Menu

Dikira Situs Megalitikum, Rupanya Mushalla Batu

  Dibaca : 3062 kali
Dikira Situs Megalitikum, Rupanya Mushalla Batu
Timw AR Center menyerahkan bantuan uang tunai dan beras dari Andre Rosiade kepada keluarga Ria di Mata Air, Padang Selatan.
Mushalla yang terbuat dari batu di kampus Fakultas Pertanian, Universitas Andalas (Unand) Padang

Mushalla yang terbuat dari batu di kampus Fakultas Pertanian, Universitas Andalas (Unand) Padang.

PADANG, METRO–Dibangun sejak tahun 2008, keberadaan mushalla batu di kebun percobaan Fakultas Pertanian (Faperta) Univeristas Andalas (Unand) makin ramai dikunjungi. Bentuknya yang unik, terbuat dari susunan bebatuan berukuran besar, membuat mushalla yang diberi nama Mushalla Jabal Rahmah ini menjadi tempat favorit bagi mahasiswa serta dosen yang tengah melakukan praktik lapangan atau praktikum di kebun percobaan itu.

Pada awalnya, Mushalla Jabal Rahmah dikira sebagai salah satu situs prasejarah oleh sebagian warga kota karena bentuk bangunan yang mengingatkan pada zaman megalitikum (batu besar). Ditambah dengan lokasi yang berada di tengah-tengah kebun percobaan, makin menguatkan pikiran warga bahwa bangunan tersebut adalah sebuah peninggalan sejarah yang memiliki sebuah peradaban.

Untuk mencapai lokasi ini saja harus melalui jalanan bebatuan nan terjal, dikelilingi berbagai pepohonan hijau. Selain itu bukit terjal berbatu cadas pun menanti. Jika menggunakan sepeda motor tentu harus ekstra hati-hati, mengingat bebatuan ini cukup berbahaya.

Bentuk fisik bangunan yang terbuat dari batu alam yang berasal dari bebatuan pegunungan dari daerah tersebut. Bebatuan berbagai ukuran itu, tersusun rapi membentuk sebuah bangunan yang memiliki tinggi lima meter ini. Tersusun dari berbagai macam batu mulai dari ukuran 20 ton hingga batu berukuran 5 kilogram. Kesemua batu tersusun erat dan tidak rata, dimana batu tersebut saling menguatkan satu dengan yang lain.

Namun, sejatinya bangunnan berbentuk kubus tersebut adalah rakitan bebatuan berukuran besar yang sengaja disusun yang diperuntukkan sebagai mushalla. Bangunan tersebut hadir di atas gundukan bukit kebun percobaan Faperta.

Dekan Fakultas Pertanian Unand Prof. Ardi, mengatakan bahwa di saat dirinya diangkat menjadi dekan, dirinya ingin membuka akses jalan lingkar di kebun percobaan tersebut. Dengan mendatangkan alat berata milik pribadi dari Payakumbuh, ia mencoba membuka jalur jalan. Namun, ketika pekerjaan tersebut selesai menghasilkan banyak bebatuan bermacam ukuran, dari sanalah ada ide untuk memanfaatkan bebatuan yang ada untuk pembangunan mushalla.

”Dalam waktu hanya delapan jam, kami sudah berhasil menyusun bebatuan tersebut dengan ketinggian setengah dari keseluruhan bangunan tersebut,” katanya.

Nama Jabal Rahmah berasal dari lokasi mushalla tersebut dibangun, yang terletak di atas bukit. ”Ketika memandangnya saya teringat dengan Jabal Rahmah yang dalam bahasa Arab berarti Bukit Rahmah. Namun ada batu yang berada di dekat mihrab pengimaman tersebut berbentuk persegi panjang. Dan saya yakin itu bukanlah batuan alam. Namun diperkirakan adalah batu yang sudah dipahat untuk dijadikan patung,” ungkapnya.

Hingga saat ini, diakui Prof Ardi semakin banyak orang yang berkunjung ke Mushalla Jabal Rahmah, baik mahasiswa maupun warga yang datang dari berbagai daerah. ”Mungkin karena saya juga menginformasikan hal ini melalui media sosial sehingga makin banyak yang datang setiap hari,” tutupnya.

Salah satu Dosen Faperta Unand Yusrizal membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan bahwa yang membuat dekan lebih bersemangat membangun ini adalah ketika gempa besar tahun 2009 melanda Kota Padang.

Tidak sedikitpun bangunan tersebut rusak atau runtuh, mushalla ini tetap berdiri kokoh sehingga pembangunannya dilanjutkan hingga diresmikan pada saat perayaan HUT  Faperta ke-60. ”Dana untuk pembangunan mushalla ini sekitar Rp250 juta, yang sebagian besar berasal dari donasi alumni dan sisanya berasal dari Fateta,” katanya.

Dikatakan, bahwa saat ini sudah banyak orang yang berkunjung. Padahal dulunya dibangun hanya untuk mahasiswa dan dosen yang melakukan penelitian. ”Biasanya setiap Sabtu, penelitian dilakukan seharian penuh, sehingga kita membutuhkan lokasi untuk beribadah,” jelasnya.

Untuk kebutuhan air, ia menjelaskan bahwa air diambil dari air pegunungan langsung yang diambil sepanjang 2 km ke arah Bukit Barisan. ”Fasilitas listrik juga telah masuk ke lokasi ini, jadi tidak ada permasalahan lagi jika orang berkunjung ke lokasi ini,” tutupnya.

Sementara, Rafky Fenta (18), mahasiswa Ekonomi Unand, sengaja datang ke mushalla batu disela-sela jadwal kuliah. Ia datang bersama tiga rekannya hanya untuk menikmati beribadah. ”Mushalla ini unik dan kreatif karena lokasinya sangat strategis. Dibangun di tengah-tengah tumbuhan hijau, nyaman untuk menenangkan pikiran,” katanya.

Diakuinya bahwa ia sudah mengetahui keberadaan mushalla ini sejak 2011. ”Mushallanya bagus dan dilengkapi dengan AC,” ujarnya.

Dedy Junaidi (24), salah satu penjaga mushalla mengatakan, bahwa hampir setiap hari banyak yang datang melihat mushalla batu. ”Pintu mushalla sudah dibuka sejak pukul 07.30-16.00 WIB, jadwal tersebut rutin setiap hari. Namun jika masih ada orang yang shalat diluar jadwal tersebut tentu harus ditunggui,” lugasnya. (cr8)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional