Menu

Bisnis UMKM Perajin Songket Alami Kemunduran

  Dibaca : 384 kali
Bisnis UMKM Perajin Songket Alami Kemunduran
TENUN SONGKET— Seorang ibu muda melakukan pengerjaan tenunan songket, yang dalam kondisi pandemi Covid-19 bisnis tenunan songket ini mengalami kemunduran.

SAWAHLUNTO, METRO
Di tengah situasi pandemi Covid-19 saat ini yang belum berakhir, hal ini berimbas kepada menurunnya daya beli masyarakat diakibatkan perekonomian dari masyarakat yang rendah. Sebab ada beberapa sektor penghasilan masyarakat yang stagnan bahkan mundur, misalnya bisnis UMKN dari pengrajin songket dan pedagang songket.

Hal ini benar benar terasa para pedagang songket di Kota Sawahlunto. Menurut pengakuan dari Ellen Songket bahwa bisnis songketnya mengalami keemunduran bahkan mendekati kehancuran. “Sebab sebelum masa pandemi Covid- 19 tahun lalu penjualannya bisa mencapai Rp 50 juta pertahun, tetapi sejak pandemi Covid -19 ini untuk mencapai penjualan Rp10 juta saja sulit,” ujarnya.

Ditambah lagi karena rendahnya daya beli masyarakat, sehingga terjadi over stock, dan pasokan dari pengrajin songket tidak sanggup di order, akibatnya para pengrajin menjual sendiri produk songketnya kepada pemasok yang ada di Bukittinggi, Padang, dan luar Sumbar seperti Pekanbaru dan Medan.

Hal senada juga diungkapkan salah seorang pedagang songket lainnya Cici Desalucci, Songket bahwa dia mengalami kesulitan dalam menjual barang dagangan songketnya. Selain daya beli masyarakat rendah ditambah tidak adanya promosi promosi dari dinas terkait mengenai songket ini. Menurutnya songket Silungkang adalah Icon Kota Sawahlunto kenapa kurang diekspise lagi. Dia sangat berharap agar ada lagi iven- ven nasional di Kota Sawahlunto seperti Sisca yang bisa mendongkrak penjualan songket macam beberapa tahun sebelumnya.

Walikota Sawahlunto Deri Asta mengklarifikasi atas harapan dari pedagang songket dan pengrajin songket. Menurutnya dia sangat menyetujui songket Silungkang adalah Iconik Kota Sawahlunto, tetapi dia juga menyadari dengan kondisi pandemi Covid- 19 ini menyebabkan penurunan dari penjualan songket ini.

Dan disinggung mengenai iven-iven nasional untuk tahun ini, dia menyatakan bahwa untuk simfest memang ditiadakan, sebab termasuk pemborosan anggaran dan tidak meningkatkan perekonomian. “Tetapi iven nasional Sisca saat ini telah masuk dalam 100 Wonderfull Indonesia, sehingga anggaran dananya telah diambil alih oleh Kementerian Pariwisata jadi artinya kita menunggu informasi selanjutnya dari pusat,” kata Deri.

Kepala Kadin Al Kautsar Akbar menyayangkan, kemerosotan dari pemasaran songket yang merupakan Icon Kota Sawahlunto. “Sudah menjadi ciri khas dari kota Sawahlunto adalah tenunan songket yang sudah melegenda dan turun temurun bukan saja menjadi profesi tapi budaya masyarakatnya yang selalu memakai songket pada acara adat dan acara besar lainya,” katanya.

Diakuinya, harga jual songket memang lebih mahal dari harga baju atau pakaian lainnya, itu karena pembuatannya yang secara tradisional. Tetapi pihaknya sebagai Ketua Kadin juga telah mengusulkan kepada instansi terkait untuk memberikan arahan dan pelatihan agar pihak Pemko Sawahlunto memberikan solusi atau inovasi terbaru agar songket bisa dimodifikasikan dengan busana atau aksesoris lain macam batik. Sehingga harga jualnya dapat bersaing dan terjangkau dengan masyarakat.

Kadis Koperindag Marwan mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat ini setelah adanya perubahan anggaran yang disahkan anggota DPRD Sawahlunto, akan mengadakan pelatihan kepada pengrajin dan pengusaha songket yang disebut pelatihan diversifikasi (artinya pelatihan terhadap songket dan turunannya), untuk mendongkrak penjualan songket dan mempromosikan songket. (cr2)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional