Menu

Diduga Melakukan Penganiayaan Oknum Anggota DPRD Padang Dipolisikan

  Dibaca : 1088 kali
Diduga Melakukan Penganiayaan Oknum Anggota DPRD Padang Dipolisikan
PERLIHATKAN SURAT— Hendrizal yang mengaku dianiaya anggota DPRD Kota Padang bernisial AA memperlihatkan surat bukti laporan polisi.

PADANG, METRO
Oknum anggota DPRD Padang berinsial AA dilaporkan ke Polresta Padang oleh salah seorang warga bernama Hendrizal (63) atas kasus penganiayaan dan ancaman pembunuhan yang dialaminya gara-gara memasang plang kepemilikan tanah di Komplek Villa Mega, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan pada hari Senin tanggal 23 maret 2020 lalu.

Meski kejadian penganiayaan itu terjadi hampir sebulan yang lalu, korban Hendrizal baru melaporkannya ke Polresta Padang, Senin (20/4). Akibat aksi penganiayaan itu, korban ketika kejadian penganiayaan tersebut mengalami luka pada bagian kepala dan tangannya.

“Kejadiannya berawal ketika saya akan memasang plang di sebuah tanah yang berada di depan rumah oknum anggota DPRD berinsial AA ini. Tiba-tiba datang salah seorang rekan pelaku AA ini yang melarang saya memasang plang tersebut,” ujar Hendrizal yang biasa di panggil Pak Ris, Senin (20/4).

Pak Ris menambahkan, setelah rekan AA yang melarang pemasangan plang tersebut pergi, kemudian datang AA bersama dengan lebih kurang delapan orang lainnya mendekati dan langsung melakukan penyerangan kepada dirinya.

“Akibatnya bagian kening ini (sambil menunjuk arah keningnya) mengeluarkan darah karena luka robek. Di bagian tangan juga mengalami luka robek dan mengeluarkan darah.

Setelah menerima penganiayaan tersebut, AA kemudian mengeluarkan kata-kata yang mengancam akan membunuh saya apabila masih berani memasang plang tersebut. Makanya, saya akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polisi untuk menempuh jalur hukum,”ujarnya.

Dijelaskan oleh Ris, pemasangan plang yang dilakukan tersebut karena tanah yang dipasang plang olehnya tersebut diklaim oleh AA merupakan tanahnya dengan alasan telah dibeli kepada pihak lain berinisial GG.

“Namun disini saat kami minta bukti kepemilikan berupa sertifikat tanahnya, baik AA maupun GG tidak bisa mempunyai sertifikat seperti yang kami minta,” jelas Pak Ris.

Lebih lanjut Pak Ris menuturkan, tanah tersebut merupakan tanah milik ahli warisnya dari Suku Tanjung yang telah turun temurun menjadi hak milik ahli waris keluarganya.

“Tanah tersebut oleh ahli waris disebut dengan Tanah Puteri Rahmat (Putitaramek) yang telah di akui oleh Datuk, serta KAN setempat, dan saat inipun sertifikatnya dalam proses penyelesaiannya,” tegas Pak Ris.

Menurut Ris, berubahnya kepemilikan tanah yang diklaim milik seorang berinisial GG ini, berawal pada zaman dahulu dimana tanah yang awalnya memang terbengkalai tersebut diminta kepada seseorang untuk menggarap tanah tersebut.

“Namun saudara GG ini yang tidak mengetahui asal-usul tanah tersebut langsung mengklaim tanah tersebut miliknya yang telah turun temurun dari nenek-neneknya terdahulu.

Nyatanya nenek-nenek terdahulu tersebut hanya diminta untuk menggarap tanah tersebut oleh nenek-nenek kami terdahulu. Kemudian dari GG inilah, saudara AA yang melakukan penganiayaan kepada saya ini membeli tanah tersebut,” tutur Pak Ris menceritakan asal usul tanah yang menjadi penyebab dirinya dianiaya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Padang Kompol Rico Fernanda membenarkan pihaknya telah menerima laporan dari salah seorang warga kota Padang yang telah mengalami penganiayaan dan ancaman pembunuhan yang di lakukan oleh salah seorang anggota dewan kota Padang berinisial AA. “Laporan telah kami terima, Saat ini perkara tersebut masih dalam tahap penyelidikan kami,” ujar kompol Rico saa dikonfirmasi. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional