Menu

Biografi Prof Dr Achmad Mochtar Diluncurkan, Hasril Chaniago: Ilmuwan Kelas Dunia dan Pahlawan Kemanusiaan

  Dibaca : 104 kali
Biografi Prof Dr Achmad Mochtar Diluncurkan, Hasril Chaniago: Ilmuwan Kelas Dunia dan Pahlawan Kemanusiaan
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno didampingi Kadisbud Sumbar Gemala Ranti menyerahkan buku biografi kepada keluarga Achmad Mochtar.

PADANG, METRO–Penulis Buku Biografi Prof Achmad Mochtar, Hasril Chaniago mengatakan, Achmad Mochtar lahir di di Bonjol, Pasaman, bersuku Piliang (1891-1945). Achmad Mochtar telah melangkah jauh menjadi ilmuwan kelas dunia. Disertasi doktornya di Belanda telah menggugurkan hipotesis penyebab ‘demam kuning’ penemuam Prof. Hideyo Noguchi, ilmuwan hebat Jepang yang enam kali dinominasikan pemenang Hadiah Nobel Kedokteran.

“Puncak reputasi Mochtar ialah pribumi Indonesia pertama yang menjadi Direktur  Lembaga Eijkman. Kini namanya diabadikan menjadi nama RSUD Provinsi Sumatra Barat di Bukittinggi,” tulisnya dalam laman facebooknya.

Christiaan Eijkman, katanya, pendiri lembaga yang kini bernama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, adalah pemenang Hadiah Nobel Kedokteran 1929 berkat penemuannya atas penyakit beri-beri dan konsep vitamin B1 sebagai obatnya. Pada masanya, Lembaga Eijkman yang berdiri di Batavia 1888 adalah lembaga riset untuk penyakit-penyakit tropis paling terkemuka di dunia. Di lembaga itulah Achmad Mochtar berkarier sebagai satu-satunya orang pribumi di antara sekitar selusin ilmuwan Belanda, bahkan Mochtar berhasil menjadi direkturnya.

“Sebelum mencapai puncak kariernya di dunia ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kedokteran, Achmad Mochtar telah pula berjasa dalam “Perang Malaria” di Tapanuli dan ‘Perang Lepra’ di Jawa Tengah bersama Prof. Dr. Sardjito,” katanya.

Hasril menjelaskan, hidup Mochtar berakhir tragis, karena dirinya dijadikan tumbal oleh pemerintah pendudukan Jepang dengan tuduhan menyabotase vaksin maut Jepang yang membunuh ratusan (Bung Karno memyebut puluhan ribu) romusha dalam Tragedi Romusha Klender 1944.

“Mochtar dieksekusi pancung oleh Kenpeitai Jepang 3 Juli 1945. Beliau merelakan nyawanya demi membebaskan 18 sejawatnya yang ditanhkap dan disiksa Jepang hingga dua orang telah meninggal sebelumnya,” katanya.

Dia menyebut, tabir akhirnya terkuak. Berdasarkan penelusuran tak kenal lelah Prof. SangkotMarzuki (Direktur Lembaga Eijkman 1992-2014) dan sejawatnya Dr. J. Kevin Baird dari Amerika, terungkap bahwa Tragedi Romusha Klender adalah kejahatan perang Jepang paling keji selama masa pendudukan di Indonesia. Buku Prof. Sangkot & Dr. Baird terbit pertama kali di Amerika 2015 berjudul “War Crimes in Japan-Occupied Indonesia” dan edisi bahasa Indonesia terbit September 2020 lalu dengan judul “Eksperimen Keji Kedokteran Panjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman & Vaksin Maut Romusha 1944-1945”.

“Adakah Mochtar dibunuh Jepang hanya untuk menutupi kejahatan kemanusiaan dalam Tragedi Klender, atau juga ditambah karena dendam atas disertasi Mochtar yang telah menggugurkan hipotesis Prof. Hideyo Noguchi tentang demam kuning, sehingga vaksin yang sudah akan diproduksi oleh/dengan sponsor Rockefeller Foundation akhirnya batal (catatan: Potret Prof. Noguchi diabadikan dalam mata uang 1.000 yen Jepang),” katanya.

Alhamdulillah, Prof. Sangkot Marzuki dengan senang hati bersedia menjadi proof reader (pembaca ahli) naskah biografi Prof. Dr. Achmad Mochtar ini sekaligus menuliskan sebuah kata pengantar. Prof. Dr. Amin Subandrio, Direktur Lembaga Eijkman saat ini, pun dengan senang hati bersedia menulis Epilog (kata penutup) buku yang oleh Prof. Sangkot disebut akan menjadi “tandem” buku beliau dalam mengungkap kejahatan Perang Jepang dan Achmad Mochtar adalah korban utamanya.

“Terima kasih Prof. Sangkot, Prof Amin, dan Pemda Sumbar cq. Dinas Kebudayaan yang telah mensponsori penelitian dan penulisan buku ini. Terima kasih kepada Penerbit Yayasan Obor Indonesia yang telah bersedia menebitkannya,” katanya.

Buku ini, sebutnya, bisa diselesaikan dalam waktu kurang tiga bulan berkat kerja keras dan semangat dari kolega penulis Bapak Aswil Nazir dan Pak Januarisdi Didi, dibantu teman-teman yang hebat dari Dinas Kebudayaan dan penulis/peneliti independen: Helma Fitri Arbi Tanjung Donny Magek Piliang Eli Suryani, Rani Delvia, dan Riva Mairiska.

“Pekerjaan kilat ini (Prof. Sangkot menyebut tim peneliti dan penulis bekerja seperti orang kesurupan) berhasil juga berkat dukungan kolega, keluarga dan keturunan Prof,” katanya.

Achmad Mochtar seperti Prof. Asikin Hanafiah (putra Prof. M. Ali Hanafiah dan kemenakan Mochtar), Prof. Siti Chairani Proehoeman dan dr. Rubaiyat “Ruby” Proehoeman (cucu materilinial.Mochtar di Bonjol), serta dr. Doddy Partomihardjo (Ketua Forum Ikatan Alumni Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) yang telah membukakan akses kepada sumber-sumber penting di Jakarta (termasuk menghubungkan tim penulis dengan Prof. Sangkot dan Prof. Asikin.

“Kami juga berterima kasih kepala Prof. Dr. Gusti Asnan dan Ir. Akhir Matua Harahap yang menyumbangkan bahan-bahan penting berupa arsip koran sezaman yang berkaitan dengan kehidupan dan karier Achmad Mochtar. Hanya saja, karena penelitian dan penulisan kejar tayang ini (tapi insya Allah hasilnya tidak sembarangan) saya harus melupakan ‘parak limau’ selama sebulan,” kata Hasril Chaniago. (*)

Kepala Disbud Sumbar Gemala Ranti menambahkan, bahwa peluncuran biografi Prof. Dr. Achmad Mochtar “Pahlawan Kemanusiaan Indonesia” adalah bagian dari penelusuran sejarah Minangkabau, dan diharapkan memberi penegasan kelaikan Prof. Dr. Achmad Mochtar untuk segera diangkat sebagai pahlawan nasional.

“Melalui buku ini, kita berharap informasi dan kisah Prof. Dr. Achmad Mochtar tersebarluaskan kepada khalayak. Sebab, beliau adalah tokoh penting dan pejuang bangsa, yang sebelum kemerdekaan saja juga sudah mendapatkan penghargaan dan pengakuan tertinggi,” kata Gemala. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional