Close

Dana Pembangunan PT Islam Negeri dari Utang Negara

JAKARTA, METRO–Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati blak-blakan membicarakan total utang negara untuk pembangunan Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTAIN). Ia menyebut, total pinjaman alias utang untuk pembangunan kampus Islam berasal dari instrumen pembiayaan baik luar dan dalam negeri.

Adapun rinciannya, sebanyak Rp 7,3 triliun berasal dari Islamic Development Bank, senilai Rp 2,7 triliun berasal dari Saudi Fund for Development, dan sebesar Rp 9,6 triliun berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Nah, yang lebih besar sebetulnya (utang berasal) dari APBN sendiri, dari instrumen kita sendiri, yaitu lewat Surat Berharga Syariah Negara Proyek atau projected Sukuk,” kata Sri Mulyani saat memberi sambutan dalam Ground Breaking Pembangunan Gedung UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur, Minggu (22/1).

Ia mengatakan, total utang tersebut telah digu­nakan untuk membangun berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) terhitung sejak tahun 2015 sampai dengan 2023. Adapun jumlah kampus yang telah dibangun mencapai 199 proyek.

Lebih lanjut, ia membeberkan bahwa pem­biayaan kreatif yang berasal dari Saudi Islamic Bank secara total mencapai Rp 7,3 triliun terhitung sejak tahun 2003. Sehingga ia memastikan, saat ini utang negara dalam hal pembangunan PTAIN lebih besar berasal dari APBN dibandingkan dengan utang dari Arab Saudi.

Bahkan, ia juga menjamin dari total Rp 7,3 triliun utang ke Saudi Islamic Bank tersebut tinggal tersisa sebesar Rp 2,75 triliun. “Jadi, tadi kalau dari Islamic Development Bank itu senilai 7,3 triliun dan yang aktif 2,75 triliun artinya yang lain sudah dibayar kembali,” bebernya.

Dalam sambutannya di hadapan Menteri Agama Yaqut Cholil Choumas dan Rektor UIN Maliki Malang Zainuddin, Sri Mulyani menekankan apa yang disampaikannya terkait utang bukanlah bentuk umuk atau sombong. Melainkan sebagai bagian dari pendidikan dan komunikasi.

“Artinya, jangan kita tidak mensyukuri instrumen yang kita miliki sendiri. Kita sering terlalu memuja instrumen yang dimiliki negara lain, padahal yang kita miliki yang bekerja. Dengan uang yang kita kumpulkan dari pajak, beacukai, dan kegiatan ekonomi yang berkembang bagus,” ujarnya.

Untuk diketahui, selain UIN Maliki Malang, berikut ini sejumlah kampung yang telah dibangun dengan menggunakan instrumen pembiayaan dalam negeri dan Arab Saudi. Meliputi, UIN Alauddin Makassar, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Walisongo Semarang, UIN Mataram, UIN Sunan Ampel Surabaya, Institut Agama Islam Nasional (IAIN) Raden Intan Lampung, IAIN Sultan Thaha Saifudddin Jambi. Lalu, IAIN Antasari Banjar­masin, IAIN Imam Bonjol Padang, dan IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (jpc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top