Menu

Gempa 8,8 SR Ancam Sumbar

  Dibaca : 3918 kali
Gempa 8,8 SR Ancam Sumbar
RAKOR— Gubernur Sumbar Irwan Prayitno rapat koordinasi dengan Asisten Deputi Koordinator Bidang Infrastruktur Menko Maritim Rahman Hidayat, dan para pakar dan peneliti gempa dan tsunami di Auditorium Gubernur Sumbar, Kamis (24/1).

PADANG, METRO – Pemprov Sumbar diminta meningkatkan kewaspadaan dan upaya mitigasi gempa dan tsunami kepada masyarakat. Hal ini seiring begitu banyaknya bencana gempa dan stunami yang terjadi sejak enam bulan terakhir.

Hal itu disampaikan Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dody Ruswandi saat Rakor Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami Sumbar di Auditorium Gubernur Sumbar, Kamis (24/1).

Rakor menghadirkan pakar-pakar peneliti gempa dan tsunami, seperti Danny Hilman Natawidjaja, Peneliti LIPI yang juga Ketua Pokja Geologi PuSGeN (Pusat Studi Gempa Nasional), Peneliti LIPI lainnya, Eko Yulianto, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan (IABI), Harkunti P. Rahayu.

Dody Ruswandi mengatakan, Presiden memerintahkan semua pihak dan masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan. “Siap yang dimaksud, ya siap menyampaikan informasi. Sehingga kalau masyarakat sudah tahu, maka masyarakat sudah tahu apa yang dilakukan saat terjadinya bencana,” ungkapnya.

Dody juga meminta seluruh media, agar bergabung dengan negara mengingatkan dan menyampaikan informasi dan peduli terhadap hasil-hasil penelitian, yang dilakukan peneliti dan pakar gempa dan stunami.

Daerah rawan bencana seperti Sumbar, katanya, mesti belajar dari bencana besar sebelumnya. Misalnya, Tanjung Lesung, di Pantai Mutiara Carita kebanyakan yang parah karena tidak memiliki pohon pelindung.

”Penanaman pohon ini juga bisa dimasukkan dalam pengurusan Amdal, jadi setiap ada bangunan harus menanam pohon disekitar bangunannya itu tertuang dalam Amdal,” jelasnya.

Peneliti dari LIPI, Danny Hilman Natawidjaja mengungkapkan, banyak wilayah di Indonesia yang berpotensi terjadinya gempa dan tsunami. Salah satunya yang berpotensi sangat tinggi wilayah Sumbar, yakni Kota Padang, dengan potensi gempa megathrust di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

“Potensi gempa megathrust Mentawai tetap ada dan masih merupakan ancaman besar,” terangnya.

Menurutnya, megathrust Mentawai adalah satu-satunya segmen yang belum lepas, setelah terjadinya rentetan gempa megathrust sejak gempa dan tsunami Aceh 2004. Potensi gempa maksimum sekitar 8.8 skala richter (SR) atau magnitude (Mw). Tinggi tsunami di Pantai Sumbar berkisar antara 5–10 meter. Gempa 8,8 SR itu sangatlah besar. Melebihi gempa besar 2009 yang berkekuatan 7,9 SR.

Karakteristik dan siklus gempa megathrust Mentawai sudah dipelajari, dengan detil, hasil studinya lengkap, dan publikasinya sangat banyak.

“Sejak gempa 2007, sudah memasuki periode pelepasan gempa. Menunggu gempa pamungkas 8.8 SR. Tetap kita tidak bisa tahu, kapan gempa akan terjadi. Namun besar kemungkinan akan terjadi selama kita masih hidup atau ketika anak kita masih ada,” ujarnya.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan, tujuh kabupaten/kota di pesisir pantai laut Sumbar berpotensi tsunami. Apalagi, guncangan gempa 2009 lalu banyak merusak struktur pembangunan di tujuh daerah itu.

”Pakar kami harapkan dapat mengupas mitigasi mengurangi resiko dan memberikan rekomendasi untuk ditindaklanjuti provinsi, kabupaten dan kota. Sehingga bisa dituangkan dalam APBD,” katanya.

Secara umum, lanjut Irwan, kesiapsiagaan Sumbar telah disebarluaskan dengan berbagai program sosialisasi. Begitu juga dengan mensiasati pembangunan shelter di hampir setiap bangunan baru pemerintah.

“Shelter tsunami belum mencukupi. Bangun shelter butuh uang banyak. Sekarang, gedung pelayanan publik seperti kepolisian, gubernuran, hotel ada shelternya,” katanya.

Sementara itu, Asisten Deputi Koordinator Bidang Infrastruktur Menko Maritim Rahman Hidayat meyakini, dibanding daerah lain di Indonesia, Sumbar termasuk wilayah paling siap dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami.

”Kami ingin lihat dan memastikan implementasi dilapangan dari rekomendasi yang diberikan tahun 2007 setelah tsunami Aceh dulu. Sebab, selama ini, kita lemah di implementasi mitigasi,” tuturnya. (fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional