Menu

Dharmasraya Mencekam, Polisi-Warga Saling-Serang

  Dibaca : 2519 kali
Dharmasraya Mencekam, Polisi-Warga Saling-Serang
Demo Dharmasraya - web

Jasad seorang penambang digotong ke Rumah Bupati Dharmasraya, karena diduga terbunuh saat polisi membakar tambang.

DHARMASRAYA, METRO–Kondisi Dharmasraya kian mencekam pascatewasnya seorang penambang dalam pembakaran lahan yang dilakukan polisi, Senin (26/10) sore. Polda Sumbar sampai-sampai harus menurunkan satu kompi Brimob untuk mengondusifkan suasana. Tapi, jangankan kondusif, keberadaan Brimob malah membuat warga kasak-kusuk.

Ketakutan warga bukan tanpa alasan. November, dua tahun lalu, Dharmasraya persisnya kawasan Sitiung pernah “diobrak-abrik”, aparat sebagai buntut razia tambang dan penyanderaan Kapolres saat bentrokan terjadi. Saat itu, kondisi sangat mencekam. Sejumlah besar laki-laki yang ada di Trans Sitiung 5, Jorong Aur Jaya, Kecamatan Koto Baru itu diangkut polisi. Anak-anak trauma, ibu-ibu takut bukan main. ”Masyarakat cemas, peristiwa yang sama berulang,” terang aktivis Pandong Spenra SH, Selasa (27/10) sore.

Malam Senin (26/10), polisi dan warga saring serang. Baku pukul dan perang batu. Satu unit mobil Dalmas dirusak. Merasa dilawan, polisi tak kalah agresif, warga dikejari dan ada yang terkena pukulan. Beberapa orang tumbang dan dilarikan ke RSUD Sungaidareh, untuk mendapatkan pertolongan medis. Warga juga melakukan blokade jalan, dengan cara membakar ban. Sampai-sampai, polisi menembakkan pistol untuk peringatan, dan gas air mata untuk membubarkan warga.

Aksi itu merupakan wujud protes ratusan warga terhadap tewasnya satu penambang usai penertiban tambang emas ilegal yang dilakukan petugas gabungan polisi, TNI dan Satpol PP di Jorong Duriansimpai, Kenagarian Ampek Koto Dibauah, Kecamatan IX Koto, Senin (26/10) siang. Penambang bernama Toni, warga Solok dan Dedi, asal Pulau Jawa itu ditemukan terkapar di lokasi tambang emas ilegal yang baru saja ditertibkan. Diduga keduanya terkurung dalam lubang, kekurangan oksigen, karena terlalu banyak menghirup asap saat petugas gabungan membakar ratusan pondok penambang di lokasi tambang emas ilegal.

Lokasinya berada di suatu kawasan perbukitan. Sesampainya di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB, ribuan penambang diminta pergi meninggalkan lokasi dan keluar dari lubang tambang. Merasa lokasi sudah aman, tim gabungan yang berjumlah sekitar 180 orang membakar ratusan pondok di sekitar lubang tambang. Penertiban berlangsung aman dan tidak ada perlawanan warga.

Setelah penertiban, petugas gabungan meninggalkan lokasi tambang yang letaknya sekitar 2 kilometer dari jalan raya lintas Sumatera. Dalam perjalanan, beredar kabar ada penambang yang ditemukan meninggal dalam lubang tambang. Selain itu, seorang lagi kritis dan dibawa ke Puskesmas.

Salah seorang warga, Leli, yang berada di lokasi saat penertiban tambang emas ilegal, menduga kedua korban tersebut masuk ke dalam lubang tambang dan tidak mengetahui adanya penertiban yang dilakukan aparat gabungan. ”Karena ada juga warga yang menambang mulai dari subuh,” katanya.

Ratusan penambang yang tidak terima dengan kejadian itu, langsung mendatangi rumah dinas bupati dengan membawa jasad korban. Warga yang emosi, kemudian merusak rumah dinas. Kaca rumah dinas bupati pecah. Demi keamanan, bupati diungsikan dari rumah tersebut. Untuk menghalau massa yang sudah bertindak anarkistis, polisi mengeluarkan beberapa kali tembakan peringatan ke udara.

Mendengar itu, massa menghentikan aksinya dan memadati halaman rumah dinas bupati. Namun, sebagian dari mereka membakar ban bekas di jalan raya sehingga memicu kemacetan panjang sekitar 10 menit di jalan lintas Sumatera itu.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya bupati dikawal polisi dan TNI kembali bersama mobil Dandim. Mereka kemudian melakukan pertemuan yang dihadiri pihak Polres, TNI, Satpol-PP, perwakilan warga dan keluarga korban serta wali nagari. Setelah pertemuan, massa membubarkan diri dan polisi masih melakukan pengawalan karena dalam kejadian malam itu, kaca sebuah mobil polisi ikut pecah dilempari massa.

Pertemuan menghasilkan sejumlah keputusan, di antaranya Pemkab menanggung semua biaya pemakaman korban yang meninggal, dan biaya hidup anak dari korban. Untuk memastikan penyebab korban meninggal, dilakukan otopsi. Selain itu, tuntutan dari masyarakat agar kembali bisa menambang dipenuhi dengan syarat tidak merusak sungai.

Lapor ke Polda

Peristiwa ini, menurut Pandong adalah perkara hukum, dan harus diselesaikan secara hukum pula. “Kita pasti akan melaporkan kasus ini. Sekarang, kawan-kawan aktivis lainnya sedang melakukan investigasi di lapangan untuk mengumpulkan data dan bukti sebanyak-banyaknya. Kalau sudah terkumpul, baru dilaporkan.

Dijelaskan Pandong, musyawarah yang berujung perdamaian antara niniak mamak, keluarga korban dan Muspida, merupakan penyelesaian secara persepektif sosial. “Secara persepektif hukumnya belum tuntas. Damai boleh saja, tapi tindakan hukuman tak hilang. Ini menyangkut nyawa seseorang, bukan perkara main-main,” tutur Pandong yang dikenal sebagai penggerak mahasiswi di zamannya.

Dituturkan Pandong, secara gambling, kasus pembakaran lahan yang berujung tewasnya satu penambang, sama saja dengan kecelakaan. “Misalnya ada sopir truk yang menabrak pesepeda motor, lalu korbannya tewas. Sang sopir memang tidak sengaja, tapi dia tetap dihukum. Dijerat pasal pembunuhan tak berencana. Sama juga dengan perkara ini. Walau tidak ada unsur kesengajaan, tapi sudah menghilangkan nyawa orang,” tutur Pandong.

Kini, pentolan aktivis asal Dharmasraya sedang mencari waktu yang tepat untuk pelaporan. “Jika yang salah aparat, harus dihukum. Jangan sampai, hukum dianggap tajam ke bawah. Kasus ini tak selesai dengan duduk semeja, bermusyawarah saja. Ranahnya hukum,” tegas Pandong. (hen)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional