Menu

Gara-gara HP, Pelajar Nekat Habisi Nyawa di Pohon Cokelat

  Dibaca : 729 kali
Gara-gara HP, Pelajar Nekat Habisi Nyawa di Pohon Cokelat
DIES NATALIS VIRTUAL— Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) Prof Ganefri memimpin Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-66 UNP di auditorium kampus UNP, Jumat (23/10), yang dilakukan secara virtual.
gantung diri

ilustrasi

PASAMAN, METRO–Hanya karena hal sepele, seorang pelajar di Kabupaten Pasaman, nekat menghabisi hidupnya dengan cara gantung diri di batang pohon cokelat, Senin (21/12) pagi. Sebelum ditemukan, korban diketahui dimarahi seseorang karena sudah memakai handphone beserta pulsanya.

Teriakan histeris. Tidak percaya, saat melihat sosok tubuh RS (16), sudah tidak bernyawa lagi. Ayah korban Rianto (50), menyaksikan tubuh anaknya tergantung di batang cokelat yang terletak tak jauh dari rumah mereka di Muara Mangguang, Nagari Tanjung Beringin, Kecamatan Lubuksikaping, Kabupaten Pasaman.

Pelajar di salah satu SMK di Kecamatan Bonjol itu, ditemukan dalam kondisi sudah memiriskan. Lehernya membiru karena terjerat tali kerbau. Warga yang mendengar teriakan histeris dari orang tua korban, langsung berdatangan.
“Jenazah pelajar ini langsung dievakuasi dan dibawa ke rumah. Dari identifikasi sementara, tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban,” sebut Kapolres Pasaman AKBP Agoeng S Widayat didampingi Kanit Resmob Ipda Fahrur Rozi.

Kapolres mengatakan, kejadian baru diketahui pagi pukul 06.30 WIB. “Korban tidak pulang pada malam harinya. Sehingga keluarga panik,” katanya.
Ketika itu, adik korban yang masih berumur 10 tahun bersama ayahnya, Ranto (50) berusaha mencari korba. Saat mencari di belakang rumah, orang tua si anak itu kaget melihat anaknya tergantung di batang cokelat, sudah tidak bernyawa lagi.

Pemeriksaan sementara, menurut Ipda Fahrur Rozi, RS nekat mengakhiri nyawanya karena merasa tertekan dengan persoalan yang dialaminya. “Korban ini memiliki permasalahan dengan salah seorang warga setempat. Permasalahan itu cuma gara-gara handphone,” ujar Ipda Rozi.

Handphone tersebut milik T (39). Korban meminjam handphone itu, namun ketika dikembalikan pulsa Rp50 ribu yang ada dalam HP berkurang dan menjadi Rp16 ribu.

Mendapati hal itu T, berang bukan main. Ia menampar kepala RS dan membanting handphone. Dalam kejadian itu, T mengeluarkan kata-kata; “HP ini sudah rusak, menjelang pagi harus baik kembali lagi dan pulsanya harus diganti.” Begitu kalimat yang disampaikan T kepada korban.

Kuat dugaan karena tidak kuat menahan tekanan, korban akhirnya takut dan panik hingga ia nekat mengakhiri hidupnya. Minggu malam, korban diketahui tidak ada di rumah. Sehingga orang tua cemas. Dan, Senin pagi, korban sudah ditemukan sudah tak bernyawa.

“Korban takut, panik dan tertekan. Namun ini baru prediksi awal dari penyelidikan sementara. Kita harus dalami kasus terlebih dahulu,” ujarnya.

Aparat kepolisian berencana melakukan pemanggilan terhadap T untuk dimintai keterangan. “Kita belum periksa T, yang merupakan karyawan swasta. Apakah benar korban takut ditanyakan masalah handphone,” ujarnya. (y)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional