Close

BMKG Sinkronkan Jam Gadang dengan Standar Waktu Nasional

SINKRONISASI WAKTU— Walikota Bukittinggi Erman Safar bersama Kepala BMKG Padangpanjang Suaidi Ahadi usai melakukan sinkronisasi waktu Jam Gadang dengan standar waktu nasional, Selasa (20/9).

BUKITTINGGI, METRO–Badan Metreologi Klimatologi dan Geofisika (BKMG) bersama Pemerintah Kota Bukittinggi, sinkronkan waktu Jam Gadang dengan standar waktu nasional, kegiatan ini dilaksanakan secara resmi di Taman Jam Gadang, Selasa (20/9).

Kepala BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi me­ngatakan BMKG memiliki tupoksi untuk penyesuaian standar waktu nasional termasuk penyesuaian waktu Jam Gadang yang menjadi rujukan di kota wisata.

”Jam Gadang seba­gai­mana kita ketahui, merupakan pusat Kota Bukittinggi yang sekaligus menjadi salah satu rujukan bagi masyarakat Bukittinggi khususnya untuk melihat dan menyamakan tanda waktu, untuk itu standar waktu di Jam Gadang harus selalu merujuk ke standar nasional, sehingga kita lakukan sinkroni­sasi,”ka­tanya menjelaskan.

Ia menyampaikan, bah­wa untuk sinkronisasi waktu, masyarakat juga dapat mengakses www.jam. bmkg.go.id.

Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar mengapresiasi perhatian BMKG yang telah melakukan penyesuaian waktu Jam Gadang dengan standar nasional. Sehingga waktu yang dilihat masyarakat melalui Jam Gadang, merupakan waktu yang benar dan sesuai standar nasional.

”Terima kasih kami ucap­kan pada BMKG, Jam Gadang ini adalah generator kota, semua orang memperhatikan Jam Gadang sebagai magnet dan juga tentunya penanda waktu terbesar di Sumbar,”katanya.

Ia mengatakan, penyinkronan tanda waktu Jam Ga­dang akan diikuti oleh mas­yarakat khususnya SKPD agar tidak terjadi kesalahan dalam operasi kerja.

”Jika ada kesalahan waktu pada Jam Gadang, tentu akan banyak juga yang salah, nanti seluruh SKPD juga harus sinkronkan waktunya agar semua sama. Kita setting ulang nanti semua, termasuk petugas di Jam Gadang juga harus rutin melakukan pengecekan,”ujar Wako.

Seperti diketahui, Monumen Jam Gadang, yang tingginya 26 meter, dirancang oleh arsitek berdarah Minang bernama Jazid Sutan Maruhun bersama Ra­sid Sutan Gigi Ameh dan selesai dibangun tahun 1926.

Ketika itu Sekretaris Kota Rook Maker menda­pat hadiah berupa jam berukuran besar dari Ratu Belanda dan kemudian me­merintahkan pembuatan bangunan untuk menopangnya.

Meski didatangkan dari Belanda, jam itu dibuat di Jerman. Baja penopang mesinnya bertuliskan “Reck­ling­hausen-1926”. Recklinghausen adalah nama satu distrik di Jerman.

Mesin Jam Gadang terdiri atas roda bergerigi yang saling terhubung dan disangga oleh plat besi. Mesin jam, yang terlindung dalam lemari kaca, terhubung dengan lonceng besar menggunakan kawat baja

Bagi warga Bukittinggi, Jam Gadang adalah salah satu kebanggaan, bangu­nan itu dan area sekitarnya menjadi tempat tujuan utama seluruh wisatawan dari berbagai daerah dalam dan luar negeri. (pry)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top