Menu

Budidaya Ikan Kerapu Mulai Dilirik Perbankan

  Dibaca : 104 kali
Budidaya Ikan Kerapu Mulai Dilirik Perbankan
BUDIDAYA IKAN— Kepala DKP Sumbar, Yosmeri bersama Vice President Head of Network Service PT BNI (Persero) Tbk Padang Region Office, Iwan Affandi, meninjau lokasi budidaya ikan kerapu di kawasan Mandeh, Minggu (13/10)

PADANG, METRO – Budidaya ikan kerapu di kawasan Mandeh terus menunjukkan perkembangan yang positif menggerakan ekonomi masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan ekspor ikan ini ke Hongkong sebanyak 16,3 ton, Kamis (10/10) lalu.

Perkembangan budidaya ikan kerapu ini ternyata mendapat perhatian dunia. Salah satunya dari PT BNI (Persero) Tbk Padang, yang tertarik untuk menyalurkan program KUR kepada pelaku usaha budidaya perikanan tersebut.

Vice President Head of Network Service PT. BNI (Persero) Tbk Padang Region Office, Iwan Affandi, Minggu (13/10) mengatakan, selama ini KUR lebih difokuskan ke bidang pertanian dan pedagangan. Ke depan seiring berkembangnya budidaya kerapu, pihaknya pun mulai melirik petani budidaya kerapu ekspor.

“Iya, kemarin kami menyaksikan ikan kerapu di Mandeh di ekspor ke Hongkong. Dunia perikanan harus didorong agar terus berkembang. Apalagi yang sudah di ekspor ke luar negeri,” kata Iwan Affandi.

Menurutnya, seperti apa dukungan BNI untuk bisnis budidaya perikanan akan dibahas bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dinas Kelautan dan Perikanan, Provinsi Sumbar serta pihak terkait lain. Tujuannya agar diketahui berapa kebutuhan yang diperlukan para petani dalam mengembangkan budidaya kerapu dimaksud.

Dijelaskan Iwan Affandi, bukan hanya modal yang akan disalurkan untuk petani budidaya kerapu ekspor tapi BNI juga akan memberikan pendampingan manajemen pengelolaan keuangan.

”Nanti kami diskusikan dengan pihak terkait, pola seperti apa yang cocok untuk budidaya kerapu ekspor. Sebab jika memakai sistim biasa seperti bidang pertanian tidak cocok. Mengingat masa panen kerapu mulai dari 8 bulan hingga 1,5 tahun,” ujarnya.

Pihaknya ingin melihat selama masa pemeliharaan apakah petani sanggup membayar angsuran ke bank dan lainnya. Kemudian, pihaknya juga akan membicarakan tentang masa panen petani budidaya kerapu agar jangan serentak.

“Jadi diharapkan setiap bulan itu ada panen. Diatur lah masa pemeliharaan oleh petani jangan serentak semua. Harapannya, agar petani tidak kesulitan dalam membayaran asuran tiap bulan,” katanya lebih jauh.

Sebagai salah satu bank pemerintah, BNI akan membantu masyarakat khususnya petani keramba kerapu ekspor. Sebab dengan ekspor akan menghasilkan devisa bagi daerah.

Sementara, untuk penyaluran KUR sendiri di 2019 oleh BNI ditagertkan bisa tercapai 100 persen. KUR untuk Sumbar tahun ini nilainya 400 miliar. Jumlah itu akan terus meningkat, mengingat pencapaian target pada 2019, yang teralisasi sesuai harapan.

Selama penyaluran KUR untuk bidang pertanian dan perdagangan, kata Iwan Affandi, tak ada kendala dari masyarakat sebagai nasabah. Ini karena KUR merupakan program pemerintah, dimana bunga pinjaman disubsidi pemerintah. Nasabah dikenakan bunga 7 persen per tahun.

Program KUR terdiri atas mikro dan retail. Dimana pinjaman bagi usaha mikro sebesar Rp25 juta perorang dan Rp500 juta untuk ritail.

Ekspor Kedua

Kepala DKP Provinsi Sumbar, Yosmeri mengatakan ekspor kerapu ke Hongkong merupakan ekspor kedua selama 2019. Ekspor pertama berlangsung sekitar lima bulan lalu, sebanyak 20 ton. Tujuannya juga ke Hongkong.

“Jenis kerapu yang diekspor adalah cantik dan bebek. Harga kerapu cantik 110 ribu per Kg dan kerapu bebek Rp470 ribu per Kg.

Disebutkannya, selain Hongkong, ekspor kerapu juga dilakukan ke sejumlah negara seperti Singapura. (fan)

 

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional