Close

Darwin Nunez, Pahlawan Baru Liverpool

LIVERPOOL, METRO–Nunez masuk dari bangku ca­dangan dan mencetak gol di Community Shield, tapi haruskah dia jadi starter di partai pembuka Liga Primer Inggris The Reds?. Satu laga, satu gol, satu trofi. Satu pahlawan baru, tanpa baju, dengan rambut top-knot. Satu yang akan disembah fans Liverpool

Darwin Nunez rasanya tak bisa meminta debut yang lebih indah lagi. Ketika tiba di sebuah klub baru di liga baru, dan dengan harga selangit – bahkan jadi rekor transfer! – hal pertama yang ingin Anda capai adalah memulai dengan baik. Dan striker Uruguay ini sukses memulai dengan sangat baik.

“Penting buat dia, penting buat kami,” adalah komentar Virgil van Dijk setelah Nunez masuk dari bangku cadangan untuk meneng­gelamkan Manchester City di Community Shield di King Power Stadium, Sabtu (30/7).

Dalam waktu setengah jam le­bih sedikit, pria £64 juta itu menunjukan alasan Liverpool ‘ngebet’ mendatangkannya dari Benfica, mengapa Van Dijk meyakini dia adalah sosok “striker modern” sempurna, dan mengapa Jurgen Klopp yakin betul pemain 23 tahun ini akan membuat klub yang nyaris quadruple musim lalu bisa semakin kuat.

Sejak pertama menginjakan kaki di lapangan, menggantikan Roberto Firimino di menit ke-58, kehadiran Nunez langsung terasa.

Di saat Erling Haaland, striker mahal baru Man City, cuma bero­perasi di bayang-bayang, mencatatkan sentuhan dan usaha umpan paling sedikit dibandingkan pemain manapun di lapangan, No.27 baru Liverpool itu terlibat dalam segala hal, ngotot ingin meninggalkan impak besar.

Dan dia berhasil melakukannya. Selesai laga, dia mencatatkan tembakan (empat) dan menerima peluang emas (tiga) lebih banyak dari pemain Liverpool manapun, dan mendapatkan lima sentuhan di kotak penalti lawan, cuma satu le­bih sedikit dari Haaland yang bermain 90 menit penuh.

Dia memenangkan penalti buat Liverpool. Sundulannya mengenai tangan Ruben Dias, memberi jalan untuk Mohamed Salah membawa The Reds unggul. Lalu, di injury time, mahkota kejayaan hinggap di kepala Nunez. Dia menanduk umpan Andy Robertson melewati Ederson dari jarak dekat, dan mengamankan skor 3-1 untuk klub barunya.

Selebrasi Nunez menggambarkan segalanya. Nunez, melepas bajunya di depan fans Liverpool yang dimabuk kejayaan. Rasa cinta sepertinya tumbuh di antara keduanya.

Mereka datang untuk menyaksikannya, menyanyikan namanya saat ia pemanasan di babak pertama, dan lagi saat dia masuk dari bangku cadangan di paruh kedua. Setelah golnya, mereka membentangkan bendera Uruguay di tribun. Terakhir kali kita melihat pemandangan itu adalah saat era Luis Suarez.

Suarez, juga dahulu langsung meninggalkan impak instan di Merseyside, dan jika Nunez bisa me­ngikuti jejak kompatriotnya, maka Kopites boleh bergembira ria.

Namun untuk saat ini, mereka ingin menikmati euforia dan momennya. Sesosok pahlawan baru sudah tiba di Anfield.

Meski konyol, hujan kritikan menyambut kehadiran Nunez di laga pramusim. Dan yang mende­ngarnya bukan cuma dia sendiri.

Andy Robertson contohnya, dalam wawancara pinggir lapangan, menyebutkan “opini sampah yang dikatakan tentangnya baru-baru ini”, dan di konferensi pasca-laga, Jurgen Klopp merujuk cemoohan terhadap anak asuhnya barunya sebagai sebuah “lelucon”.

Di mixed zone atau zona wawancara, Virgil van Dijk memberi sedikit tips buat rekan barunya.

“DIa harus mengabaikan apa yang kalian katakan soalnya pasca-laga!” ujar bek Belanda jang­kung itu kepada sekelompok wartawan. “Dia harus fokus pada dirinya, pada tim, berkembanglah, beradaptasi secepat mungkin.”

“Satu-satunya cara melakukannya adalah belajar dari latihan, belajar dari laga yang kamu mainkan, dan jangan lihat apa yang orang katakan tentangmu dan performamu. Itu, buat saya, adalah kunci kesuksesan. Hal-hal seperti itu bisa bikin kamu terdistraksi.”

Ini memang baru satu laga, dan bahkan secara teknis ini bukan laga kompetitif. Banyak tantangan yang lebih besar menanti Nunez, dan Li­verpool, dan meski banyak yang bakal ikut senang dia bersinar sementara Haaland memble, me­ngambil kesimpulan dari satu laga di awal musim sama konyolnya dengan kritikan pada Nunez di pramusim.

Van Dijk sudah pernah meng­hadapi keduanya, sehingga cocok untuk ditanyai soal kemampuan dan potensi mereka. Dan dia tidak ragu Nunez dan Haaland akan bersinar di Liga Primer Inggris.

“Kalian bisa melihat dia direct [langsung], dia melakukan lari ke belakang garis pertahanan dengan bagus, dia cepat, dia kuat,” kata­nya soal Nunez. “Sebelumnya saya sudah bilang, menurut saya dia striker modern.”

“Haaland juga sama. Mereka punya karaktersitik serupa, dan sama-sama sulit dijaga.”

“Dia [Haaland] tentunya memiliki banyak kualitas yang bisa bikin sulit hidup para bek. Dia akan membuat hidup bek di Inggris sengsara! Dia sangat direct. Punya se­galanya; bisa menanduk bola, cepat.”

“Ada tekanan dalam diri pemain yang datang dengan harga mahal, tapi Anda bisa apa? Anda datang untuk tampil bagus, dan pihak klub membayar biaya transfer demi Anda. Anda cuma harus bekerja, dan dalam kasus ini berusaha mencetak gol sebanayak mungkin. Sama halnya dengan Darwin.”

While Nunez, naturally, attrac­ted attention and headlines, it should not be forgotten that it was another Liverpool forward who picked up the Player of the Match award.

Tidak heran jika Nunez yang menghiasi halaman depan ber­bagai media, tapi jangan lupa bahwa penyerang Liverpool lain yang mendapatkan penghargaan Player of the Match.

Kita sampai hampir mati rasa melihat hebatnya Mo Salah, tapi penampilannya di Community Shield kembali mengingatkan kita.

Dia terlibat di semua gol yang dicetak Liverpool. Memberi assist buat gol pembuka Trent Alexander-Arnold, mencetak gol penalti, dan mencungkil bola yang akhirnya dikirimkan Robertson untuk Nunez, dan secara komprehensif memenangkan pertarungan sayap kanan Liverpool melawan Joao Cancelo.

Kini, dengan saga masa depannya sudah selesai – dia meneken kontrak baru berdurasi tiga tahun – Salah nampak siap untuk meneruskan perjalanan mencari kejayaan di Liverpool, entah itu kejayaan tim atau individual.

Nunez dan Haaland mungkin akan terus mencuri perhatian, tapi Anda tidak bijak kalau bertaruh melawan sang Raja Mesir itu dalam peburuan Sepatu Emas Liga Pri­mer Inggris.

Jadi, akhir pekan nanti, bagai­mana Klopp harus main di Craven Cottage? Dia enggan langsung memasang Nunez ke starting XI kemarin Sabtu, dengan alasan pressing dan link-play Roberto Firmino diperlukan untuk menghadapi Man City.

Dan itu keputusan tepat, karena Firmino tampil berkelas dan cerdas, yang membuktikan bagaimana striker Brasil itu masih bisa memainkan peran besar buat The Reds.

Namun, Nunez akan penuh percaya diri usai mencetak gol dan membikin pengaruh instan dari bangku cadangan. Jadi, akankah Klopp tergoda menjadikannya starter vs Fulham, di mana dia akan mendapatkan lebih banyak ruang dan peluang?

Apa pun yang dia pilih, Klopp boleh rileks. Ini memang baru satu laga, tetapi Liverpool terlihat lebih dari siap menyambut musim baru. (*/rom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top