Menu

Goyang Sawer Mesum Marak di Piaman

  Dibaca : 2002 kali
Goyang Sawer Mesum Marak di Piaman
COVID— Sejumlah tenaga kesehatan menangani pasien Covid-19 yang baru tiba di IGD.

pelacuran pornografi

PADANGPARIAMAN, METRO–Aktivitas mesum berkedok pertunjukan musik dengan penyanyi berpakaian tak senonoh, serta bertindak pornoaksi, memicu pro dan kontra di Padangpariaman. Tontotan yang dianggap merusak moral ini ditentang banyak orang, termasuk Organisasi Pekerja Seni (OPSI) Padangpariaman. OPSI menilai, aktivitas goyang sawer mesum sudah kelewat batas.

Ketua OPSI Padangpariaman Roni mengatakan, tindakan nakal yang dilakukan oleh para artis orgen, serta pembiaran yang dilakukan oleh pemilik orgen tunggal sudah terlalu meresahkan. Biduanitanya tidak hanya mempertontonkan aurat, tapi juga menerima uang sawer, serta bisa memicu perbuatan cabul. ”Tidak sedikit yang menyediakan jasa pejoget sawer yang melakukan pornoaksi dan pornografi, bahkan prostitusi di belakang panggung orgen,” sebut Roni.

Lebih parah lagi, katanya, kini sebagian artis penyanyi yang dulunya baik-baik dalam bernyanyi, ikut terseret arus. ”Semua karena faktor ekonomi. Kami berusaha bertahan, tapi konsekwensinya kami kekurangan job. Bagi yang tak kuat iman, karena himpitan ekonomi yang kian berat, akhirnya ikut-ikutan,” katanya.

OPSI mendesak, perbuatan pornoaksi demikian tak lagi dikerjakan. Hal itu juga membuat jelek nama pelaku seni. Namun, permintaan OPSI malah ditanggapi sinis. Malah, pengurus Opsi yang menaungi pekerja seni di Piaman, mendapat teror dari orang tak dikenal.

”Soal ancaman sudah sering. Tapi, kami akan terus menyuarakan agar pertunjukan orgen sopan. Kami tidak akan gentar demi mengembalikan marwah musik sebagai hiburan yang tidak mengangkangi nilai moral,” ungkap Roni.

Ancaman kerap bermula dari himbauan baik-baik yang disampaikan OPSI melalui media sosial. ”Kami hanya 8 kelompok orgen. Sementara, total pelaku bisnis orgen di Padangpariaman lebih dari 200,” sebut Roni.

OPSI, katanya, awalnya didirikan sebagai wadah silaturahmi dan sosial untuk merekat hubungan antara pengusaha dan artis orgen. Menyikapi fenomena orgen mesum, OPSI membuat garis tegas agar anggotanya tidak melakukan praktek orgen mesum. Tidak sedikit anggota yang dulunya bersedia memenuhi tuntutan organisasi, akhirnya keluar, karena tekanan ekonomi.

Ketua OPSI Padangpariaman Suhatri Bur menyatakan, organisasinya telah melakukan MoU dengan Polres Padangpariaman tentang menolak penampilkan artis orgen tunggal yang melakukan aksi pornoaksi dan pornografi. ”Kita membentuk organisasi ini, karena tindakan artis yang melakukan aksi porno aksi telah kelewatan batas. Kita dalam organisasi ini sangat menentangnya. Makanya, kita melakukan MoU dengan pihak kepolisian dan Pemkab Padangpariaman,” tuturnya.
Kemudian Bupati Padangpariaman H Ali Mukhni telah mengimbau agar setiap nagari menerbitkan aturan yang melarang praktek orgen mesum. Ia beralasan, karenal lokasi penyelanggaraan acara lebih dekat dengan domisili aparat pemerintahan nagari.

Sehingga pencegahan yang lebih cepat, hanya bisa dilakukan aparat nagari. Sementara, sejauh ini, Polres Padangpariaman baru bertindak dengan mengumpulkan para pengusaha orgen.

”Mereka sama sekali melakukan pembiaran terhadap praktek orgen mesum, sehingga penyedia jasa sawer tetap leluasa beraksi,” tandasnya mengakhiri. (efa)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional