Close

Gagal Budidaya Lele, Warga Payakumbuh Kembangkan Ternak Ulat Maggot

BUDIDAYA ULAT MAGGOT— Seorang wartawan sedang berbincang-bincang dengan peternak ulat Maggot.

BULAKAN, METRO–Sempat gagal men­jalani usaha Ikan Lele akibat “dipukul” Pandemi Covid-19, Yosep Hariadi (28) asal Kelurahan Bula­kan Balai Kandi, Keca­matan Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh banting stir jadi peternak Ulat Maggot.

Meski terkesan sepele dan menjijikkan, tapi tak disangka hasil usahanya berupa telur dan ulat mag­got itu telah dipasarkan hingga ke Pulau Dewata Bali. Sehingga, usaha ter­sebut terus berkembang pesat meski di tengah hantaman Pandemi Co­vid-19.

Satu hari saja, dari usaha yang baru dijalani dua tahun itu, bapak dua orang anak yang hanya Tamatan SMA itu bisa meng­hasilkan telur ulat Maggot 50 hingga 100 gram sehari. Sehingga ia bisa meraup untung ratu­san ribu rupiah perha­rinya.

“Awalnya saya menja­lani usaha ternak lele. Namun karena dampak Pandemi Covid-19 dan harga pakan yang terus naik, terpaksa usaha ter­se­but harus terhenti dite­ngah jalan. Hingga saya mencoba ternak ulat Maggot. Sebab usaha ini me­miliki peluang yang cukup bagus, selain permintaan yang tinggi, masyarakat yang menggeluti usaha ini belum banyak,” cerita Yosep, baru-baru ini di usaha ternak miliknya yang tidak jauh dari Ge­dung DPRD Payakumbuh, kepada wartawan.

Ia juga menambah­kan, ulat Maggot hasil usahanya banyak dibeli para peternak unggas dan ikan untuk campuran ma­ka­nan/pakan, sebab ulat diyakini memiliki protein yang tinggi. “Hasil usaha saya berupa ulat Maggot biasanya dibeli untuk dija­di­kan campuran pakan/makanan bagi unggas dan ikan, sebab kan­du­ngan protein ulat ini cukup ting­gi. Sementara untuk telur biasnya saya jual secara online ke berbagai daerah di Indonesia,” ucapnya.

Telur Maggot yang be­ra­sal dari lalat warga hitam dengan sebutan Black Soldier Flying (BSF) biasanya dibeli untuk di­ter­nakkan kembali. Yosep menyebut bahwa ia men­dapatkan ilmu beternak ulat/Maggot itu dengan cara belajar secara oto­didak dari Media Sosial. Hingga ia beranikan diri untuk membuka usaha sendiri. Namun usaha yang memiliki peluang bagus itu terkendala de­ngan tidak adanya alat yang bisa ia gunakan un­tuk memotong/cacah sam­pah organik sebagai bahan makanan ulat Maggot.

“Untuk makanan ulat/Maggot biasnya saya cari di Pasar Tradisional Ibuah, yakni berupa sisa-sisa sayuran dan buah-bua­han. Kebutuhan bisa men­capai 500 Kilogram per­hari. Untuk mencacah sam­pah organik itu saya lakukan secara manual. Semoga ada perhatian be­rupa bantuan dari Pe­merintah Daerah,” ha­rapnya. (uus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top