Close

Camat Payakumbuh Timur Turun Tangan Selesaikan Persoalan Fasum

FASUM—Camat Payakumbuh Timur Dewi Novita bersama aparat terkait mencoba menyelesaikan polemik fasum bersama Polri, TNI dan Lurah dan tokoh masyarakat setempat.

TIAKAR, METRO–Camat Payakumbuh Timur, Dewi Novita, men­coba mengurai benang kusut polemek Fasilitas Umum (Fasum) berupa Jalan di RT 02/05 Kelurahan Tiakar, Kecamatan Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh, yang terus terjadi sejak tahun 2015 silam.

Camat didampingi pihak kelurahan, Satpol-PP serta pihak keamanan Polisi (Bhabinkamtibmas.Red) dan anggota POM TNI dari Sub Denpom 1/4 Paya­kumbuh, pihak Kecamatan berencana melakukan pengukuran tanah tersebut pada Selasa (22/2) sore.

Selain Camat Payakumbuh Timur, Lurah, juga hadir sejumlah tokoh masyarakat setempat. Menurut Camat, persoalan tanah jalan tersebut telah terjadi sejak tahun 2015 dan terus berlarut-larut, sehingga ia berniat untuk menyelesaikan hal itu agar tidak lagi jadi persoalan kedepannya. Menurut Camat, salah seorang warga Syawal, menyebut itu adalah tanah miliknya. Padahal, sebut Camat, Fasum itu dulunya sudah jalan sawah. Karena lokasi itu dulunya memang daerah persawahan.

“Masalah ini sudah terjadi sejak tahun 2015 lalu dan berlarut hingga saat ini, kita sudah mencoba menyelesaikan hal ini secara baik-baik namun belum menemukan titik temu. Jalan yang sekarang jadi masalah bukanlah tanah pribadi yang dijadikan fasilitas umum, namun memang dari dahulunya adalah jalan,” sebut Camat Payakumbuh Timur, Dewi Novita, Selasa (22/2) kepada wartawan.

Mantan Camat Lampasi Tigo Nagari (LATINA) itu juga membantah bahwa tanah (jalan.red) yang sekarang di klaim Syawal sebagai miliknya adalah tanah yang diambil untuk dijadikan jalan, sebab dari dahulunya jalan itu sudah ada meski berupa jalan sawah. “Dari dahulunya itu jalan sawah, dan tapi setelah dibukanya perumahan oleh  developer, sah-saja dijadikan jalan,” tutupnya.

Sementara Syawal saat dikonfirmasi me­nye­butkan bahwa tanah/jalan yang jadi masalah itu adalah miliknya sesuai sertifikat jual beli tanah yang ia punya, tanah tersebut (jalan.red) menyatu dalam sertifikat yang ia miliki. Atas kondisi itu ia mengaku bakal berkoordinasi dengan Kantor Pertanahan (ATR-BPN.red)

“Benar, tanah saya yang terpakai untuk Fasum berupa jalan, itu milik saya menyatu dengan sertifikat. Dulunya tidak Fasum namun dibuat jadi Fasum,” akunya kepada wartawan. (uus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top