Menu

Cegah Sampah ke Laut, Kubus Apung Dipasang di Bawah Jembatan Tamsis

  Dibaca : 453 kali
Cegah Sampah ke Laut, Kubus Apung Dipasang di Bawah Jembatan Tamsis
JERAT SAMPAH— Kubus apung sudah terpasang di bawah jembatan Tamsis, Jumat (17/7). Alat ini akan menjerat sampah-sampah yang hendak menuju hilir sungai.

BALAI BARU, METRO
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang sudah memasang kubus apung di Banda Bakali, tepatnya di bawah jembatan dekat kawasan pendidikan Taman Siswa (Tamsis), Jumat (17/7). Kubus apung ini dipasang untuk mencegah agar sampah tidak mengalir ke arah muara atau laut.

“Dengan sudah dipasangnya, Jumat (17/7), maka kubus apung ini langsung difungsikan. Sampah yang tersekat di kubus apung ini akan dikumpulkan petugas yang menggunakan biduak pincalang. Setelah itu, sampah itu dinaikkan ke kontainer,” ujar Kepala DLH Kota Padang, Mairizon.

Ia menambahkan, pengambilan sampah yang berada di kubus apung ini akan dilakukan melihat situasi dan kondisi. Namun begitu terangnya, biduak pincalang yang merupakan perahu milik DLH ini selalu berada tiap hari di kawasan Banda Bakali tersebut. Biduak ini membersihkan sampah-sampah yang berada di sepanjang Banda Bakali, seperti hingga ke kawasan GOR H Agus Salim.

Mairizon menjelaskan, jika volume air Banda Bakali meningkat, maka kubus apung ini tidak akan terbawa arus. Kubus apung juga naik dan tetap berada di atas permukaan air. “Ia menggunakan seling dan secara otomatis akan naik kalau air naik,” tukas Mairizon.

Mairizon mengungkapkan, tahun ini, kubus apung hanya dipasang di satu titik saja dari rencananya tiga titik. Hal ini dikarenakan anggarannya dipotong untuk penanganan Covid-19. Sebab, untuk satu kubus apung saja, dibutuhkan dana senilai Rp400 juta. Tahun depan pun, DLH juga berencananya memasang kubus apung di satu titik saja.

“Rencananya awal kita, kubus apung ini dipasang tiga, di Batang Arau ada dua dan satu dekat Tamsis, Ternyata di Batang Arau tak terlaksana, karena dana tak cukup,” ujar Mairizon.

Di berita sebelumnya, Mairizon mengungkapkan, kubus apung ini nantinya akan menjebak atau menjerat sampah-sampah yang hendak menuju hilir sungai. Pada saat sampah ini terkena jebakan, langsung diangkat ke daratan, sehingga sampah tidak sampai ke laut.

Selama ini, di sepanjang Pantai Padang banyak ditemukan sampah usai hujan. Menurut Mairizon, adanya sampah di kawasan pantai ini merupakan siklus alam. Sampah-sampah yang ada di pantai itu berasal dari sampah-sampah yang tertumpuk di palung-palung laut dan bersumber dari daratan dan lautan.

Ia menjelaskan, sampah dari hulu ke hilir didorong oleh air dan masuk ke palung laut. Dan itu bukan satu bulan, dua bulan, tapi tahunan lamanya. Ini dapat dibuktikan, dimana saat hujan debitnya besar, pasang naik, sampah-sampah yang didorong ke pantai itu dalam bentuk sudah hancur.

“Ini menandakan sampah bulanan atau tahunan yang didorong kembali ke daratan,” tegasnya. (uki)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional