Menu

Gempa Menggoyang, Suasana MTQ Nasional Makin Tegang, Warga Tabang Hambua Keluar Bangunan

  Dibaca : 148 kali
Gempa Menggoyang, Suasana MTQ Nasional Makin Tegang, Warga Tabang Hambua Keluar Bangunan
BERHAMBURAN— Sejumlah wartawan berhamburan keluar dari Media Center MTQ ke-XXVIII tingkat Nasional tahun 2020 di Masjid Raya Provinsi Sumbar saat terjadi gempa.

PADANG, METRO
Suasana Media Center MTQ ke-XXVIII tingkat Nasional tahun 2020 di Masjid Raya Provinsi Sumbar, sempat heboh, saat terjadi gempa berkekuatan 5,3 magnitudo, Rabu (18/11) sekitar pukul 11.41 WIB.

Gempa yang berpusat di kedalaman 11 kilometer di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Provinsi Sumbar tersebut, membuat sejumlah wartawan yang berada di dalam ruangan tersebut, “tabang hambua” keluar ruangan.

Di luar ruangan terlihat sejumlah orang yang berada di Sekretariat MTQ ke-XXVIII tingkat Nasional tahun 2020 yang ruangannya berada di samping ruangan media center juga berlarian ke luar.

Pada hari itu sedang berlangsung jumpa pers oleh Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Juraidi Malkan, terkait evaluasi penyelenggaran MTQ Nasional.

Hadir dalam jumpa pers bersama Kepala Kanwil Kemenag Sumbar, Hendri, Kepala Biro Bintal dan Kesra Setdaprov Sumbar, Syaifullah dan Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar, Hefdi.

Di saat jumpa pers tersebut, Pegawai Biro Humas Setdaprov Sumbar dan sejumlah wartawan berteriak gempa. Spontan seisi ruangan berlari keluar. Namun, meski sejumlah awak media berlari ke luar, Juraidi Malkan, Hendri, Syaifullah dan Hefdi tidak bergeming dari tempat duduknya.

“Bagaimana, apa bisa dilanjutkan atau tidak,” tanya Juaridi kepada awak media. “Silahkan lanjutkan Pak,” jawab awak media yang hadir.

Pada kesempatan itu, Juraidi mengungkapkan hasil evaluasinya terhadap penyelenggaraan MTQ Nasional ke-XXVIII. Menurutnya, dengan penyelenggaraan MTQ Nasional di masa pandemi Covid-19, ada dua hal yang perlu jadi perhatian. Yang pertama, patuh dengan protokol kesehatan Covid. Kedua, berikan pelayanan kepada masyarakat dengan memperkuat informasi melalui pemberitaan dan publikasi.

Terpisah, saat gempa terjadi qari dari Kafilah Sumbar atas nama Abdullah Fikri menjadi peserta terakhir pada babak penyisihan di golongan Qiraat Sab’ah Mujawwad Putra di Arena Utama, Masjid Raya Sumbar.

Sejatinya, Fikri begitu sapaan Abdullah Fikri tampil pada hari pertama babak penyisihan, yakni Minggu (15/11). Hanya saja karena ada masalah kesehatan, akhirnya Fikri dijadwal ulang. Dengan itu, Fikri diperkenankan tampil pada hari terakhir babak penyisihan. Dengan nomor urut tetap 506.

Hari terakhir ini adalah semua peserta harap-harap cemas untuk melihat hasil perlombaan. Karena yang berhak masuk pada babak final hanya tiga besar. Sistemnya, makin tinggi nilai maka akan bertengger diatas, menggeser nilai terendah. Maka nilai tertinggi tiga besar diadu ulang.

Tepat pukul 11.25 suara MC menggema di langit halaman Masjid Raya, tempat MTQ cabang Qiraat Sab’ah Mujawwad dilangsungkan. Terdengar jelas panggilan peserta tuan rumah dengan nomor QS 506, ia harus membacakan Surat Al Anbiyaa Ayat 1.

Adalah Abdullah Fikry, percaya diri masuk ruang mimbar. Dengan mantap sambil memandang ke arah mushaf Alquran, taawuz pun dilafalkan. Sejenak hadirin khusyuk menyimak. Untaian ayat suci mengayun indah di angkasa, penonton terbawa suasana.

Yang hafal tampak mengikuti bacaan dengan gaya imam nafi. Yang tidak hafal hanya bisa terdiam sambil merekam suasana untuk dibagikan ke media sosial agar masyarakat umum tahu ada peserta kebanggaan Sumatera Barat tampil.

Di tengah kondisi itu, kecemasan peserta makin menjadi setelah dihoyak gempa. Sejumlah official tampak panik, namun tidak berlarian. Fikri yang sedang tampil, tampak tenang. Dia masih duduk, tidak berdiri meninggalkan ruangan panggung utama.

Tadi Fikri sebenarnya sudah mau berdiri, namun menunggu kondisi tenang. Jika masih ada susulan dia sudah putuskan untuk lari,”sebut pendamping Kafilah Sumbar, Efilman.

Di dalam mimbar utama berukuran 3×5 m, Abdullah Fikri terlihat sekali kebingungan. Getaran gempa telah membuyarkan konsentrasi pria yang sehari-hari sebagai wiraswasta. Ia mengaku bimbang saat melihat penonton berhamburan. Meski akhirnya ia memilih diam ditempat melanjutkan bacaan Al-Qur’an. “Saat melihat penonton berlari, saya mau keluar dari ruang mimbar. Tapi saya lagi baca quran, yaudah terusin aja,” ujarnya saat ditemui usai penampilannya di Masjid Raya Sumatera Barat.

Abdullah Fikry pun ikhlas bila titik gempa yang berada di Pesisir Selatan itu harus merenggut nyawanya. “Saya sempat mikir, kalau harus mati yasudahlah”, imbuh Fikry dengan penuh kepasrahan.

Gempa berlalu, Fikry tetap melanjutkan bacaannya sampai waktu yang ditentukan. Saat keluar dari ruang mimbar, pelatihnya, Andrizal adalah yang pertama menyambutnya. Diikuti tim official Sumatera Barat. Pelukan haru langsung berdatangan dari tim pendamping. Air mata Fikri pun akhirnya mengalir deras. Fikry berharap perjuangannya membaca saat gempa tadi dapat membawanya ke final. “Alhamdulillah bisa menuntaskan tugas dengan baik, semoga bisa ke final”, harap Fikri dengan optimis.

Kepanikan juga nampak di lantai IV Hopitality Center Universitas Negeri Padang (UNP). Saat gempa terjadi adalah qari tafsir Bahasa Inggris perempuan yang tampil. Baru sekitar 10 menit, qariah ini membacakan ayat Alquran yang diberikan kepadanya. Getaran muali terasa, sejumlah pendamping nampak bergerak meninggalkan kursi. Sampai kemudian gempa benar-benar mengguncang, semua pendamping dan panitia di venue tasir ini berlarian ke luar ruangan.

Menariknya, qari tersebut tampak tenang. Setelah membaca lafal Lailahhaillalah, qariah ini duduk sembari menunggu arahan dari panitia.”Sudah-sudah tenang, silahkan lanjutkan,”kata Koordinator Venue Tafsir Bahasa Inggris, Erizal.

Mendapatkan arahan dari koordinator venue, akhirnya penilaian dilanjutkan. Qoriah tersebut melanjutkan bacaannya. Dengan mengalami itu, dewan hakim menegaskan tidak ada pemotongan nilai, saat qari berhenti membaca ayat.”Mari kita lanjutkan, saya tegaskan tidak ada pemotongan nilai,” sebutnya.

Pessel Kondisi Aman
Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD), Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Herman Budiarto  mengungkapkan kalau gempa 5,3 magnitudo mengguncang daerah itu pada pukul 11.41 WIB, tidak menimbulkan kerusakan bangunan ataupun korban jiwa.

“Alhamdulillah sampai saat ini masih aman. Belum ada laporan kerusakan apapun (akibat guncangan),” kata Herman.

Herman menjelaskan, berdasarkan alat pemantauan BMKG mengonfirmasikan pusat gempa terjadi di lokasi 57 kilometer Barat Daya Pesisir Selatan dengan kedalaman 11 kilometer.

“Tidak berpotensi tsunami, namun gempa dengan kekuatan 5,3 magnitudo itu cukup membuat warga panik, diantaranya dengan berhamburan keluar dari bagunan,” ungkap Herman. (fan/rio)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional