Menu

Gunakan Ijazah Palsu Ketika Pilkada Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin Tanggapi Tudingan

  Dibaca : 128 kali
Gunakan Ijazah Palsu Ketika Pilkada Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin Tanggapi Tudingan
Safaruddin Datuak Bandaro Rajo

LIMAPULUH KOTA, METRO–Beredarnya berita di sejumlah media online yang menuding Safa­rud­din Datuak Bandaro Rajo mempergunakan ijazah palsu saat mengikuti Pil­kada Bupati Limapuluh Kota 9 Desember 2020 lalu, memunculkan reakasi dari berbagai pihak. Selain itu, melalui akun media sosial Facebook disebarkan se­cara masif oleh si pemilik akun tersebut. Hal ini dirasakan Bupati Lima­puluh Kota Safaruddin Datuak Bandaro Rajo me­ru­pakan rencana mem­provokasi masyarakat agar terjadi kegaduhan  secara umum.

“Kondusifitas daerah merupakan modal untuk membangun Kabupaten Limapuluh Kota ini. Tidak elok pula kegaduhan dicip­takan disaat proses pem­bangunan sedang ber­lang­sung. Apalagi ini ditu­jukan kepada saya se­bagai kepala daerah yang menghibahkan diri dan memiliki tanggung jawab penuh kepada Masya­rakat dan menjadikan Ka­bu­paten Limapuluh Kota lebih baik di seluruh sektor yang ada,” Kata Safarud­din kepada Wartawan.

Safaruddin menya­ta­kan bahwa berita yang dilansir sejumlah media online terkesan  tenden­sius. “Tuduhan saya me­makai ijazah palsu dalam Pilkada 2020 lalu adalah berita fitnah yang tidak berdasar. Kawan-kawan Wartawan mungkin lebih paham dan mengerti dari tulisan atau narasi yang tersaji pada media terse­but,” ungkap Safaruddin.

Menurut mantan Ke­tua DPRD Kabupaten Li­ma­puluh Kota dan man­tan anggota DPRD Propinsi Sumatera Barat itu, diri­nya tidak pernah meng­gunakan ijazah palsu. “Ji­ka saya menggunakan ijazah palsu, sudah pasti sejak awal saya tidak bisa ikut pemelihan anggota legislatif (Pileg),” ujar Safaruddin.

Dinyatakan Safarud­din, kalau ada yang mela­porkan soal dugaan ijazah palsu tersebut, tentu itu adalah hak setiap warga negara. Disamping itu dirinya siap menghadapi semua proses yang harus dilalui. Ia mengaku heran, kenapa masalah pengu­n­nan ijazah palsu ini mun­cul setelah pasangan Sa­farud­din-  Rizki (Safari) meme­nangkan kontestasi Pilkada Kabupaten Lima­puluh Kota yang berjalan dengan de­mokaratis pada tanggal 9 Desember 2020 lalu.

“Heran saja, Pilkada sudah kita lewati berikut tahapan dan proses se­suai dengan aturan yang berlaku. Siapa saja me­miliki hak dan boleh mem­buat penilaian terhadap diri saya sebagai kepala daerah. Namun janganlah menyebarkan informasi bohong (hoax) dengan judul yang sangat provo­katif mengiring pembaca dan penerima kepada opi­ni yang negatif dan me­rugikan pihak yang dibe­ritakan,” sebut Safarud­din.

Dijelaskannya, semua proses demokrasi telah dia ikuti bahkan digugat ke Mahkamah Konstitusi juga telah dilalui dan majelis hakim MK menolak  se­luruh gugatan yang diaju­kan ke MK, sehingga pada tanggal 26 Februari 2021 dinyatakan resmi dan sah menjadi  Bupati Kabu­pa­ten Limapuluh Kota. “Se­ba­gai calon kepala daerah ketika itu, proses ini wajib dan sudah saya ikuti se­mua dari awal hingga a­khir,” jelasnya.

Safaruddin mengaku dirinya sangat merasa dirugikan atas berita ter­sebut. Ditengah-tengah Pandemi COVID-19 yang mana Pemerintah Kabu­paten Limapuluh Kota ber­sama Forkopimda sedang melakukan tugas-tugas penting untuk menekan angka penyebaran CO­VID-19 dan pemulihan ekonomi untuk masya­rakat, dirinya ditimpa dengan pemberitaan yang menyudutkan serta me­man­cing kegaduhan pu­blik. Sebagai warga ne­gara Indonesia yang me­miliki hak perlindungan atas pencemaran nama baik yang dilakukan ter­hadap dirinya, akan mela­porkan kejadian itu ke­pada pihak Kepolisian.

“Benar, membuat la­po­ran kepada pihak kepo­lisian. Sebagai Bupati se­benarnya saya enggan menanggapi berita-berita seperti ini. namun sangat kontras nama baik saya tertera dipemberitaan itu. Selain pribadi saya seba­gai kepala daerah, hal ini juga sudah berdampak buruk kepada masyarakat dan keluarga saya sen­ diri,” pungkasnya. (uus)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional