Menu

Cerita Mantan Pasien Covid 19, Mengajak Masyarakat Sadar Covid 19 di Sumatera Barat

  Dibaca : 114 kali
Cerita Mantan Pasien Covid 19, Mengajak Masyarakat Sadar Covid 19 di Sumatera Barat
kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah yang juga mantan pasien Covid-19

Hati kita terenyuh, naluri kemanusiaan kita terketuk dan kepedulian kita tergugah ketika minggu-minggu ini  mendengar berita di media maupun diskusi tentang upaya yang dilakukan bersama-sama untuk me­nu­runkan meningkatnya secara drastis kasus angka positif covid 19 di Sumatera Barat. Pertama 23 Juli 2021 diskusi SENARAI dengan tokoh-tokoh Ormas Islam Sumatera Barat yang juga mendengarkan ekspose dari Dirut RS M.Djamil Padang Yusirwan Yunus  yang me­maparkan kondisi RS M.Djamil Padang saat ini yang antara lain disebutkan  angka kematian pasien covid 19 naik 300 per­sen,pasien covid 19 yang sudah antrian masuk rumah sa­kit, pasien cocid 19 yang tertahan dalam kondisi sesak na­pas,­ jumlah kenaikan tempat tidur pasien covid 19 meningkat 400 persen serta RS M.Djamil hanya melayani pasien khusus covid 19.

Sementara pasien sakit parah lainnya dengan penyakit selain covid 19 dioper ke Rumah Sakit- Rumah Sakit Swasta lainnya di Sumatera Barat. Kita juga membaca berita utama media terbitan Sumatra Barat Rabu 4 Agustus 2021 dengan judul “Bantuan Mandek, Galang Do­nasi Labor FK Mencuat” serta berita Pasokan Oksigen di Sumatera Barat tinggal untuk satu hari lagi.

Tulisan ini tidak hendak mengomentari berita tersebut tetapi ingin melihat upaya-upaya mengatasi meningkatnya kasus positif covid 19 di Sumatera Barat dari perspektif mengajak ma­syarakat Sumatera Barat sadar akan covid 19.

Di samping tergugah,prihatin dan peduli terhadap penurunan covid 19 dari berita-berita yang disebutkan di atas,terpaparnya penulis oleh covid 19 bersama istri dan mertua yang komorbit sebagai penderita stroke mem­perkuat dan menambah do­rongan untuk melahirkan tulisan ini kepada pembaca,dimana Pada hari Jumat 23 Juli 2021 hasil swab PCR penulis resmi dikeluarkan oleh Laboratorium Universitas Andalas, penulis dinyatakan positif covid 19.Hal ini memang sudah penulis duga dari semula dimana penulis sudah demam sejak malam Jumat 16 Juli 2021.

Demam tinggi yang memang sangat menyiksa sekali  seluruh sendi terasa sangat nyeri seakan rasanya sendi ini mau lepas saja, sebatang badan sakit semua, serasa remuk randam seperti kita habis kecelakaan mobil yang membuat badan kita terhempas ke aspal, suhu badan panas yang tinggi, kepala sakit meng­hentak-hentak serasa ada duri besar yang menusuk-nusuk disekeliling kepala kita, kerong­kongan kering dan lidah terasa pahit dan dilengkapi pula de­ngan flu yang membuat ingus selalu meleleh dihidung kita.

Lengkaplah sudah rasanya penderitaan demam ini yang memang lain rasanya dari de­mam-demam biasa yang pernah penulis alami,dimana malamnya ketika tidur kita mengigau dan perasaan serta ahlusinasi me­layang kemana-mana ,banyak yang teringat yang bukan-bukan mimpi yang menakutkan dan yang paling menakutkan seolah-olah malaikat maut sudah meng­hampiri kita.Hal ini berlansung lebih kurang selama empat hari sampai Selasa 20 Juli 2021 saat jatuhnya Idul Adha 1442 H.

Pada hari Selasa inilah pikiran saya mulai menerawang dan ingat akan covid 19 dimana salah cirinya mulai hilangnya penciuman saat saya mencium minyak kayu putih yang mana dalam kondisi normal baunya sangat menyengat,namun pada saat itu tidak terbau sama sekali.

Besoknya hari Rabu 21 Juli 2021 saya lansung swab PCR di Puskesmas Seberang Pa­dang Kecamatan Padang Se­latan lewat bantuan salah se­orang keluarga yang bekerja disana lansung bisa swab pada kesempatan pertama jam.10.00 pagi.Jumat 23 Juli 2021 hasil swab PCR keluar saya di­nyatakan positif covid 19. Tanpa berpikir panjang Sabtu 24 Juli 2021 melalui rujukan Puskesmas Seberang Padang dan dibantu juga oleh dokter anggota ke­luarga yang bekerja disitu,saya lansung screning di RS UNAND PADANG secara maraton pe­meriksaan labor dan rontgen hasilnya keluar hari itu juga saya direkomendasikan untuk isoman dan diberi obat untuk 6 hari lamanya.

Hari-hari isoman saya lalui dengan kondisi yang masih tetap demam yang memang agak berkurang dari demam 5 hari pertama dan selera makan patah dan apapun yang dimakan terasa pahit,namun harus tetap dipaksakan makan saran dari dokter karena covid 19 harus dilawan dengan meningkatkan imun melalui makanan yang kaya protein,banyak makan buah dan sayuran,banyak minum air putih,banyak mangkonsumsi vitamin C dan berjemur men­dapatkan vitamin D melalui sinar ultraviolet jam 10.00 sampai dengan jam 11.00 pagi serta berolahraga mengeluarkan keringat. Hari-hari isoman de­ngan kondisi demam dan tidak mau makan berlalu sampai hari ke 10 sejak demam dimulai  dimana pada hari ke 11 dan seterusnya demamnya mulai berkurang dan selera makan mulai terbuka dan rasa makanan yang dimakan mulai terasa enak.

Sampai akhirnya di hari ke 20 sejak demam atau hari ke 14 sejak positif covid kondisi benar-benar normal kembali,demam tidak ada lagi dan selera makan sudah normal kembali seperti sediakala seperti kita dalam keadaan sehat wal’afiat,dimana setelah dilakukan swab PCR saya dinyatakan negatif.Dan begitulah gambaran kita kalau terpapar covid 19 berserta siklusnya jika kondisi kita hanya suspect tanpa ada komorbit/penyakit bawaan. Dari penga­laman itu saya mengajak kepada pembaca semua agar kita se­mua sadar covid 19 karena kalau kita terpapar covid 19 dan ada komorbit situasinya akan sangat membahayakan dan bahkan ada yang sampai mati men­dadak akibat terlambat per­tolongan karena terlambat di bawa ke rumah sakit.

Kasus ini saya dapat inf­or­masi dari kerabat beberapa teman ada suaminya yang habis perjalanan merasa demam dan teman ini punya komorbit/pe­nyakit bawaan jantung. Demam lebih kurang seminggu ditahan saja dirumah karena malu kalau dibawa ke rumah sakit nanti dicap sebagai orang yang positif covid 19.

Akhirnya setelah semakin parah dan susah bernapas dibawa ke rumah sakit diukur saturasinya sudah  sangat rendah 35 dimana saturasi yang normal 95-100 ( saturasi adalah kadar tingkat pasokan oksigen ke paru-paru yang diukur de­ngan alat  oximeter). Dari komunikasi dengan beberapa teman-teman,kerabat dan juga dokter yang bekerja dirumah sakit juga banyak kasus kematian karena covid 19 yang dise­babkan terlambat penanganan karena penderita malu datang ke rumah sakit karena malu dicap sebagai pasien covid 19. Kasus kedua pasien yang  suspect covid 19 dan demam dengan ciri-ciri covid 19 yang tidak mau diswab dan hanya isoman dirumah yang hanya diputuskan sendiri . Secara medis pasien ini sebenarnya sudah positif covid 19. Untungnya pasien ini tidak berbahaya untuk kesehatan dirinya karena tidak komorbit, sehingga pasien ini sembuh dengan sendirinya dengan isoman di rumah makan obat yang kadang juga dibeli sendiri banyak makan vitamin, asupan gizi yang baik, banyak minum air putih, buah-buahan dan sayur ,berjemur ,istirahat yang cukup dan berolahraga.

Sehingga sehat kembali sesuai siklus selama 2 minggu atau 20 hari paling lama.Yang berbahayanya pasien ini tidak melakukan swab sehingga tidak diketahui pasien ini apakah sudah negatif covid 19 dan kembali beraktifitas  dan berbaur dengan banyak orang,yang berpotensi sebagai penular covid 19. Dan yang paling kasihan kita kalau yang tertular itu adalah masyarakat yang komorbit/punya penyakit ba­waan tentu mereka akan sangat menderita setelah tertular covid 19 dan berpotensi mati men­dadak kalau terlambat pe­na­nganan seperti yang telah diuraikan di atas.

Kasus berikutnya adalah rendahnya tingkat tracking terhadap orang-orang yang berkontak erat dengan orang yang positif covid 19.Kasus ini juga berbahaya karena orang-orang yang terkontak erat dengan yang positif covid 19 tapi tidak ditracking dan juga tidak diswab PCR namun orang -orang ini punya imun yang tinggi sehingga dia adalah Orang Tanpa Gejala/OTG yang selalu berkeliaran menularkan covid 19 kepada masyarakat yang mem­buat kasus positif meningkat dan jika tertular kepada orang yang imunnya rendah sehingga lang­sung suspect dan demam jadi penderita covid 19.Yang paling berbahaya adalah tertular ke­pada komorbit yang orang ini lang­sung terpapar covid 19 dengan kematian yang sangat tinggi.

Kasus berikutnya adalah rendahnya kesadaran masya­rakat dalam melaksanakan pro­kes seperti pakai masker, tidak cuci tangan dan tidak menjaga jarak dan selalu berkerumun yang kita saksikan kalau kita berada di masjid ketika shalat berjamaah maupun shalat jumat maupun ketika berada di fasilitas- fasilitas umum. Hendaknya ke­sadaran masyarakat ini harus  diupayakan selalu ditingkatkan melalui sosialisasi-sosialisasi yang masif kepada masyarakat.

Di samping itu jika sudah demam  dan suspect covid 19 apalagi yang sudah positif maka dirumah kita harus menyediakan stand by termometer pengukur suhu dan oximeter pengukur kadar pasokan oksigen ke paru-paru kita karena suhu sudah terlalu tinggi atau saturasi cen­derung turun dari normal kita harus segera bergegas ke rumah sakit untuk penanganan secara medis di rumah sakit.

Itu mungkin beberapa aja­kan yang bisa penulis sa­m­paikan melalui tulisan ini sebagai orang yang pernah merasakan menderitanya menjadi pasien covid 19 dan merasa sangat peduli agar covid 19 tidak dirasakan oleh orang-orang sesudah saya dan sangat ber­harap  rasanya cukup saya yang terakhir terpapar covid 19.Semoga saja doa kita ini dikabulkan oleh Allah Su­bha­nawata’ala,sehingga angka positif covid 19 di Sumatera Barat pada khususnya dan Indonesia pada umumnya dapat ditekan dan diturunkan. Semoga.(***)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional