Menu

Gelapkan Dana Nasabah untuk Judi, Karyawan Bank Dituntut 8 Tahun

  Dibaca : 731 kali
Gelapkan Dana Nasabah untuk Judi, Karyawan Bank Dituntut 8 Tahun
ilustrasi korupsi

PADANG, METRO – Terbukti melakukan tindak pidana korupsi (Tipikor), terdakwa Adhitya Gumay Fajrin, mantan kayawan atau mantri kredit usaha rakyat (KUR) BRI Cabang Payakumbuh tak mengira dirinya akan berada di jeruji besi. Uang hasil korupsi dan penggelapan yang digunakan untuk judi online harus dipertanggungjawabkan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Payakumbuh, menuntut terdakwa dengan hukuman pidana cukup tinggi.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan hukuman pidana selama delapan tahun, dan denda Rp200 juta, subsider tiga bulan penjara,” kata JPU Salmadera, saat membacakan amar tuntutannya setebal 49 halaman, di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Kelas I A Padang, Jumat (27/9).

Tak sampai disana, terdakwa yang terjerat kasus korupsi penyelewengan dan menggelapkan uang milik BRI dan nasabah, juga wajibkan membayar uang pengganti sebanyak Rp1.127.772.375 kepada BRI. Jika tidak dibayar, maka diganti dengan hukuman pidana selama empat tahun penjara.

Dalam sidang tersebut, terdakwa dijerat pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 ayat (1) huruf b Undang Undang RI Nomor 31 tentang Pemberantasan Korupsi. Sebagaimana diubah dengan ditambah dengan UU RI Nomor 20 tahun 2001, tentang perubahan undang-undang RI Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Korupsi dalam dakwaan primair.

”Hal-hal yang memberatkan terdakwa tidak mendukung program pemerintah, dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal-hal yang meringan terdakwa belum pernah dihukum dan berlaku sopan di persidangan,” ujar JPU.

Terdakwa didampingi penasihat hukum (PH) Adek Putra Cs, akan mengajukan nota pembelaan (pleidoi). Sidang yang diketuai oleh Agus Komarudin, memberikan waktu hingga Selasa (1/10).

Dalam dakwaan JPU dijelaskan, terdakwa Adhitya yang merupakan mantan pegawai BRI Payakumbuh. Pada bulan Mei 2018, terdakwa terdesak membayar utang pribadinya. Dimana terdakwa menghubungi rekannya bernama Okdival Yoyo, untuk meminta pinjaman uang sebesar Rp100 juta. Setelah diproses dan uang tersebut cair, terdakwa mengajukan jaminan BPKB mobil.

Tak beberapa lama kemudian, terdakwa kembali mengajukan pinjaman uang sebesar Rp 200 juta di BRI Cabang Payakumbuh. Dimana terdakwa meminjam uang atas nama ayahnya dan jaminan sertifikat tanah, atas nama terdakwa dan istrinya. Pada bulan berikutnya terdakwa kembali melakukan perbuatan yang sama, kali ini terdakwa meminjam uang sebesar Rp150 juta.

Pada bulan berikutnya, terdakwa memroses permohonan perpanjangan pinjaman atas nama Welda. Terdakwa pun bahkan sempat memalsukan tanda tangan Welda, pada formulir permohonan senilai Rp200 juta.

Sekitar bulan Juni hingga Juli 2018, terdakwa menerima uang cicilan pinjaman atas nama Trisiska. Namun terdakwa tidak menyetorkannya ke bagian teller, dimana jumlah cicilannya sebesar Rp7.600.000.

Selanjutnya pada bulan September sampai Oktober 2018, terdakwa menerima pelunasan pinjaman dari nasabah sebesar 150 juta atas nama Ferianto, Arina Rp 40 juta, Afdal Rp 91 juta. Lagi-lagi terdakwa tidak menyetorkannya ke teller.

Uang tersebut digunakan untuk membayar utang pribadinya. Kini terdakwa terpaksa menringkuk di balik jeruji besi mempertanggungjawabkan perbuatannya. (cr1)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional