Close

Dukung Urban Farming di Kota Bukittinggi, Wujudkan Misi Pertanian Perkotaan

Ibnu Azis.

BUKITTINGGI, METRO–Laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi atau setara 1,7 persen pertahun. Mobilitas penduduk dari dan menuju Kota Bukittinggi sangat dinamis. Serta perkembangan kebutuhan infrastruktur dan sarana utilitas kota yang relatif cepat. Menjadi alasan mendasar dan logis bagi peningkatan kebutuhan dan penyediaan tempat hunian dan fasilitas umum lainnya bagi warga kota wisata ini dalam kurun waktu hampir dua da­sa­warsa ke belakang.

Sementara itu disisi lain, situasi, kondisi dan dinamika perkotaan tersebut justru menjadi penyebab semakin berkurang dan menyusutnya lahan pertanian di Kota Sanjai ini. Hingga saat ini, lahan pertanian yang masih tersisa sekitar 250 Ha atau setara dengan satu per sepuluh dari keseluruhan luas kota ini. Belum lagi permasalahan tersebut teratasi, data dan fakta demografis menunjukkan buk­ti nyata bahwa semakin minimnya warga kota yang berprofesi dan berusaha atau bermata-pencaharian di bidang pertanian. Atau sebanding dengan 3,7 persen dari total jumlah sekitar 126.000 penduduk yang menyebar di tiga kecamatan yang ada.

Deretan permasalahan klasik, pelik nan berkepanjangan di atas, ternyata memantik perhatian yang serius serta kepedulian yang mendalam dari Ibnu Asis, anggota DPRD Kota Bukittinggi. Abi panggilan  akrab Ibnu Asis di gedung DPRD Bukittinggi mengatakan, beberapa analisa serta gagasan yang konstruktif dan visioner sebagai beikut. “Oleh karenanya dibutuhkan strategi nan jitu dan tepat dalam menata laju pertumbuhan dan per­kembangan Kota yang sa­n­gat cepat dan dinamis itu. Di samping itu, sekaligus dalam rangka memperta­hankan eksistensi dan fungsi lahan pertanian yang masih ada,” ujar Abi.

Kata Abi, maka sudah tepat rasanya, jika target pencapaian dari salah satu misi pemerintah daerah sebagaimana tertuang di dalam RPJMD tahun 2021 – 2026 adalah mendorong segala bentuk usaha pertanian di kota bersejarah ini menuju urban farming (pertanian perkotaan) yang hebat. “Sebagaimana diketahui bahwa urban farming atau pertanian perkotaan adalah kegiatan pertanian non konvensional. Bertani dengan memanfaatkan segala keterbatasan potensi lahan pertanian yang ada di wilayah perkotaan. Diantaranya dalam bentuk program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) sebagaimana telah disosialisasikan oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian,” ungkap Ibnu.

 Salah satu bentuk nyata dan implementasi program P2L ini adalah dengan menggunakan teknologi hidroponik atau aquapo­nik, yaitu bercocok-tanam tanpa menggunakan media tanah sebagaimana biasa­nya. Karena dengan tek­nologi hidroponik atau a­qua­ponik ini akan menjawab kebutuhan warga masyarakat terhadap pemenuhan bahan pangan sehari-hari yang halal, bergizi dan hieginis. Disam­ping itu, melalui media hidroponik atau aquaponik, akan menghemat lahan, tenaga kerja, biaya produksi serta panennya pun sa­ngat singkat.

“Tahun 2019 lalu, melalui perantaraan Pokir anggota DPRD Bukittinggi yang masuk dalam APBD Bukittinggi 2021, kami mengusulkan kembali program bantuan dan pengembangan peralatan hidroponik . Sebanyak 30 wanita tangguh mewakili Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Tani (Keltan), Dasawisma dan kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang memiliki integritas terhadap ke­giatan pemanfaatan pekarangan,” ujarnya.

Ketua Dasawisma Dah­lia Kelurahan Puhun Tembok Netti Herawati menuturkan, bantuan hidropo­nik tersebut sangat bermanfaat untuk dirinya dan juga dasawisma yang dipimpinnya. Ia mengaku, sangat senang dengan usulan po­kir dari Ibnu Asis itu. Karena dengan bantuan pera­latan hidroponik tersebut akan menjadi usaha nyata bagi anggota dasawisma untuk belajar bercocok-tanam dengan memberdayakan lahan yang terbatas. “Sekaligus dapat memanfaatkan hasilnya, baik untuk dikonsumsi langsung maupun untuk distribusikan antar sesama anggota da­sawisma lainnya,” ujar­nya.

Salah seorang anggota Dasawisma Bougenvile Kelurahan Garegeh Desi Susanti mengemukakan,  dirinya merasa sangat se­nang dengan kehadiran teknisi dan tenaga penyuluh lapangan yang langsung turun tangan dan secara intensif memberikan pelatihan pembudidayaan tanaman hortikultura melalui media hidroponik. “De­ngan demikian, dirinya bersama anggota Dasawisma lainnya memiliki kete­ram­pilan sekaligus keperca­yaan diri yang tinggi untuk terus-menerus mendayagunakan peralatan hidro­ponik tersebut sekalian me­rawat dan menjaganya de­ngan baik,” kata Desi. (pry)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top