Close

Dishub Sumbar Gelar Festival Ayam Kukuak Balenggek, Tingkatkan Ekonomi, Lestarikan Ayam Endemik dari Kepunahan

FESTIVAL KUKUAK BALENGGEK Asisten II Setdaprov Sumbar, Wardarusmen bersama Kepala Dishub Sumbar, Heri Nofiardi membuka Festival Kukuak Balenggek di halaman kantor Dishub Sumbar, Minggu (11/9)

RADEN SALEH, METRO–Ada suasana yang berbeda dari biasanya di Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Sumbar, Minggu pagi (11/9). Kantor di Jalan Raden Saleh itu begitu ramai dikunjungi ratusan warga.

Mereka datang membawa masing-masing keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Suasana di kantor tersebut hiruk pikuk dengan suara kukuak (kokok-red) ayam bersahut-sahutan dari dalam keranjang dan ada juga ayam yang sudah diikatkan kakinya dengan tali di batang pohon. Kukuak ayam yang berbunyi terlihat beraneka ragam dan bertingkat-tingkat.

Tidak hanya itu di ba­wah tenda besar yang didatangkan dari BPBD Sum­­bar terlihat sejumlah sang­kar yang berisi ayam hias yang unik yang menarik perhatian pengunjung.

Pagi itu, Dishub Sumbar menggelar Festival Ayam Kukuak Balenggek. Festival yang cukup unik itu diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah.

Kepala Dishub Sumbar, Heri Nofiardi mengatakan, Festival Ayam Kukuak Ba­leng­gek ini merupakan kegiatan rangkaian dari memperingati Hari Perhubungan Nasional, pada 17 September 2022 nanti. Di mana tema yang diusung nanti, yakni, “Bersama Kita Bangkit”.

Ide awal dilaksanakan event ini, karena ayam kukuak balenggek ini merupakan ayam khas Sumbar. Namun, nilai jual di tengah masyarakat dan penggemar belum memenuhi ha­rapan.

“Seperti ayam brama dan lainnya, nilainya hanya Rp10 juta. Kita coba mengemas event ini secara profesional dan perbanyak eksibisi sehingga diharapkan nilai jualnya naik,” harap Heri, Minggu (11/9).

“Kita juga membina masyarakat yang punya usaha ayam kukuak ba­lenggek. Sehingga mereka termotivasi memproduksi ayam yang sehat, berkualitas dari segi fisik dan suara,” terangnya.

Ayam kukuak baleng­gek ini menurut Heri yang juga Pembina Ayam Kukuak Balenggek Kota Padang ini harus dipopulerkan. Karena masing-masing ayam punya jenis karakter dan irama kukuaknya. Na­ma kukuaknya juga memakai ciri khas Minang­kabau seperti, rantak gumarang, gegek angin dan sebagainya. “Mudah-mudahan event­ ini viral se-Indonesia. Sehingga ayam ini tidak punah ke depan,” harapnya.

Heri mengungkapkan, ada beberapa kriteria lomba pada event ini, yakni, kategori randah batu. Kategori ini yang dinilai adalah ayam yang sering ber­kukuak dan rendah.

Kemudian kategori lan­dik, yang dinilai kukuaknya di atas tiga tingkat. Juga ada kategori boko, yang kukuaknya di atas lima tingkat. Terakhir kategori istimewa, yang dinilai kukuaknya di atas tujuh tingkat.

Panitia Pelaksana Festival Ayam Kukuak Baleng­gek, Ade Putra mengatakan, 500 peserta lomba ayam kukuak balenggek yang digelar hari itu datang dari berbagai daerah, yakni, Padang, Padangpanjang, Pariaman, Solok, Sa­wah­lunto dan lainnya.

Ade Putra mengatakan, Festival Ayam Kukuak Balenggek yang digelar hari itu bertujuan meningkatkan pendapatan dan ekonomi masyarakat bagi mereka pecinta ayam ku­kuak balenggek. Di mana ayam kukuak balengek ini merupakan ayam endemik yang tidak ada di dunia dan hanya ada di Sumbar.

“Dengan digelarnya festival ini diharapkan dapat meningkatkan marwah ayam endemik ini agar memiliki nilai jual yang tinggi dan berdampak meningkatkan ekonomi ma­sya­rakat,” harapnya.

Pemerhati Ayam Kukuak Balenggek, Ir Pinsinawa mengatakan, ayam kukuak balenggek adalah ayam lokal di Sumbar yang sifatnya endemik.

Selama ini ayam kukuak balenggek ini kurang terangkat ke permukaan. Padahal ayam ini potensinya sangat besar. “Kebera­daan ayam kukuak ba­leng­gek ini mulai diangkat ta­hun 1990 oleh Dinas Pertanian waktu itu. Namun, saat itu hanya sekedar pameran,” ungkapnya.

Pinsinawa mengung­kap­kan ayam kukuak ba­leng­gek ini keragamannya sangat banyak. Karena keunikannya, ayam ini pernah disukai Pangeran Jepang yang pernah datang berkunjung ke Sumbar dan membawa ayam ini ke negaranya.

Ayam kukuk balenggek ini disebut juga dengan Ayam Yungkilo, yang artinya Payung Sakaki Solok, daerah pusat ayam endemik ini.

Pinsinawa menambahkan, di Sumbar ada dua jenis ayam kukuak baleng­gek, yakni ayam kukuak balenggek dengan ukuran tubuh normal. Juga ada ayam kukuak balenggek randah batu.

Karena ayam ini sifatnya endemik, Pinsinawa mengaku dirinya kuatir ayam ini akan punah. Pinsinawa berharap, dengan digelarnya festival dan berbagai perlombaaan, ma­ka akan berdampak ting­gi­nya minat masya­rakat terhadap ayam ini untuk memperbanyak populasinya.

“Dengan adanya acara festival ini mengangkat kembali potensi di Sumbar. Khususnya ayam endemik supaya populasi jangan punah. Sekarang banyak ayam kawin silang yang berdampak kualitas ayam endemik ini turun. Dengan lomba, kita coba cari ayam yang potensial dirawat dan dijaga agar kualitas terjaga,” harapnya.

“Mari kita boomingkan kembali ayam kukuak ba­lenggek. Hasilnya selama ini nyata, ayam ini mulai booming dann harganya naik,” tambahnya.

Gubernur Sumbar, Mah­­yeldi Ansharullah yang diwakili Asisten II Wardarusmen mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada asosiasi dan komunitas ayam kukuak balenggek atas terselenggaranya festival ini. Hadirnya festival ini menurutnya, mengangkat marwah ayam endemik dari Pa­yuang Sakaki Kabupaten Solok ini.

Wardarusmen mengingat kembali kenangan setiap Lebaran datang. Di mana keluarganya yang di rantau pulang ke kampung halaman di Koto Anau, meminta dirinya carikan ayam kukuak balenggek.

“Saya carikan ayam ini ke kampung saya di Koto Anau Solok. Ternyata memang sulit dicarikan. Kondisi ini harus menjadi perhatian, agar ayam endemik ini jangan sampai punah,” ungkapnya.

Wardarusmen mengatakan, banyak filosofi yang terkandung dalam ayam kukuak balenggek ini. “De­ngan mendengar suara kukuak balenggek ini terobati rasa di kampung halaman. Kalau ada ayam ini di rumah, ibaratkan yang tinggal di rumah itu gagah berani, karena yang menjaga rumahnya ayam dengan kukuaknya yang indah,” ujarnya. (fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top