Close

Bocah SD Diperkosa 4 Sopir Truk di Kota Padang, Dari Malam hingga Pagi Digilir, Korban Diberi Uang Rp 50 Ribu dan Diancam

PERLIHATKAN BUKTI— Kapolresta Padang, Kombes Pol Imran Amir bersama Kasatreskrim Kompol Dedy memperlihatkan barang bukti uang yang diberikan sopir truk kepada korban usai diperkosa.

PADANG, METRO–Malang benar nasib bocah perem­puan yang masih berstatus pelajar sekolah dasar (SD) warga Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman ini. Di usia­nya yang masih belia, Bunga (nama samaran-red) sudah dijadikan “budak nafsu” oleh empat sopir truk di kawasan Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar).

Parahnya lagi, korban yang saat ini berusia 13 tahun dibawa kabur tanpa sepengetahuan oleh orang tua korban, lalu digilir se­cara beragantian oleh em­pat sopir truk, sembari me­nunggu bongkar muat di Pelabuhan Teluk Bayur. Pe­merkosaan dilakukan ke­em­p­at sopir itu dalam truk dari malam hingga pagi hari.

Agar aksinya tak ter­bongkar, sopir-sopir truk itu memberikan uang Rp 50 ribu kepada korban dan juga mengancam korban agar tutup mulut. Setelah puas melampiaskan nafsu bejatnya kepada korban, keempat sopir itu kemu­dian mengantar korban ke rumahnya dan menyerah­kan korban kepada orang tuanya.

Hanya saja, karena me­rasa ada yang aneh de­ngan kondisi korban yang sudah hilang satu hari satu malam, orang tua korban pun mendesak korban un­tuk menceritakan apa yang telah dialaminya saat diba­wa kabur oleh sopir truk tersebut. Dengan lu­gunya, korban menceri­takan per­buatan keempat sopir truk itu terhadap dirinya.

Mendengar pengakuan korban, orang tua korban seketika emosi dan lang­sung melapor ke Polresta Padang. Tak butuh waktu lama, Tim Opsnal Sat­re­s­krim Polresta Pa­dang yang sudah mengan­tongi bukti kuat, langsung menangkap keempat sopir truk ber­inisial RS (29), RF (19),  BA (17), dan MR (17).

Kapolresta Padang, Kom­bes Pol Imran Amir saat konferensi pers peng­ung­kapan kasus cabul ter­sebut mengatakan, aksi pemer­kosaan terhadap kor­ban yang masih be­rumur 13 tahun ini berawal ketika korban dibawa kabur oleh tersangka RS dan di­ba­wa ke Pelabuhan Teluk Bayur.

“Rencananya, sopir truk ini menunggu muatan truk pada Senin malam (7/2). Namun ternyata sem­bari menunggu muatan truk, korban mendapatkan kekerasan seksual. Ter­sang­ka RS memperkosa korban di dalam truk seki­tar pukul 19.00 WIB,” kata Kombes Pol Imran Amir didampingi Kasatreskrim, Kompol Dedy Adriansyah Putra, Rabu (9/3).

Ditambahkan Kombes Pol Imran, setelah korban diperkosa oleh tersangka RS di dalam truk, korban selanjutnya dibawa lagi ke dalam truk yang dikemu­dikan tersangka RF. Di da­lam truk itu, tersangka RF juga memperkosa korban dengan memberikan uang Rp 50 ribu.

“Jadi tersangka RS dan RF ini setelah memperkosa korban, keduanya membe­ri­kan uang Rp 50 ribu agar korban tidak bercerita ke­pada siapapun. Tapi pende­ritaan korban belum ber­akhir. Korban kembali di­pin­dahkan ke dalam truk tersangka BA dan MR,” ungkap Kombes Imran.

Menurut Kombes Pol Imran, tersangka BA dan MR merupakan anak yang berhadapan dengan hu­kum atau masih di bawah umur masing-masing berusia 17 tahun. Karena sudah larut malam, korban tertidur di dalam truk yang dikemu­dikan BA dan MR.

“Hingga hari Selasa pagi (8/3) setelah korban bangun, diperkosa lagi oleh tersangka BA. Setelah sele­sai, dibawa lagi ke teman­nya satu lagi yaitu ter­sangka MR pada pukul 09.00 WIB, dan dilakukan lagi persetubuhan terha­dap korban,” jelasnya.

Kombes Pol Imran me­ngungkapkan, dua orang anak berhadapan dengan hukum ini sempat melaku­kan ancaman terhadap kor­ban. Kasus ini terungkap setelah orang tua korban kehilangan anaknya.

“Ketahuan dari orang tua korban kehilangan anak­nya. Satu hari satu malam anaknya tidak pulang. Dicari anaknya siapa yang bawa, ternyata dibawa satu orang tersangka ini. Dari Pela­buhan Teluk Bayur, dibawa anak ini oleh keempat ter­sangka ke Batang Anai pulang. Saat itu orang tua belum tahu bahwa anak­nya sudah disetubuhi oleh para tersangka,” sambung Kom­bes Pol Imran.

Dikatakan Kombes Pol Imran, orang tua korban kemudian curiga dan me­nanyakan apa yang terjadi terhadap anaknya. Dari cerita anaknya kemudian kasus ini dilaporkan ke Polresta Padang lantaran terjadi di wilayah hukum Kota Padang.

Tak berselang lama, kasus ini dapat diung­kap­kan dan para tersangka berhasil ditangkap. Imran menegaskan, semua ter­sangka mulai dari orang de­wasa hingga anak ba­wah umur diproses hukum berlaku.

“Dua orang tersangka dewasa sudah dikenal kor­ban. Karena korban berada di lingkungan mangkal truk di Batang Anai atau tempat standby atau tunggu truk pergi ke Padang,” tuturnya.

Ditegaskan Kombes Pol Imran, para pelaku saat ini telah berada di Mapolresta Padang untuk memper­tang­gung jawabkan per­bua­tannya, menurut Ka­polres, kedua pelaku yang telah berusia dewasa te­rancam dijerat dengan pasal 81 ayat 2 jo pasal 76D UU RI no 17 tahun 2016 tentang penetapan pera­turan pe­merintah peng­ganti UU no 1 tahun 2016, tentabg pe­rubahan kedua atas UU no 23 tahun 2002 tentang UU perlindungan anak.

“Sedangkan bagi pela­ku yang telah ditetapkan sebagai ABH, mereka te­rancam dijerat dengan dengan pasal 81 ayat 2 jo pasal 76D UU RI no 17 tahun 2016 tentang pene­tapan peraturan pemerin­tah pengganti UU no 1 ta­hun 2016, tentabg peruba­han kedua atas UU no 23 tahun 2002 tentang UU perlindungan anak. Jo pa­sal 1 ayat 3 UU RI no 11 tahun 2012, tentang sistem peradilan pidana anak,” tutupnya. (rom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top