Menu

Cerita Rakit Kapalo Banda, Dulu Bawa Kayu Bakar, kini Bawa Vino G Bastian

  Dibaca : 87 kali
Cerita Rakit Kapalo Banda, Dulu Bawa Kayu Bakar, kini Bawa Vino G Bastian
Wisata Alam Kapalo Banda yang ada di Nagari Taram, Kabupaten 50 Kota sedang sangat hits di kalangan wisatawan, khususnya lokal Sumatera Barat.

Wisata Alam Kapalo Banda yang ada di Nagari Taram, Kabupaten 50 Kota sedang sangat hits di kalangan wisatawan, khu­susnya lokal Sumatera Barat. Foto-foto cantik yang diambil di lokasi ini menghiasi banyak akun media sosial. Di tangan fotografer profesional, objek yang juga dikenal dengan singkatan Wa­kanda ini seakan menjadi ulnocked paradise yang me­narik perhatian banyak orang.
Sa­lah sa­tu objek paling menarik disini adalah ra­kit. Rakit di Wakanda a­dalah susunan puluhan mambu yang diikat se­demikian rupa sehingga bisa memuat penumpang di atasnya. Untuk meng­gerakkan rakit, seorang pengendara harus meng­gunakan sebilah bambu yang kuat. Bambu tersebut di hunuskan ke dasar su­ngai Compo (tempat biasa rakit-rakit darungkan-red). Begitu rakit bergerak, para penumpang biasanya a­kan bersorak karena me­mang tidak terbiasa meng­gunakan alat transportasi lama ini.

Yahdi, pengelola Wa­kanda menceritakan, du­lunya rakit di Kapalo Ban­da hanya digunakan untuk membawa kayu bakar o­leh masyarakat. “Kayu bakar di dapatkan dari hutan, lalu harus di bawa ke seberang sungai. De­ngan rakit membawa kayu bakar menjadi lebih mu­dah dan bisa lebih banyak ketimbang di gendong,” sebut pelatih karate ini. Sejak dibuka tahun 2016 silam, Rakit sudah mulai diperkenalkan kepada wi­sa­tawan yang berkunjung ke Wakanda.

”Viralnya cepat sekali. Semua orang yang naik rakit kami pasti berpose untuk dipotret temannya dari pinggir sungai, atau di atas rakit itu,” sebut salah seorang pentolan Satuan Tenaga Konselor (SA­NAK) pariwisata Sumbar ini. Rakit-rakit ini dikelola se­cara pribadi. “Yang punya adalah masyarakat disini. Jumlahnya ada 30 rakit. Hampir 30 orang pula yang mendapatkan manfaat da­­ri menyewakan rakit,” sebutnya. Para pengelola Wakanda hanya menjadi fasilitator untuk mem­per­kwenalkan rakit-rakit ter­sebut kepada wisa­tawan.

Setiap rakit disewakan seharga 20 ribu, jika me­makai pemandu sebagai operatornya dikenakan biaya tambahan Rp 10 ribu lagi. Jadi jika dalam satu hari 1  rakit disewa oleh satu kelompok pengun­jung saja, total uang yang dihasilkan oleh susunan bambu bernama rakit ini berhasil mencapai Rp 900 ribu. Sementara kata Gio, Humas Wakanda, untuk hari libur satu rakit bisa disewa lebih dari 5 kali. “Jika dikalkulasikan kem­bali dengan jumlah minimal penyewaan bisa ber­juta-juta rupiah hasilnya,” sebutnya.

Bukan orang biasa saja yang tertarik naik rakit di Wakanda, Artis-artispun tertarik. “Banyak artis lokal yang bikin video klip disini. Selebgram pun tidak sedikit. Umumnya mere­ka tertarik untuk mengam­bil gambar di atas rakit,” cerita Gio. Artis nasional yang pernah mencoba keasyikan berakit ria di Wakanda antara lain Vino G Bastian. Sementara, artis lokal diantaranya Thomas Arya, Kintani dan Ratu Sikumbang.

”Vino suka sekali naik rakit waktu itu. Sampai ngulang 2 kali. Katanya seru ketimbang naik ka­pal pesiar,” sebut Gio. Rakit juga sangat di­ge­mari oleh pasangan yang mau mem­buat foto atau video preweding. “Ka­tanya sih kesannya lebih romantis kalau pakai ra­kit,” terang Gio sambil tersenyum.

Wakanda hingga hari ini terus berkembang. Ber­­kat pengelolaan yang baik dan disiplin Standar Operational Prosedure yang diterapkan penge­lola, para pemuda lokal yang bekerja disini ber­hasil meraup penghasilan diatas Upah Minimum Regional tiap bulannya. Ini menggambarkan betapa pariwisata benar-benar berhasil mendatangkan manfaat hebat bagi eko­nomi. (***)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional