Menu

Dugaan Suap Proyek Jembatan dan Masjid Agung Solsel, JPU Hadirkan 4 Saksi di Persidangan

  Dibaca : 617 kali
Dugaan Suap Proyek Jembatan dan Masjid Agung Solsel, JPU Hadirkan 4 Saksi di Persidangan
SUMPAH SAKSI— Empat saksi diambil sumpahnya saat memberikan keterangan dalam persidangan dugaan suap proyek Jembatan dan Masjid Agung Solsel, Kamis (16/7)

PADANG, METRO
Sidang agenda meminta keterangan saksi, perkara dugaan korupsi pembangunan Masjid Agung dan Jembatan Ambayan di Solok Selatan, dengan terdakwa Muzni Zakaria, Kamis (16/7), di Pengadilan Tipikor pada PN Padang. Pada sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan empat orang saksi dari Kelompok Kerja (Pokja) Pengadaan Barang/Jasa Unit Layanan Pengadaan (ULP) Paket Pembangunan Masjid Agung Solok Selatan. Antara lain, Hazwinen Gusri selaku Ketua, Citra, Rike, dan Ilham selaku anggota.

Dalam keterangannya, saksi Hazwinen mengatakan, yang mengangkat dirinya sebagai Ketua Pokja Pengadaan Barang/Jasa ULP Paket Pembangunan Masjid Agung Solok Selatan adalah Kepala Pengadaan Barang/Jasa ULP, Martin Edi. “Anggaran pembangunan Masjid Agung Solsel lebih kurang Rp 55 miliar. Dana tersebut bersumber dari APBD Pemkab Solsel,” ungkap Hazwinen yang saat ini menjabat sebagai Staf Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa ULP Solsel. Ditambahkan, pengerjaan pembangunan Masjid Agung Solsel tahun 2018 tersebut dilelang dan diikuti empat perusahaan yakni PT Zulaikha, PT Usaha Kita Abadi, PT Citra Prasasti Konsorindo dan PT Surya Pratama Mandiri. “Dari hasil penilaian, pemenang lelang adalah PT Zulaikha, perusahaan dari Jambi dan Direkturnya Fathur Rahman. PT Zulaikha menang lelang karena secara penawaran nilainya tinggi, melebihi 90,” ujarnya.

Hazwinen mengaku, tidak ada titipan langsung dari terdakwa Muzni Zakaria kepada Tim Pokja agar PT Zulaikha dimenangkan dalam lelang pembangunan Masjid Agung Solsel. “Tapi Kadis PU Pak Hanif Rasimon bicara ke saya waktu itu saat rapat yang dihadiri PPK Masjid Agung Yance Bastian, Kepala Pengadaan Barang/Jasa ULP Martin Edi dan anggota Pokja di Ruang Pokja saat pelelangan belum diumumkan sekitar Maret 2018,” katanya. “Waktu itu saya dipanggil sama Pak Hanif. Pak Hanif bilang, ini ada temannya Pak Bupati (Terdakwa- red). Namanya, Yamin tolong dibantu. Jadi saya jawab, kalau dokumennya tidak memenuhi syarat, saya tidak mau mengambil risiko,” sambung Hazwinen.

Hazwinen menambahkan, Hanif Rasimon juga memberikan selembar kertas yang berisi tulisan Masjid Agung dan di sisi kanannya tertulis nama M Yamin Kahar. “Setelah itu, saya bilang kepada anggota Pokja bahwa saya dapat (titipan) ini. Waktu itu ada tanggapan dari Saksi Rike bilang kalau memang itu permintaan Pak Hanif dituruti saja,” ucapnya.

Beberapa hari setelah rapat tersebut, dia mengungkap bahwa dipertemukan dengan Suhanddana Peribadi alias Wanda. “Waktunya saya lupa majelis, tapi yang jelas setelah rapat itu. Akhirnya setelah memang PT Zulaikha yang dimenangkan. Lalu diperiksa dokumennya dan diumumkan bahwa PT Zulaikha sebagai pemenang,” tuturnya.

Hazwinen membeberkan, dia pernah menerima uang senilai Rp 100 juta dari Wanda untuk Tim Pokja melakukan pengecekan dan mengklarifikasi perusahaan pendukung dalam proyek pembangunan Masjid Agung Solsel yang akan dilakukan PT Zulaikha.  “Uang itu kami gunakan untuk tiket pesawat, biaya penginapan, makan, dan lain-lain majelis hakim,” ucapnya.

Selain itu usai proses lelang selesai dan PT Zulaikha dimenangkan, Tim Pokja juga menerima Rp 150 juta jelang lebaran dari Wanda sebagai ucapan terima kasih. “Uang itu untuk THR Pokja karena anggota Pokja menanyakan ke saya soal THR waktu itu. Setelah uang itu saya jemput ke Padang dan terima, saya bagi, masing-masing Rp 20 juta,” tukasnya. Saksi Citra mengakui tidak pernah ada titipan langsung, baik dari Terdakwa Muzni Zakaria, Kepala PU, Kepala Pengadaan Barang/Jasa ULP, agar PT Zulaikha dimenangkan dalam lelang proyek pembangunan Masjid Agung Solsel. “Dapat cerita atau pengakuan dari Saksi Azwinen juga tidak ada majelis hakim,” katanya.

Namun dia mengaku pernah meminta dan menerima THR Lebaran Idul Fitri kepada Wanda melalui Hazwinen. “Saya tidak tahu totalnya Rp 150 juta. Tapi saya terima THR itu Rp 12,5 juta. Pertama dikasih Rp 5 juta, lalu Rp 7,5 juta,” ujar Citra. Hal senada juga diungkapkan Saksi Rike. Dia mengaku tidak pernah ada titipan langsung dari terdakwa Muzni Zakaria, Kepala PU, Kepala Pengadaan Barang/Jasa ULP, agar PT Zulaikha dimenangkan dalam lelang proyek pembangunan Masjid Agung Solsel. Namun demikian, dia mengaku pernah meminta dan menerima THR Lebaran Idul Fitri kepada Wanda melalui Hazwinen. “Pertama Rp 5 juta, kedua Rp 7,5. Totalnya Rp 12,5. Tahu uangnya dari Wanda tapi saya tidak tahu totalnya Rp 150 juta,” sebut Rike.

Begitu juga dengan Saksi Ilham. “Tidak pernah ada titipan untuk memenangkan, baik dari Hazwinen maupun dari siapa pun. Tapi saya dapat THR satu kali terima Rp20 juta dari Wanda melalui Hazwinen,” kata Ilham. Sidang dugan suap dimulai sekitar pukul 10.00 hingga pukul 14.30 WIB. Sidang sempat diskor selama satu jam mulai pukul 12.00 hingga 13.30 oleh majelis hakim. Usai mendengar keterangan empat saksi, Tim JPU KPK meminta majelis hakim untuk menghadirkan dua orang saksi lagi yakni Ketua PPK Pembangunan Masjid Agung Solsel Yance Bastian dan PPPK Mutia Farida. (cr1)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional