Menu

BI Sumbar Luncurkan QRIS di Pasar Raya Padang

  Dibaca : 574 kali
BI Sumbar Luncurkan QRIS di Pasar Raya Padang
DIRESMIKAN— Kepala BI Perwakilan Sumbar Wahyu Purnama menyerahkan cindera mata kepada Kadis Perdagangan Padang Endrizal saat acara peresmian implementasi QRIS di Pasar Raya Padang.

PADANG, METRO – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) wilayah Sumatera Barat resmi mengimplementasikan Quick Respon Indonesian Standard (QRIS) di Pasar Raya Padang sebagai pilot project, Kamis (12/12). Sistem pembayaran digital ini mempunyai keunggulan, mudah dan uang langsung masuk rekening sehingga tidak perlu lagi membawa uang tunai ke pasar.

Peresmian implementasi pembayaran QRIS ini dilakukan Kepala BI Perwakilan Sumbar Wahyu Purnama bersama Wakil Wali Kota Padang, Hendri Septa, beserta unsur pimpinan BNI, BRI, Mandiri dan Kepala Dinas Perdagangan Endrizal. Bahkan, penerapan sistem pembayaran nontunai itu mendapatkan respons yang positif dari pedagang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Wahyu Purnama A menjelaskan, QRIS merupakan sistem pembayaran nontunai yang terhubung kepada seluruh platform pembayaran digital. QRIS secara resmi akan efektif berlaku secara total mulai 1 Januari 2020 mendatang. Bank Indonesia mengembangkan QRIS sebagai implementasi visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025.

Wahyu menjelaskan, saat ini sudah banyak sistem aplikasi non tunai yang diluncurkan, baik itu kartu debit, kartu kredit, m-banking, dan lainnya yang bisa digunakan masyarakat. Kalau selama ini transaksi pakai uang kertas dan logam, sekarang banyak pakai non tunai.

“Saya optimis pasar raya sebagai pilot project pembayaran non tunai QRIS di Sumbar sukses dilaksanakan, melihat dari semangatnya para pedagang pasar raya. Dengan harapan bisa dicontoh oleh pasar lainnya di Sumbar,” jelas Wahyu.

Perkembangan teknologi informasi menuju Revolusi 4.0 yang semakin pesat menuntut adanya inovasi di seluruh sektor, tak terkecuali pada sistem pembayaran. Dewasa ini, aktifitas transaksi ekonomi sudah bergeser dari sistem tunai kepada sistem nontunai. Menyikapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia, sebagai lembaga berwenang menerbitkan QRIS guna menyatukan seluruh platform pembayaran dalam jaringan (online) ke dalam satu server database. Selain itu, juga bertujuan untuk mencegah dominasi salah satu platform tertentu dalam proses transaksi nontunai.

“QRIS diterbitkan agar tidak terjadi dominasi oleh salah satu produk pembayaran digital tertentu. QRIS bisa digunakan untuk seluruh aplikasi pembayaran termasuk mobile banking, pembelian melalui e-commerce dan sebagainya,” ujarnya.

Dia menambahkan, di negara – negara maju, sistem pembayaran digital atau nontunai sudah lebih dulu diterapkan. Keuntungan dari sistem ini, terutama sekali pada tingkat keamanan yang lebih tinggi daripada bertransaksi menggunakan uang tunai.

“Secara otomatis, meningkatnya transaksi nontunai akan mengurangi fisik uang kartal yang beredar. Sistem pembayaran digital tentu saja lebih aman daripada masyarakat harus membawa uang tunai pada saat berbelanja,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Padang, Hendri Septa mengungkapkan apresiasi kepada Bank Indonesia yang telah melahirkan inovasi sistem pembayaran digital yang terkoneksi kepada seluruh aplikasi pembayaran. Menurutnya, dengan sistem QRIS, masyarakat akan bertransaksi lebih mudah, cepat dan aman. Hanya dengan melakukan scan barcode, proses pembayaran transaksi atau jual beli sudah selesai dilakukan.

“Tanpa harus membawa uang tunai, tidak harus repot menghitung uang, mencari uang kecil untuk kembalian. Begitu mudahnya proses transaksi sehingga tidak merepotkan dan yang pasti, aman karena tidak harus membawa uang tunai ke pasar. Dengan sistem digitalisasi ini juga bisa mengetahui berapa nilai transaksi yang terjadi, baik secara harian, mingguan, bulanan, atau tahunan,” kata Hendri.

Hendri Septa tak memungkiri butuh waktu untuk menyesuaikan standar itu, dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Walaupun banyak keluhan masyarakat karena tidak terbiasa dengan sistem pembayaran non tunai ini. Seperti yang terjadi di kota besar di Indonesia, sempat heboh. Namun demikian, setelah kejadian ini, masyarakat menjadi terbiasa dan tidak ada lagi komplain.

“Sebenarnya kita hanya merubah pola pembayaran saja dari tunai ke non tunai. Padahal dengan transaksi tunai banyak resikonya. Nah sekarang dengan non tunai, membuat kita semakin mudah. Untuk itu saya mengajak pedagang pasar untuk memulai beralih kepada sistem pembayaran digital. Transaksi akan lebih mudah, cepat dan tidak repot dengan menghitung uang dan menghitung uang kembalian,” pungkasnya. (rgr)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional