Menu

Ekonomi Sumbar ”Terjun Bebas” Sepanjang 2018

  Dibaca : 37 kali
Ekonomi Sumbar ”Terjun Bebas” Sepanjang 2018
Ilustrasi

PADANG, METRO – Ekonomi Sumbar sepanjang 2018 lalu ‘terjun bebas’ atau hanya 5,14% lebih rendah dari pencapaian tahun sebelumnya yang masih tumbuh 5,29%. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar Sukardi mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sumbar tahun lalu merupakan yang terendah sejak 2012, bahkan laju pertumbuhannya di bawah angka nasional 5,17%.

”Angka (pertumbuhan) ini juga yang terendah sejak 2012 dan berada di bawah angka nasional yang mencapai 5,17%,” ujar Sukardi baru-baru ini.

Padahal biasanya, kata Sukardi, ekonomi Sumbar selalu tumbuh di atas rata-rata angka pertumbuhan ekonomi nasional. Kendati demikian, dia menyebutkan, dari sisi produksi, beberapa sektor yang menjadi unggulan Sumbar masih menunjukan pertumbuhan yang menjanjikan di masa mendatang.

”Misalnya, di sektor pertanian, yang kontribusinya paling tinggi terhadap ekonomi Sumbar masih tumbuh 3,46%,” ujar Sukardi.

Kemudian, dari sisi pengeluaran kinerja pemerintah yang tahun 2017 lalu mengalami pertumbuhan minus 0,50%, kini kembali membaik dengan tumbuh 4,63%.

Namun, konsumsi rumah tangga yang menyumbang kontribusi paling besar belum menunjukkan pertumbuhan signifikan, meski masih tumbuh 4,70%.

”Dan tentu saja, yang paling mengkhawatirkan kinerja ekspor yang jeblok mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah itu,” kata Sukardi

Sukardi menyebutkan, ekspor luar negeri Sumbar minus 14,05%, dan net ekspor antar daerah bahkan jauh lebih parah dengan minus 127%. Meski pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan, tetapi BPS mencatat produk domestik regional bruto (PDRB) daerah itu sudah menyentuh Rp230,53 triliun dengan PDRB per kapita sebesar Rp42,57 juta.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Hefrizal Handra menyebutkan, perlambatan pertumbuhan ekonomi Sumbar disebabkan melambatnya pertumbuhan sektor yang dominan di daerah. Sektor yang dimaksud adalah sektor kehutanan dan industri pengolahan.

”Sejak 2011 Sumbar cenderung tumbuh sebagai daerah jasa tanpa industri pengolahan. Mengakibatkan daerah tergantung kepada produk dari luar provinsi untuk mendukung industri jasa,” kata Hefrizal.

Hefrizal mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sumbar mengekor pertumbuhan ekonomi nasional. Pada periode 2001-2008 dan periode 2012-2017 pertumbuhan Sumbar di atas rata-rata nasional. Pertumbuhan terus melambat sejak 2011 hingga 2018 triwulan II. Sejak triwulan I 2018, pertumbuhan Sumbar di bawah rata-rata nasional. (mil)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional