Menu

Dinkes Kabu­paten Agam Susun Regulasi Penurunan Stunting

  Dibaca : 63 kali
Dinkes Kabu­paten Agam Susun Regulasi Penurunan Stunting
PERTEMUAN— Dinkes Agam menggelar pertemuan untuk penyusunan regulasi penurunan kasus stunting secara bersama dengan OPD dan kepala Puskesmas.

AGAM, METRO–Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabu­paten Agam gelar pertemuan me­nyusun regulasi stunting, untuk pem­bentukan Perbup penurunan stunting secara terintegrasi di Hotel Santika Bukittinggi, Kamis (2/9). Karena untuk mengantisipasi kasus stunting di Agam butuh aturan yang terintegrasi dengan OPD terkait. Pertemuan ini digelar bersama unsur OPD, camat dan Ke­pala Puskesmas se-Agam, dengan narasum­ber dari Dinas Kesehatan Sumbar, Bappeda Sumbar dan DPMD Sumbar.

Kegiatan yang berlangsung dua hari ini, dibuka Bupati Agam, Andri Warman turut dihadiri Asisten II Setdakab Agam, Yosefriawan dan Kepala Dinas Kese­hatan Agam, Hendri Rusdian.

Melalui pertemuan ini, Bupati Agam Andri Warman berharap dapat menghasilkan pemahaman yang lebih terhadap upaya penutunan angka stunting, yang nanti diperkuat dengan terbitnya Perbup tentang penurunan stunting terintegrasi.

“Sebab stunting tidak hanya terkait dengan persoalan kesehatan saja, tetapi juga menyangkut bagi seluruh perma­salahan seperti lingkungan, sarana prasarana, hygiene sanitasi, pendidikan, ekonomi dan lainnya,” ujar bupati.

Selain permasalahan stunting, katanya, tahun ini Agam juga ditetap­kan sebagai lokus intervensi kematian ibu dan bayi, yang juga saling berin­tegrasi dengan kejadian stunting di Agam. “Dengan jumlah penduduk Agam berdasarkan proyeksi saat ini 500.774 jiwa, balita 43.605 jiwa, ibu hamil 9.700 jiwa dan bayi lahir hidup sekitar 530 sampai 650 jiwa setiap bulannya, maka sangat diperlukan kerjasama yang terintegrasi dan penguatan dengan Perbup,” sebut bupati.

Menurutnya, komposisi penduduk Agam dibanding beberapa tahun lalu telah mengalami transisi demografi, yang ditengarai dengan masih banyak­nya kelompok penduduk atau anak-anak berusia di bawah lima tahun.

Seusia itu, katanya, masih sangat membutuhkan peningkatan pelayanan kesehatan, pendidikan, kebutuhan energi dan pangan dalam peningkatan ketahanan gizi mereka.

Namun, di waktu bersamaan terja­di pula peningkatan jumlah penduduk kelompok usia remaja, yang memer­lukan peningkatan akses kesehatan agar mereka dapat hidup sehat tanpa anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK).

“Ke depan mereka juga akan jadi calon ibu yang melahirkan anak dan merawat balita, dengan harapan tidak mengalami stunting. Tentu tantangan ini tidak semudah membalik telapak tangan, sehingga perlu kita hadapi secara bersama dan saling ber­sinergi,” kata Andri.

Dengan begitu, terangnya, perlu segera disusun langkah kongkrit yang terkoordinasi guna menurunkan jum­lah balita stunting di Kabupaten Agam, minimal tidak terjadi penambahan kasus. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional