Close

Diduga Ada Monopoli Pengangkutan Barang, 100 Ton Barang Pedagangan Pengumpul Menumpuk di Mentawai

TINJAU—Kapolsek Sikakap Iptu Januar saat meninjau salah satu barang pedagang pengumpul pisang yang menumpuk tidak terbawa kapal.

MENTAWAI, METRO–Diduga kuat ada monopoli permainan pengangkutan barang di kapal yang menuju Kota Padang, puluhan pedagang pe­ngum­pul asal Sikakap, Pagai Utara dan Selatan, men­jerit. Pasalnya, mereka kecewa barang dagangannya tak bisa dibawa kapal untuk dijual. Parahnya, setiap kali kapal merapat ada sekitar 100 ton hasil panen bumi dan laut  berbagai produksi menumpuk sehingga mereka me­ngalami kerugian. Adanya keluhan para pedagang ini, Ketua Asosiasi Pedagang Sikakap Des Jambak dan petani melaporkan peristiwa itu kepada Kapolsek Sikakap Iptu Januar.

 Kapolsek Sikakap Iptu Januar mengaku adanya keluhan para pedagang pengumpul tersebut. Kami   sudah bingung mendengar jerit tangisan para pedagang pengumpul hasil bumi dan laut di Si­kakap, Pagai Utara dan Selatan.

Setiap jadwal kapal ma­suk, banyaknya barang dagangan mereka yang tertinggal. Diperkirakan ada sekitar 100 ton, barang barang milik pedagang pengumpul tidak terbawa. Apa lagi pedagang pisang. Jika tertinggal sudah jelas rugi besar. Mereka tak mungkin menanti lagi kapal yang dating. “Sebab pisang dan ikan akan mengalami pembusukan dan itu sangat merugikan sekali,” terang Januar.

Apalagi kata Januar, untuk dikurangi belanjannya tentu tidak mungkin karena panen hasil pertanian membludak. Jengkol, pisang dan pinang adalah hasil utamanya di Sikakap, Pagai Utara dan Selatan.  Mereka kata Januar, juga tidak mungkin untuk me­ngurangi belanja karena petani sudah bersusahpayah membawa hasil ta­ninya ke Kecematan Sika­kap untuk dijual ke Kota Padang. “Ibarat memakan buah Simalakama. Tidak dibeli ayah mati, dimakan ibu yg mati. Jadi dalam hal ini pedagang memang berharap banyak kepada pemerintah untuk mengatasi kesulitan ini,” sebut Ja­nuar.

Lebihjauh Januar me­ngatakan, bahwa laporan dan kegelisahan pedagang ini selalu menjadi tumpuan. Bersama aparat TNI dari Koramil serta Kamla untuk mengatasi kekisruhan yang terjadi.

Kami hanya bisa membantu tentu sesuai dengan kewenangan. Kami paling bisa mengatur para pedagang yang mau sesukanya saja monopoli di kapal.  “Diduga ada permainan monopoli yang dilakukan para oknum oknum tertentu sehingga pedagang pe­ngumpul menjadi menderita,” aku Iptu Januar. Kami juga berharap pemerintah kabupaten maupun pro­pinsi untuk segera membantu mencarikan solusi masalah ini secepatnya. “Jangan sampai berlarut larut masalah ini yang nantinya akan menjadi salah satu penyebab kerawanan Kamtibmas,” tutur Januar.

  Ketua Asosiasi Pedagang Sikakap Des Jambak kepada POSMETRO me­ngaku, keluhan pedagang pengumpul sudah lama dirasakan. Untuk itu pihaknya memohon kepada pihak terkait untuk mencari solsusinya agar eko­nomi masyarakat khu­sus­nya petani dan pedagang pe­ngumpul tidak hancur.

“Bisa saja untuk penambahan kapal yang m­e­rapat ke Sikakap atau de­ngan mencari solusi lainnya yang dapat menum­buh­kan perekonomian ma­sya­rakat Sikakap, Pagai Utara dan Selatan,” jara Des Jambak. (ped)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top