Close

Bupati Solsel Gowes ke Simancuang, Hadiri Tradisi Mambantai Kabau

GOWES SIMANCUANG— Bupati Solsel Khairunas gowes ke Simancuang dalam menghadiri tradisi membantai kabau godang pertanda awal turun ke sawah.

SOLSEL, METRO–Turun ka sawah, yang diawali dengan tradisi mem­bantai kabau nan gadang ke-60 digelar warga Jorong Simancuang Nagari Alam Pauh Duo Kecamatan Pauh Duo, Sabtu (28/5). Tradisi mambantai kabau nan ga­dang merupakan kegiatan tahunan yang menandakan akan dimulainya tanam padi atau turun kesawah di Solok Selatan.

Terlebih dahulu, dilakukan upacara “mambantai kabau nan gadang” (me­nyembelih kerbau besar) serta makan bersama berhidang dengan “jamba su­rang-surang”, dihadiri seluruh Niniak Mamak/Penghulu adat serta anak kemenakan

Sebelum makan bersama, Bupati Solok Selatan H Khairunas di hadapan warga Simancuang menjelaskan, beberapa pemba­ngu­nan di Solok Selatan pada Tahun 2022, salah satunya peningkatan jalan menuju Simancuang telah dianggarkan sebesar 4.5 M, yang mana saat ini dalam pro­ses pelelangan.

Terkait blankspot di Simancuang, saat ini juga sedang diupayakan. Untuk itu, Bupati menghimbau warga, melalui perangkat jorong dan nagari untuk dapat menghibahkan ta­nah 10X10 M untuk pembangunan tower.

Terkait tradisi membantai kabau nan gadang, pertanda dimulainya turun ke sawah, Bupati berpesan agar dalam dalam proses penanaman padi minimal dilakukan dua kali dalam setahun, kalo bisa lebih.

“Pemerintah daerah akan memberikan bantuan pupuk untuk warga Simancuang, diharapkan produksi padi lebih besar di Simancuang, sehingga bisa menjadi daerah penyangga penyumbang padi di Solok Selatan,” sebut bupati.

Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Edison, menyebutkan tradisi membantai kabau nan ga­dang ini merupakan kegiatan yang dilakukan setiap tahun, hari ini merupakan yang ke-60.  “Tradisi ini merupakan kesepakatan akan dimulainya pengolahan lahan persawahan, yang tujuannya antara lain untuk menyerentakkan me­nanam padi di sawah agar terhindar dari hama tanaman,”  ucap Edison.

Biaya untuk pembelian kerbau yang disembelih berasal dari swadaya ma­syarakat, yang bergotong royong mengumpulkan iuran sehingga terselenggaranya acara ‘’mambantai’’ ini.

Untuk diketahui, Jorong Simancuang juga terkenal dengan hutan desa atau hutan nagari yang mendapat perhatian dunia internasional. Di mana perwakilan dari 13 negara yang berasal dari 3 benua me­ngunjungi daerah tersebut pada 2014 silam.

Apresiasi tersebut diterima, dimana masya­rakat Simancuang mampu mengelola dan menjaga hutan yang tersisa secara alami sehingga memberikan dampak positif bagi warga dalam peningkatan ekonomi. Pengelolaan hutan oleh masyarakat tradisional melalui hutan nagari jauh lebih baik, karena kealamian hutan dapat terjaga dengan baik.

Ketua DPRD Solok Selatan, Zigo Rolanda mengapresiasi masyarakat Simancuang, yang selalu mempertahankan tradisi dengan mengagendakan turun ke sawah dengan membantai ternak. “Ini merupakan wujud syukur kepada Allah SWT, semoga akan dimulainya tanam padi ke sawah, berjalan sesuai yang diharapkan sampai panen nantinya,” ucap Zigo.

Kadis Pertanian Solok Selatan, Drh Nurhayati menerangkan, bahwa mu­sim tanam Jorong Simancuang dimulai pada bulan Mei, dengan lahan pertanian padi seluas 198 Ha, dimulai dengan pembibitan, penanaman, penyisipan, pemupukan pertama dan kedua serta panen diperkirakan pada September sampai Oktober 2022.

Pada acara ini, Pemkab Solok Selatan juga memberikan bantuan bibit kepada warga Simancuang. Selain itu juga diserahkan sertifikat beras organik kepada kelompok Tani Hamparan Usaha Bersama, Bantuan sembako dari Baznas Solok Selatan dan lainnya. Turut hadir Wabup H Yulian Efi, Kepala OPD, Forkopimda, FTjSLP, dan komunitas sepeda. (rel/jes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top