lagi usaha yang baru di kalangan masyarakat Nagari Ampalu, Kecamatan Lareh Sago Halaban, namun penggunaan POC (Pupuk Organik Cair) kefir merupakan teknik baru dan mampu meningkatkan produksi cabai. Bapak Asrinal (50 tahun) petani cabai asal Ampalu telah mengaplikasikan POC kefir sebagai pupuk cabai dan juga MOL (mikroorganisme lokal) dari kefir sebagai starter pembuatan pupuk organik padat dan cair yang digunakan pada tanaman cabai.

Hasil yang luar biasa pada produksi cabai meningkat hingga 30 persen setelah penggunaan pupuk ini. POC kefir yang diedukasikan oleh Ferawati dan Tim Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand) menjadi pupuk andalan petani cabai saat ini. Mudah, murah dan praktis, tiga kata yang cocok untuk POC kefir bila digunakan untuk tanaman cabai.

Manfaat yang diraih petani menggunakan pupuk berbasis kefir ini terutama meningkatkan kesuburan tanaman dan mampu mencegah berbagai penyakit. Penggunaan POC kefir dilakukan pada beberapa tahapan, pertama melalui penyemprotan pada lahan 2 minggu sebelum penanaman. Penggunaan POC kefir berikutnya melalui sistem kocor setiap 14 hari sekali sampai akhir masa panen. Penggunaan juga dilakukan dengan penyemprotan pada tanaman cabai setiap seminggu sekali. Produksi cabai yang diraih dengan penggunaan POC kefir tersebut sangat mememuaskan petani.

Pupuk berbasis kefir dibuat dengan starter kefir dan dikembangkan menggunakan bahan-bahan limbah pasar, limbah rumah tangga dan limbah peternakan. Pembuatan MOL kefir berbahan air kelapa tua sebagai limbah dari usaha kilang santan dan nasi basi serta beberapa bahan lainnya. Penggunaan starter MOL kefir juga diaplikasikan pada pupuk organik padat berbahan limbah peternakan berupa feses dan sisa pakan.

Menguntungkan tentunya bagi Bapak Asrinal yang juga memiliki ternak sapi, sehingga dapat menjadikan limbah lebih bernilai ekonomis dengan pengolahan metode ini dan langsung dapat digunakan sebagai pupuk perkebunan cabe. Sekilas memang terlihat seperti integrasi sapi cabe, namun perlu pengembangan yang lebih luas seperti meningkatkan jumlah produksi pupuk dan juga jumlah ternak.

Pupuk organik cair (POC) kefir telah diaplikasikan setahun terakhir pada perkebunan cabai milik Bapak Asrinal. Sebelumnya kefir ini telah dilakukan penelitian oleh Ferawati dan tim, dengan hasil bahwa kefir memiliki kemampuan antifungi dan antibakteri patogen. Kandungan bakteri asam laktat dan yeast non-patogen lebih dari 300 spesies mampu menghasilkan komponen yang dapat mencegah penyakit pada cabai.

Penyakit Antraknose atau disebut juga dengan penyakit patek, patogen utama penyebab penyakit ini adalah Colletotrichum acutatum. Penyakit patek merupakan momok bagi petani cabai karena dapat menyebabkan kerugian mencapai 20–90 persen. Penyakit patek mampu dicegah dengan penggunaan POC kefir yang teruji pada perkebunan cabai Bapak Asrinal.

Saat musim hujan seperti saat ini, patek telah menyebabkan gagal panen pada beberapa petani cabaidi Nagari Ampalu. Tidak hanya mampu mencegah penyakit patek, dengan POC kefir berbagai penyakit cabai lainnya hampir tidak ditemukan. Sehingga penggunaan fungisida dan pestisida kimiawi menjadi mampu untuk diminimalisir sehingga menekan biaya produksi.

Ke depannya POC kefir diharapkan dapat digunakan pada skala yang lebih luas, tidak hanya petani cabai Nagari Ampalu akan tetapi juga diproduksi untuk dikomersialkan. Melalui bimbingan jangka panjang oleh Universitas Andalas, petani cabai akan memproduksi POC kefir skala indusri rumah tangga sehingga bisa dimanfaatkan lebih luas oleh semua kelompok tani. (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Kampus II Payakumbuh)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional