Menu

Dua ABG Sodomi Empat Bocah

  Dibaca : 1563 kali
Dua ABG Sodomi Empat Bocah
ILUSTRASI

PADANG, METRO – Aksi sodomi tidak hanya terjadi antara orang dewasa dengan anak di bawah umur. Namun, ternyata juga bisa terjadi dengan sesama anak di bawah umur yang masih teman sepermainan. Seperti kasus yang saat ini tengah ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Padang.

Dua anak baru gede (ABG) atau remaja, M (13) dan R (15) diduga melakukan sodomi terhadap korban Gm (10) di kawasan Purus, Kecamatan Padang Barat. Diduga korban telah berulang kali disodomi hingga mengalami perubahan psikis, dan diduga masih ada beberapa anak yang juga menjadi korban. Tiga bocah lainnya sudah diperiksa.

Selain itu, dari hasil pemeriksaan kepada kedua pelaku yang sempat diamankan dieketahui pernah menjadi korban sodomi sebelumnya. Sehingga perilaku menyimpang tersebut menular. Satu per satu di antara mereka yang ada dalam kelompok anak-anak sepermainan di lingkungan tempat tinggalnya, melakukan hal yang sama secara ‘berantai’.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reskrim Polresta Padang, Iptu Rozsa Irwandi mengatakan, pihaknya masih terus mendalami kasus sodomi yang melibatkan sesama anak di bawah umur ini. Terhadap kedua pelaku sudah dilakukan pemeriksaan, namun tidak dilakukan penahanan.

”Kedua pelaku masih di bawah umur. Tidak kita tahan tapi kita serahkan kepada orang tua untuk diawasi. Kasusnya akan tetap ditindaklanjuti dan diproses sesuai dengan aturan yang berlaku. Untuk kasus ini tidak berlaku diversi karena ancaman hukuman 5-15 tahun,” kata Iptu Rozsa.

Rozsa menambahkan, sampai saat ini pihaknya hanya menerima satu laporan dari korban. Sebelumnya, sempat datang tiga korban lainnya yang diduga juga menjadi korban sodomi, namun pihak keluarga belum juga membuat laporan polisi.

”Yang kita tindak lanjuti baru satu laporan LP/1186/K/2018/SPKT Unit II. Hari ini (Senin), terhadap korban akan dilakukan visum untuk melengkapi berkas perkara. Kita masih lakukan pengembangan dengan memintai keterangan dari saksi-saksi lain,” ungkap Rozsa.

Terjadinya kasus sodomi tersebut, Rozsa menjelaskan dari hasil pemeriksaan terhadap kedua pelaku, ternyata keduanya juga merupakan korban sodomi dari orang lain. Dan sejak mengalami aksi tersebut, kedua korban ini malah melakukan hal yang sama kepada teman maupun anak yang ada di sekitarnya.

”Para korban disodomi ketika sedang bermain bersama-sama. Ada kemungkinan awalnya mereka coba-coba karena sudah pernah menjadi korban. Dalam penanganan kasus ini korban maupun pelaku akan diberikan pendamping,” ungkapnya.

Rozsa menjelaskan, terungkapnya kasus sodomi berantai ini berawal ketika orang tua korban melihat gelegat dan perilaku korban yang mengalami perubahan dari biasanya. Orang tua korban melihat korban mengalami perilaku aneh dan sangat menyimpang.

”Jadi saat korban bermain dengan sepupunya, orang tua korban melihat si korban ini agak menyimpang dan menirukan gaya sodomi. Orang tua korban kemudian menanyakan kepada korban siapa yang mengajari sehingga akhirnya terungkap bahwa kornan telah disodomi kedua pelaku,” jelas Rozsa.

Rozsa menyebut, mengingat telah terjadinya perubahan pada tingkah laku si anak karena telah menjadi korban, untuk itu perlu dibimbing agar masa depan mereka lebih baik. Bukan dengan menyudutkan atau mendiskreditkan. Karena mereka adalah korban.

”Pendampingan oleh psikolog sangat perlu untuk mengembalikan psikis si anak. Untuk itu, mari kita jaga anak dan keluarga kita agar tidak menjadi korban berikutnya dengan memberikan kasih sayang dalam keluarga serta dikuatkan dengan pemahaman agama yang lebih baik,” pungkasnya. (rg)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional