Menu

Dicium dan Dipeluk Kades,Sekretaris Teriak Minta Tolong, Warga Berdatangan, YE Tertunduk Malu, Modus Diajak Bahas Pekerjaan di Rumah di Daerah kota Sawahlunto

  Dibaca : 797 kali
Dicium dan Dipeluk Kades,Sekretaris Teriak Minta Tolong, Warga Berdatangan, YE Tertunduk Malu, Modus Diajak Bahas Pekerjaan di Rumah di Daerah kota Sawahlunto
MEMBUAT PENGADUAN— Korban AL yang memberi diwawancarai wartawan usai membuat pengaduan di Polres Sawahlunto terkait kasus pelecehan seksual yang dialaminya.

SAWAHLUNTO,METRO–Diminta datang ke rumah untuk membahas pekerjan, Kepala Desa (Kades) Taratak Bancah, Keca­matan Silungkang, Kota Sawah­lunto berinisial YE (41) dipergoki warga melakukan pelecehan seksual kepada sekretaris desa (Sekdes). Peristiwa itu terjadi pa­da Selasa (8/6) pukul 08.22 WIB.

Untungnya, Sekdes berinisial AL (39) berteriak meminta tolong ketika oknum Kades itu berusaha men­cium dan memeluknya, se­hing­ga warga setempat lang­sung berdatangan. Saat warga datang, sang Kades hanya ditemukan dengan kondisi meng­gu­nakan baju kaos warna merah dan bagian bawah ditutupi handuk.

Menurut keterangan pemuda setempat, Jon mengatakan bahwa pagi itu dia bersama masya­rakat setempat mende­ngar teriakan minta tolong dari rumah oknum Kades. Makanya, ia bersama war­ga lainnya ramai-ramai memasuki rumah oknum Kades tersebut.

“Ketika kita masuk ke rumah oknum Kades, ter­lihatlah oknum Kades ter­sebut sedang memakai handuk putih dan baju ka­os. Dia hanya bisa ter­tunduk malu karens sudah terdicuk massa hendak berbuat tidak senonoh ke­pada korban yang tak lain merupakan sekreta­ris­nya,” ungkap Jon.

Sementara, korban AL saat dikonfirmasi wartawan di Polres Sawahlunto usai membuat pengaduan, mem­benarkan dirinya te­lah menjadi korban pelece­han. Kejadian tersebut ber­a­wal Kades menghubu­nginya melalui sambungan telepon pada pukul 8.00 WIB dan meminta dirinya datang ke rumah Kades untuk mem­bahas pe­kerjaan.

“Saya memang sudah curiga dengan permintaan Kades. Padahal waktu itu kantor desa telah terbuka dan para staf sudah masuk kerja. Cuma saya yang belum datang ke kantor. Waktu itu saya memenuhi permintaan Kades, tetapi sebelum datang ke rumah Kades, saya menghubungi Ketua Pemuda Desa Desa Taratak Bancah untuk me­minta bantuan jika terjadi sesuatu hal saat dia berada di rumah Kades,” cerita AL.

Setelah meminta ban­tuan itu, AL menam­bah­kan, Jon sebagai ketua pemuda setempat me­min­ta dirinya untuk terus me­nyam­bung­kan telepon, de­ngan tujuan apabila bila terjadi sesuatu, pemuda maupun warga setempat bisa dengan cepat datang membantu.

“Saya kemudian da­tang ke rumah Kades. Awal­nya saya diajak ngobrol, tapi kades malah menarik kedua  tangan saya. Saat itu saya langsung tertarik ke tubuh Kades dan dia  langsung melecehkan sa­ya. Dia mencium saya dan lalu memeluk saya. Saat itulah saya langsung ber­teriak minta tolong,” ung­kap korban.

AL menuturkan, teri­a­kannya tersebut tedengar dalam Hp Jon dan masya­rakat yang berada di luar langsung masuk dan me­nyergap YE, dan ditemu­kan YE dalam kondisi me­makai handuk putih dan baju merah. Saat warga sudah datang, ia yang se­mula sangat ketakutan, akhirnya merasa aman. Setelah itu, ia pun langsung melaporkan perbuatan Ka­des tersebut ke Polres Sa­wahlunto.

“Kades memang sering menekan saya, dengan an­caman bila tidak me­nuruti kehendaknya akan ditu­runkan jabatannya dari Sekdes. Ancaman ini sudah terjadi sejak tahun 2020. Padahal saya sudah ber­suami dan memiliki satu orang anak, tetapi YE kerap mengganggu saya. Ka­dang malam hari diajaknya ber­temu di kantor untuk mem­bahas pekerjaan,” ujar AL.

Sementara oknum Ka­des berinisial YE saat di­kon­firmasi koran ini mem­bantah kalau dirinya telah melaku­kan percobaan pe­lecehan seksual kepada sekreta­risnya. Ia juha membantah tuduhan sering mengancam sekretaris de­sa tersebut.

“Keterangan saksi dan korban mengenai terja­dinya upaya percobaan pelecehan seksual ter­ha­dap AL yang terjadi diru­mahnya tidak benar. Dan mengenai ancaman ter­hadap penurunan jabatan terhadap AL itu juga tidak benar,” kata YE dengan singkat.

Terpisah, Kanit PPA Sat­reskrim Polres Sawahlunto Iptu Ayib mengatakan, pihaknya sudah menerima pengaduan dari pihak kor­ban, namun untuk saat ini belum bisa menjadi la­poran karena bukti fisik dan saksi belum lengkap.

“Jadi pihak kami masih mempelajari kasus ini dulu, dan mendalami kasus ini dengan mengumpulkan bukti. Ini masih kita selidiki dulu untuk pembuk­tian­nya,” kata Iptu Ayib.

Sedangkan Ketua P2­TP2A Neldaswenti Zohirin mengaku pihaknya sedang menunggu laporan tertulis dari pihak korban saat ini. Tentunya, dengan laporan itu, pihaknya akan lang­sung bekerja untuk mela­kukan investigasi meng­ungkap fakta-fakta yang terjadi.

“Usai laporan tertulis dari korban kita akan laku­kan investigasi melibatkan keseluruhan tim P2TP2A untuk mendalami kasus ini, apakah memang ada an­caman penurunan jabatan seperti yang dikatakan AL, ancaman dilakukan oleh YE bila AL tidak mau menuruti kehendak YE. Ini bentuk penyudutan terhadap ka­um perempuan, kita akan berkoordinasi dengan pi­hak Polres Sawahlunto da­lam menyikapi kasus ini,” jelasnya. (pin)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional